Pedagang Musiman, Mengais Rejeki dari Penukaran Uang Baru

LAMPUNG – Beberapa pekan menjelang pelaksanaan hari raya Idul Fitri, jasa penukaran uang baru berbagai pecahan telah menjamur di beberapa titik di kota Bandarlampung. Meskipun penukaran uang dilakukan di beberapa bank yang ada di Lampung. Namun, beberapa penukar uang memanfaatkan momen tersebut untuk menukarkan uang di pinggir jalan mencari keuntungan.
Bahkan meskipun tak banyak, jasa penukaran uang mulai marak dijumpai di pinggir jalan di Bandarlampung. Jasa penukaran uang pecahan sudah menjadi semacam pekerjaan musiman yang dilakukan oleh beberapa warga untuk menambah penghasilan melalui selisih penukaran uang baru tersebut.
“Saya memanfaatkan momen tersebut karena biasanya menukarkan uang di bank harus mengantri sementara di sini tak perlu mengantri dan saya hanya mencari keuntungan sekitar sepuluh ibu perbendel uang baru,”ujar Sonia (34) kepada Cendananews.com Senin (29/6/2015).
Ia mengaku pekerjaan utama sehari harinya adalah sebagai seorang ibu rumah tangga. Karena ia memiliki modal untuk menukarkan uang baru maka ia memberanikan untuk membuka jasa penukaran uang baru. Budaya atau kebiasaan memberikan uang baru kepada para anggota keluarga, kerabat yang masih muda membuat bisnis penukaran uang masih tetap menjadi bisnis musiman.
Sebagai  seorang ibu rumah tangga yang biasanya menganggur ia memgaku mencari peluang dari kebiasaan masyarakat tersebut. Ia kemudian meminta bantuan sang suami untuk membuat kotak display agar uang barunya tersebut terlihat di pinggir jalan.
Saat ini ie mengaku menyiapkan uang sebanyak Rp 5juta  yang terdiri dari pecahan Rp2 ribu, Rp5 ribu, dan Rp10 ribu. Setiap transaksi penukaran, Sonia biasa mengambil keuntungan sampai 10 persen dari total uang yang berhasil ditukarkan.
“Meski keuntungan kecil namun saya tetap senang dan ini menjadi sebuah bisnis yang dimanfaatkan oleh sebagian kecil orang belum seramai di daerah lain,”ungkapnya.
Untuk menawarkan jasanya ia memgaku tak perlu bersusah susah karena uang bau tersebut diletakkan dalam papan display sehingga pengguna kendaraan yang melintas bisa melihatnya.
“Untuk menarik perhatian beberapa uang pecahan dua ribuan saya tumpuk karena memang dilindungi plastik jadi tidak kuatir kotor,”ujar Sonia.
Sonia mengaku dibantu sang suaminya, Hamzah (36) yang juga bertugas menarik perhatian dengan cara mempersilakan pengguna kendaraan untuk menukarkan uang pecahan baru yang sudah disiapkan.
Meski penukaran uang tersebut dilakoninya namun ia mengaku saat ini penukaran uang di bank sudah dibatasi bahkan penukaran uang banyak dilakukan oleh masyarakat di bank bank. 
“Namun tetap saja ada masyarakat yang tak sempat ke bank sehingga meski harus mengeluarkan uang lebih mereka tetap mau menukarkan uang baru di sini,”ujarnya.
Ia dan sang suami mengaku setelah siang hari menjajakan pecahan uang baru keduanya masih tetap berjualan barang lain yakni menjual takjil atau makanan berbuka puasa. Keduanya mengaku mengais rejeki dengan melakukan penukaran uang baru serta berjualan takjil untuk uang tambahan saat lebaran Idul Fitri tiba.
——————————————————-
SELASA, 30 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...