Penjual Takjil di Lampung Tuai Berkah Selama Ramadhan

Pedagang Takjil

LAMPUNG – Bulan puasa memang selalu menjadi berkah khusus bagi sebagian orang terutama para penjual takjil atau makanan untuk berbuka puasa. Sebagian orang yang biasanya pada siang hari berjualan di Pasar Bakauheni bahkan menyempatkan untuk menyediakan menu berbuka puasa dan menjualnya pada sore hari saat warga melakukan ngabuburit atau melakukan aktifitas sore hari dengan berjalan jalan menggunakan kendaraan atau berjalan kaki bersama keluarga maupun kawan.
Masyarakat Kecamatan Bakauheni, Kecamatan Kalianda dan beberapa tempat lain di Lam[ung dapat berjualan dibulan puasa menjelang berbuka puasa dengan menu yang beragam. menu tersebut diantaranya es buah, kelapa muda, kolang kaling,cendol, kue kue basah, gorengan, kue kering dan beberapa makanan dan minuman yang cukup menyegarkan untuk disantap saat berbuka puasa.
Pemandangan para penjual takjil tersebut dapat terlihat di titik titik keramaian dan umumnya sudah seperti menjadi tradisi lokasi yang pada tahun sebelumnya juga digunakan sebagai lokasi berjualan takjil.
“Lokasi di sekitar pasar Bakauheni merupakan jalan pertigaan dari Jalan Lintas Sumatera menuju Lintas Timur sehingga menjadi lokasi favorit para pedagang setiap tahunnya berjualan di sini,”ungkap Yulia (34) salah satu pedagang takjil yang berjualan di depan Menara Siger, Lampung Selatan kepada media ini Jumat (19/6/2015).
Pemandangan serupa biasa terjadi di jalan protokol Kalianda tepatnya di depan kantor Plasa Telkom Kalianda. Ratusan penjual takjil menjajakan berbagai jenis makanan tersebut dengan menggunakan meja dadakan dan akan diangkat jika selesai maghrib. Jalan menjadi ramai oleh pedagang dan pembeli yang akan berbuka puasa.
Memasuki puasa para pedagang tersebut mengaku bisa menjual dua kali lipat jumlahnya dari hari biasa mereka berjualan, dan keuntungan yang diperoleh pun cukup lumayan. Dengan harga yang cukup terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
“Saya biasanya sehari menjual sekitar 150 bungkus es cendol, lumayan kalau bulan puasa selalu ramai apalagi sudah menjelang sore untuk berbuka puasa,”kata salah satu pedagang di Jalan Zainal Abidin Pagar Alam Kalianda.
Para pembeli ini tidak hanya masyarakat biasa, para pekerja kantoran, pulang kerja mereka langsung berburu makanan untuk persiapan berbuka puasa.
Indah, salah satu pembeli mengungkapkan sebagai salah satu pegawai swasta di kota Kalianda yang bekerja dari pagi hingga sore ia memilih membeli makanan yang sudah masak karena lebih praktis.
“Saya pulang kerja sengaja langsung datang ke sini untuk beli makanan persiapan berbuka puasa nanti, karena kebetulan saya tidak sempat untuk memasak, jadi saya sengaja mampir untuk membeli di sini kan sudah lengkap, selain ada makanan juga tersedia minuman untuk berbuka puasa dan harganya terjangkau,”ungkap Indah.
Bijak Memilih menu Buka Puasa
Fenomena masyarakat yang menjalankan ibadah puasa dengan membeli menu takjil di tepi jalanan membuat kaum ibu ibu PKK di Kecamatan Bakauheni ikut menyediakan menu takjil. Kaum ibu yang menyediakan makanan berbuka puasa tersebut sengaja menyediakan menu menu olahan yang segar dan dipastikan menyehatkan.
Salah satu wanita anggota PKK, Samiani (35) mengaku sengaja tak menjual makanan berbuka puasa yang mengandung pewarna. Ia mengungkapkan beberapa pedagang bisa saja nakal menjual makanan mengandung pewarna berbahaya yaitu pewarna tekstil untuk membuat dagannnya lebih menarik.
“Ya kita tak bisa seudzon cuma demi menjaga kesehatan dan melindungi konsumen maka kaum ibu membuat makanan yang benar benar menghindari zat pewarna,”ungkap Samiani.
Beberapa makananan potensial menggunakan pewarna diantaranya sirup yang dipakai untuk dicampur dengan es buah. Karenanya kaum ibu tersebut menyiapkan dagangan dengan menu berbahan dasar ikan serta buah segar.
“Menu yang kami siapkan diantaranya pepes ikan kembung, ikan bakar, es kelapa muda yang bisa dipesan langsung dipecah di tempat, jadi pembeli tahu proses pembuatannya,”ungkap Samiani.
Samiani dan ibu ibu lain pun mengaku masa puasa menjadi masa untuk saling berbagi dan bukan sekedar mencari keuntungan. Ia mengaku penjualan dari makanan berbuka puasa tersebut digunakan untuk kas kelompok dan juga untuk kepentingan anggota.
“Kami membuat makanan dan minuman yang sudah ditentukan dan dijual di lokasi yang kami pilih nanti hasilnya kita kumpulkan, sementara yang lain memasok barang dagangan serta ada yang berjualan,”ungkap Samiani.
Ia juga mengharapkan para pembeli agar benar benar berhati hati saat membeli takjil maupun kue lebaran.

——————————————————-
JUMAT, 19 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...