Pemkot Ambon Tidak Keluarkan IMB Untuk Area Konservasi

Sabuk Mangrove
AMBON – Kepala Dinas Tata Kota Ambon, Deny Lilipory mengatakan, pihaknya tidak akan memberikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kepada warga atau siapapun yang akan membangun di area lahan konservasi mangrove khususnya desa Passo kecamatan Baguala, Kota Ambon Provinsi Maluku, meski daerah tersebut telah menjadi kawasan pusat perbelanjaan.
“IMB tidak akan diberikan karena kawasan tersebut merupakan kawasan lindung atau konservasi sesuai Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Ambon tahun 2011-2021,”katanya kepada wartawan di Ambon, Senin (8/6/2015).
Alasannya, lahan konservasi mangrove di kawasan kota Ambon saat ini telah mengalami degradasi dimana sebagian kawasan di kota bertajuk manise itu telah disulap menjadi kawasan pusat perbelanjaan.
“Karena itu kami berupaya agar tidak lagi dilakukan pembangunan, guna menjaga kawasan tersebut,” katanya.
Pihaknya tidak akan menerbitkan IMB meski pemilik lahan sudah mengantongi izin lokasi. Alasannya, IMB tidak mudah untuk dikeluarkan/diterbitkan karena ada syarat yang dipenuhi seperti amdal, hasil uji lokasi, jika telah memenuhi syarat akan diberikan IMB.
Deny mengakui, tahap awal pemilik lahan hanya melakukan pembangunan tembok penahan atau pondasi dan pengerukan tanah di atas lahan yang bersertifikat.
Untuk pembangunan pondasi dilakukan dengan alasan menghindari terjadinya pengikisan, namun Distakot Ambo telah menindaklanjuti dengan melakukan pemasangan papan tanda larangan pembangunan.
Menurut Deny, hal itu dilakukan sesuai Perda nomor 24 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Ambon dimana telah mengatur rencana pola ruang yang terdiri dari kawasan lindung dan kawasan budidaya.
Ditempat terpisah Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Ambon Luzia Izaac mengatakan, telah meginstruksikan agar kawasan dimaksud tidak boleh dilakukan pembanguanan gedung karena merupakan hutan konservasi.
“Sehingga akan kami tindaklanjuti lagi ke Pemkot Ambon. Agar tidak boleh mengeluarkan IMB khusus untuk kawasan Konservasi,” katanya.
——————————————————-
Selasa, 9 Juni 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...