Palai Bada Panganan Bergizi Murah Meriah dari Minangkabau

Memanggang Palai Bada
PADANG – Sudah menjadi rahasia umum, bahwa panganan yang terbuat dari ikan banyak mengandung protein dan gizi. Di Minangkabau tak lengkap rasanya jika mencicipi panganan ikan jika belum mencoba Palai.
Panganan berupa ikan yang diberi bumbu, lalu dibungkus dengan daun pisang dan dibakar dengan bara api. Palai Bada lebih terkenal dari Palai-palai lainnya. Berisi ikan bada (sejenis ikan teri), pembuatan dan bahan-bahan yang mudah alami membuat Palai ini jadi pilihan yang cerdas sebagai makanan berbuka puasa.
“Kami sudah berjualan selama tiga generasi di sini, Meri itu nama nenek, cara pembuatannya juga diajarkan secara turun temurun,” ujar seorang pedagang Palai Bada, Itis (33) di Padang, Sumatera Barat, Jum’at (19/6/2015) pagi.
Itis menjelaskan, bahwa Palai Bada miliknya memiliki perbedaan yang mencolok dengan Palai yang lainnya. “Palai Bada Meri” begitu masyarakat Ampang, Kota Padang menyebutnya. Dengan bahan-bahan yang masih alami, seperti, cabe yang digiling dengan tangan, bawang putih dan bawang merah yang. Juga digiling dengan tangan, parutan kelapa, jahe, daun semanggi dan  asam tunjuk. Bumbu dan bahan-bahan ini akan di campurkan menjadi satu lalu dibungkus dengan daun pisang yang segar.
“Proses pembuatannya dimulai sejak pukul 08.00 pagi, ikan dibersihkan dan dibuang kepalanya. Lalu dicuci dan dikeringkan, baru dicampurkan dengan bahan-bahan tadi dan didiamkan selama dua sampai tiga jam,” lanjut Itis.
Tidak ada pantangan bagi Palai untuk diisi dengan apapun, namun yang diisi dengan bada menjadi primadona.
“Ada juga yang berisi ikan asin, ikan kolam, dan tongkol. Tapi itu hanya sedikit yang kami buat, karena yang diminati pelanggan itu ya.. Palai Bada,” lanjut Itis yang merupakan generasi ketiga yang meneruskan usaha neneknya ini.
Untuk bulan Ramadhan ini, Itis mengaku memproduksi lebih banyak. Yang biasanya hanya 100 sampai 200 bungkus, untuk bulan Ramadhan lebih banyak Palai yang dibakar. Di pembakarannya inilah letak rahasia ke enakan dari Palai Bada Meri.
“Membakarnya harus dengan serabut kelapa (kulit kelapa tua), bukan dengan tempurungnya. Sejak dari nenek kami, cara membakarnya begitu, pembakarannya harus diawasi. Apinya jangan sampai besar, dan harus rajin di putar-putar sekitar satu jam lebih,” jelas Itis.
Untuk harga, Palai Bada sangat terjangkau. Hanya Rp 7.000 per buahnya, dan satu Palai Bada tersebut bisa dinikmati untuk dua hingga tiga orang.
“Hari-hari biasa sudah ada pelanggan tetap, kalau Ramadhan untung-untungan yang jadi pelanggan. Hanya Rp 7.000 untuk setiap Palai-nya. Ikannya terserah. Kalau mau menunggu bisa kami buatkan sesuai dengan pesanan,” pungkas Itis.
——————————————————-
JUMAT, 19 Juni 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Fotografer : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...