Petani Manfaatkan Musim Kemarau untuk Budidaya Sayur dan Bawang

LAMPUNG – Musim kemarau yang mengakibatkan debit air berkurang di sejumlah daerah pertanian tidak menghalangi petani untuk bercocok tanam. Tak terkecuali bagi petani di wilayah Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Bahkan meskipun belum bisa melakukan penanaman padi sawah para petani masih bisa melakukan penanaman tanaman jenis sayur mayur dan bawang merah.
Salah satu petani di Kecamatan Gisting Heru (40) mengaku saat ini pemanfaatan lahan bekas sawah cocok dilakukan karena debit air masih berkurang. 
“Sementara debit air mengurang, saya menanam tanaman sayuran serta tanaman palawija yang tetap bisa memanfaatkan lahan yang ada,”ungkap Heru kepada media CND saat ditemui di lahan miliknya Selasa (30/6/2015).
Ia mengaku aliran air yang masih bisa dimanfaatkan untuk budidaya sayuran digunakan untuk mengairi lahan tanaman bunga kol serta seledri miliknya. Permintaan akan  bunga kol serta seledri yang masih diminati membuatnya bisa menambah penghasilan diluar bertanam padi.
“Saya menanam berbagai jenis syuran diantaranya bunga kol, seledri, sawi dan bayam yang semuanya saya tanam saat musim kering di sawah,”ungkapnya.
Sementara itu di kecamatan Gunung Alip, Kabupaten Tanggamus telah dicanangkan menjadi sentra tanaman bawang merah oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) Pemkab Tanggamus sehingga masyarakat mulai memanfaatkan lahan untuk budidaya bawang merah. 
Berdasarkan penuturan salah satu warga di daerah tersebut, Andri (45) petani di daereh tersebut telah memulai usaha budi daya bawang merah sejak 1999. Para petani juga sudah membentuk dua kelompok tani dengan 25 anggota dalam satu kelompok.
“Upaya budidaya bawang merah ini selain karena bawang merah cocok ditanam di sini kami juga melihat selama ini ketergantungan bawang merah dari daerah lain masih tinggi sehingga kita usahakan ada dari Tanggamus,”ungkap Andri. 
Ia bahkan mengaku bersama dengan petani di Kecamatan Gisting, Bulok, Kotaagung Timur, dan Cukuhbalak telah mendapat pelatihan budidaya bawang merah. Ia mengaku tanaman bawang merah membutuhkan perawatan ekstra seperti tanaman cabai, sehingga dibutuhkan keterampilan.
“Kami memilih menanam bawang meraj saat ini karena masa tanamnya dua bulan dan sangat cocok ditanam pada saat  memasuki musim kemarau karena musim hujan rentan penyakit seperti trotol dan moler,” ungkapnya.
Ia dan petani lain mengaku berharap agar musim kemarau kali ini ia masih bisa melakukan budidaya tanaman bawang merah disela sela menanam padi yang biasa ditekuninya. Selain itu pola penanaman bawang merah juga tidak menghabiskan lahan miliknya yang sebagian masih bisa dimanfaatkan untuk budidaya tanaman sayur lainnya.

——————————————————-
SELASA, 30 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...