Pengrajin Kompor Minyak Alih Kerja ke Pembuatan Gembor

Pengrajin Gembor
MALANG – Kompor minyak tanah Singosari yang dulunya sangat terkenal akan ketahanan dan keawetannya dibandingkan dengan kompor buatan pabrik, kini hanya tinggal kenangan. 
Dengan banyaknya masyarakat yang beralih menggunakan kompor gas, kini pengrajin kompor Singosari sudah tidak lagi dapat memproduksi kompor minyak tanah. Kebanyakan dari mereka kini beralih menjadi pengrajin alat-alat dapur.
Saiman (62) salah satu pengrajin kompor minyak tanah yang berada di Dusun Damean Desa Taman Harjo Kecamatan Singosari Kabupaten Malang, juga merasakan dampak dari kebijakan pemerintah yang mengingikan agar masyarakat beralih menggunakan kompor gas. 
Menurut Saiman, dari 11 pengrajin kompor minyak tanah yang ada di Singosari, sebagian besar sudah “banting setir” berganti profesi menjadi petani dan juga tukang bangunan untuk mempertahankan hidup mereka.
“Hanya tiga orang, termasuk saya yang kini menjadi pengrajin gembor dan alat-alat dapur,” kata Saiman di Malang, Minggu (21/6/2015).
Saiman menceritakan bahwa sebelum dirinya mulai memproduksi kompor minyak tanah, sejak tahun 1983 dia terlebih dahulu sudah menjadi pengrajin pembuat gembor. Dari yang awalnya semua dia kerjakan sendiri, hingga bisa merekrut beberapa tenaga kerja untuk membantu dirinya memproduksi gembor. 
Namun pada tahun 1994, Saiman mulai mengembangkan usahanya dengan mencoba memproduksi kompor minyak tanah dari bahan bekas yaitu dari drum minyak yang tebal. 
Karena usaha kompor minyak tanah dirasa berjalan lancar, akhirnya Saiman memutuskan untuk meninggalkan usaha pembuatan gembor dan memfokuskan diri untuk memproduksi kompor minyak tanah. Pada tahun 1994, dirinya mampu menyerap tenaga kerja sebanyak sembilan orang yang berasal dari beberapa desa yang ada di Singosari. 
Dari situ kemudian banyak masyarakat Singosari khususnya masyarakat Desa Taman Harjo yang mengikuti jejaknya untuk memproduksi kompor minyak tanah. Bahkan produksi Kompor minyak tanah ini pernah menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Malang, sehingga membawa harum nama Desa Taman Harjo, urainya.
Menurutnya, kelebihan dari kompor Singosari yaitu berada pada bahan bakunya.
Jika kompor minyak tanah buatan pabrik kebanyakan terbuat dari plat dengan ketebalan 0,3 mm, kompor Singosari menggunakan drum minyak dengan ketebalan 0,5-0,6 mm sehingga lebih kuat dan awet jika dibandingkan kompor buatan pabrik. Bahkan pengrajin kompor Singosari berani memberikan garansi selama lima tahun kepada konsumen, ujar Saiman kepada CND.
Karena usaha produksi kompor minyak tanahnya berjalan lancar, pada tahun 1994 dirinya sudah bisa mempekerjakan 14 orang karyawan. Hingga tahun 2005, total pekerjanya sudah mencapai 19-20 orang.
Hingga kemudian sekitar tahun 2006, pemerintah memberi kebijakan dan himbauan kepada masyarakat untuk beralih menggunaka kompor gas. Dengan sosialisasi yang dilakukan pemerintah dan pemberian kompor gas dan juga tabung gas kepada masyarakat, mau tidak mau masyarakat yang awalnya menggunakan kompor minyak tanah beralih menggunakan kompor gas.
Sejak saat itu, usaha produksi kompor minyak tanah di Singosari perlahan tapi pasti mengalami penurunan. Untuk mengatasi masalah tersebut, Saiman memutar otak untuk mencari solusi yaitu dengan cara membuat kompor batu bara dan juga kompor bio gas. Namun solusinya tersebut tidak bertahan lama karena sulitnya mencari bahan baku. 
Kemudian pada tahun 2010, dirinya mencoba membuat alat pengaman LPG, namun usahanya tersebut juga tidak bertahan lama karena produknya kalah dengan produksi pabrik. Hingga pada awal tahun 2014, akhirnya dirinya memutuskan untuk kembali menekuni usaha pembuatan gembor dan peralatan dapur. Dan Saiman juga terpaksa memberhentikan semua pekerjanya dan kembali mengerjakan pembuatan gembor sendiri. Kini sisa-sisa kompor minyak tanah buatannya dia biarkan tergeletak di belakang rumahnya.
“Tapi ya tidak apa-apa, semua memang sudah diatur Tuhan seperti itu, yang penting saya sudah berusaha,” ucapnya.
Menurutnya, dulu pemerintah pernah memberikan solusi dengan cara mentenderkan pembuatan komponen kompor gas, namun karena ditargetkan harus bisa menghasilkan 20-30 ribu unit per bulannya dan juga harus memenuhi SNI, akhirnya Saiman tidak berhasil mendapatkan tender tersebut. 
Kini dia akan terus mengembangkan usaha gembornya. Saiman mengaku untuk produksi gembornya, sudah dia pasarkan di area Malang Raya, Probolinggo dan juga Bali. Untuk pesanan dari Bali, mereka lebih menyukai gembor-gembor yang sudah berkarat karena mereka lebih menyukai keantikannya. Selain gembor, dari Bali dia juga biasanya mendapatkan pesanan berupa vas bunga, tong sampah, tong air yang terbuat dari plat seng. 
Untuk gembor yang dia produksi terdapat tiga macam ukuran dengan harga yang berbeda. Untuk gembor plat seng dengan ukuran lima liter, dia beri harga Rp. 24.000,- per unit. Sedangkan untuk gembor tujuh liter dia patok harga Rp. 28.000,- dan Rp. 37.000,- untuk gembor ukuran sepuluh liter. Untuk produksi gembor, bahannya bisa disesuaikan dengan keinginan konsumen. 
“Jika konsumen ingin memesan gembor berbahan stainlis, bisa dia buatkan namun harganya juga lebih mahal daripada gembor yang berbahan plat seng,”sebutnya.
Saiman berencana, nanti produksi gembornya akan dia beri gambar-gambar yang menarik sehingga bisa lebih banyak menarik minat konsumen. Selain gembor, dia juga menerima pesanan pembuatan peralatan rumah tangga diantaranya oven beserta loyang, panggangan sate dan juga panci. Saiman juga memproduksi toples dengan berbagai ukuran yang bisa digunakan sebagai tempat permen, kue dan juga kerupuk.
Dengan usaha yang dia tekuni sekarang, banyak pihak-pihak baik dari pemerintah maupun swasta yang ingin memberikan bantuan berupa modal. Namun menurutnya, yang dirinya dan juga pengrajin lain di Singosari butuhkan sekarang bukanlah berupa modal, yang kami butuhkan sekarang adalah bantuan berupa pemasaran.
“Percuma kita diberikan bantuan modal, tapi kita kesulitan untuk memasarkan produk-produk yang kita hasilkan”, ucapnya.
Mereka berharap ada pihak-pihak baik dari pemerintah maupun swasta yang mau membantu memasarkan produknya secara berkelanjutan, sehingga kami bisa berproduksi setiap hari. 

——————————————————-
MINGGU, 21 Juni 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...