Pemkab Pastikan Lampung Selatan Aman dari Beras Organik Palsu

LAMPUNG – Terkait dugaan ditemukannya beras organik palsu di Jakarta yang menggunakan bahan pembasmi hama, Kabupaten Lampung Selatan pun melakukan berbagai antisipasi. Bahkan Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Lampung Selatan Erlan Murdiantono saat dikonfirmasi CND mengungkapkan akan melakukan pemeriksaan ke sejumlah pasar khususnya untuk beras organik.
Menurutnya, sebelumnya pernah ada kejadian beredarnya beras plastik dan saat dilakukan pemeriksaan ke sejumlah pasar tak ditemukan adanya beras plastik yang dijual di pasaran.
“Saat ini kami memang mendengar ada lagi dugaan beras organik palsu di Jakarta padahal Lampung Selatan justru mengembangkan beras organik di sejumlah kecamatan dan ini bisa merusak pasaran beras organik,”ujar Erlan saat dikonfirmasi CND, Sabtu (27/6/29015).
Meski belum ada laporan terkait beras organik palsu di pasaran namun pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan akan melakukan pemeriksaan ke sejumlah pasar bersamaan dengan pemantauan harga di pasar tradisional. Ia memastikan saat ini tak ada beras organik palsu di Lampung Selatan karena Lampung Selatan menjadi salah sati penghasil beras organik.
Sementara itu terkait dugaan keberadaan beras organik palsu yang ada Ketua kelompok tani Minang Jaya di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan Wagiyo mengaku masih menanam beras organik di lahan sawah miliknya. Bahkan selama dua tahun menanam beras organik ia mengaku sudah mendapat pesanan beras organik. Pesanan beras organik tersebut menurut Wagiyo berasal dari Jakarta.
“Kita hanya menanam jenis padi organik kemudian kita giling dan kita kirim ke Jakarta untuk dilakukan pengemasan di Jakarta namun kita belum mendapat adanya kabar beras kita bermasalah karena kami menanam dengan cara organik,”ungkap Wagiyo.
Wagiyo mengaku menanam padi organik di lahan seluas 1 hektar selama dua tahun ini. Ia bersama sekitar 20 orang anggota kelompok tani Minang Jaya menanam padi organik varietas pandan wangi. Harapannya ke depan ia bisa mengajak petani lainnya untuk menanam jenis padi organik.
Selain Wagiyo kelompok tani lainnya di Desa Taman Baru Kecamatan Penengahan juga membudidayakan padi organik sehingga luasan lahan padi organik di Kecamatan Penengahan mencapai 3 hektar.
Ia berharap pemberitaan mengenai adanya beras organik palsu dan berbahaya tidak menurunkan minat masyarakat untuk membeli beras organik. Ia bahkan menjamin beras organik yang ditanamnya merupakan binaan dari pemerintah setempat sehingga bisa dijamin keasliannya.
Sebelumnya Direktur Reserse  Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengamankan beras organik palsu yang di produksi PT J dengan merk Riso Soil Organik diduga menggunakan bahan pembasmi hama. Bahan pembasmi hama tersebut dicampur langsung ke dalam beras.
“Fumiphos merupakan bahan beracun yang digunakan untuk mengendalikan hama-hama yang merusak hasil-hasil pertanian dalam gudang,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Mudjiono di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (26/6/2015).
Selain fumiphos, beras organik palsu tersebut juga menggunakan cristal silica gel natural absorbent granule. Dalam penggerebekan oleh Subdirektorat Industri dan Perdagangan Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya pada Rabu (24/6/2015) lalu, ditemukan 112 botol cairan tersebut.
Tak tanggung-tanggung, untuk membuat beras tersebut menyerupai organik, G, tersangka dalam kasus ini, mencampur pewangi beraroma pandan. Hasilnya, beras tersebut memiliki aroma pandan yang pekat. Kendati demikian, polisi belum bisa memastikan beras-beras tersebut berbahaya dikonsumsi atau tidak. Pasalnya beras tersebut tengah diuji di Pusat Laboratorium Polri.
“Masih tunggu pemeriksaan dulu. Baru bisa dipastikan berbahaya atau tidak berasnya,” ucap Mudjiono.
Beras organik palsu yang disita dari PT J yakni sekitar 50 ton. Beras-beras tersebut disita di dua gudang milik G di Pergudangan Prima Daan Mogot Jakarta Barat dan Pergudangan Sentra Kosambi Jakarta Barat.
——————————————————-
SABTU, 27 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...