Pencari Batu, Menatang Bahaya Demi Mengepulkan Asap Dapur

Pengumpul Batu
CENDANANEWS(Lampung) – Tiga lelaki terlihat berada di atas tebing batu setinggi sekitar 5 hingga 6 meter di pinggir Jalan Lintas Sumatera Desa Sidoluhur Kecamatan Ketapang Lampung Selatan. Ketiganya terlihat fokus pada pekerjaannya mengayunkan alat berupa baji, bodem serta palu yang dipukulkan pada batu batu ditebing tersebut.
Para pengumpul dan pencari batu, itulah pekerjaan mereka. Awalnya Cendananews.com hendak naik mendekati namun dilarang dengan pertimbangan bahaya karena tidak biasa naik.
“Jangan naik mas bahaya batunya labil nanti takutnya justru menggelinding dari atas, lihat saja dari bawah,” ungkap Sumintro (35) kepada Cendananews.com Minggu (31/5/2015).
Sumintro yang berbicara agak keras karena lokasi cukup tinggi bahkan meminta Cendananews.com menyingkir karena kuatir akan longsoran batu yang baru saja dicongkelnya dengan linggis. 
Kemudian seorang pekerja lain bernama Udin (37) turun dan berpindah di lokasi yang lebih rendah. Ia mengaku sudah melakukan pekerjaan mengumpulkan batu batu dari tanah curam dan bahkan menyerupai tebing tersebut sejak 6 bulan lalu, namun pekerjaan sebagai tukang batu sudah ditekuni sejak 4 tahun lalu.
Udin mengaku tidak takut berada di ketinggian meskipun tidak menggunakan pengaman berupa tali yang diikatkan di tubuhnya. Ia mengaku berhati hati dengan pengamanan seadanya dan memakai sepatu yang terbuat karet dan bahkan tanpa mengenakan helm pengaman.
Ia mengaku pernah terpeleset dan bahkan terjatuh namun ia tidak kapok serta melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan kubik demi kubik batu yang ada di tebing tersebut.
“Sudah biasa mas yang penting hati hati dan mencari pekerjaan yang halal demi menafkahi keluarga,”ungkapnya singkat sambil memgumpulkan batu batu yang sudah dicongkelnya.
Batu batu berukuran kepala orang dewasa serta beberapa diantaranya lebih besar dikumpulkan di pinggir Jalan Lintas Sumatera sambil menunggu pembeli.
Lahan yang menjadi lokasi ia dan kedua kawannya mencari batu bukanlah lahan miliknya. Ia menyebut pemilik lahan tersebut “bos” sehingga untuk mencari batu di lokasi tersebut harus izin terlebih dahulu.
Ia mengaku setelah mendapatkan izin maka ia akan menggunakan bodem, linggis, baji untuk mencongkel dan memecahkan batu. Setelah mendapat pembeli maka ia akan menaikkan batu batu tersebut.
Satu kubik batu yang sudah dikumpulkannya dijual dengan harga Rp60ribu yang biasanya dipergunakan untuk pondasi banguan,pagar atau talud. Sementara itu ia pun tetap memberikan sebagian hasilnya untuk pemilik lahan dengan sistem bagi hasil.
Selain harga pokok batu perkubik tersebut, Udin dan kawan kawannya masih mendapat upah untuk muat dan bongkar batu dari lokasi awal ke lokasi tujuan. Uang yang diperoleh dipergunakan untuk keperluan sehari hari keluarganya.
Udin mengaku tak takut akan bahaya dan selalu berusaha agar setiap harinya bisa mengumpulkan batu dalam jumlah banyak untuk dijual. Sebab semakin banyak batu yang dikumpulkan ia akan memperoleh cukup uang untuk keperluannya.
“Saya tidak punya tanah sendiri dan rumah pun masih menumpang di lahan orang jadi kerja serabutan seperti ini mas,”ungkapnya.
Selain bekerja menjadi tukang batu ia pun mengaku sering diminta untuk proyek jalan khusus untuk memecah batu yang akan dipergunakan untuk proses pengerjaan talud. 

——————————————————-
Senin, 1 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...