Pisang Lokal Butuh Kesinambungan untuk Eksis di Pasaran

pisang ambon dari banyuwangi dan jember
CENDANANEWS (Denpasar) – Kemandirian petani buah di Bali sejauh ini positif dengan kesinambungan panen yang berdampak kepada penentuan stabilitas harga buah di pasar tradisional. 
Namun khusus untuk buah Pisang masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar bagi petani buah di Bali. Padahal fungsi buah pisang di bali sangat vital, yaitu selain untuk bahan makanan, pisang juga kerapkali digunakan sebagai persembahan rutin di tiap upacara keagamaan di Bali.
Pasokan pisang wilayah Bali rata-rata masih tergantung dari luar pulau. Banyuwangi, Jember, bahkan Flores merupakan daerah-daerah yang menjadi pemasok terbesar pisang di Bali. Dari pisang Raja, pisang Ambon, pisang hijau, semua dipasok oleh para distributor besar dari Banyuwangi dan Jember. Sedangkan untuk pisang kepok selalu dikuasai oleh Pemasok dari Flores.
Bali memiliki Pisang yang khas. Ada dua jenis Pisang (biu) di Bali. Yaitu Biu Mas dan Biu Kayu Bunga. Keduanya merupakan pisang asli yang ditunggu penjual  karena rasa dan peminatnya yang cukup besar.
” Biu Mas itu lebih kecil dari pisang mas luar Bali namun sangat manis, sedangkan Biu Kayu bunga dia berbentuk kecil memanjang dan disamping memiliki rasa yang manis serta aroma wangi, Biu Kayu Bunga tahan lama. Dalamnya tidak busuk walau kulitnya sudah hitam,” urai Nanda, seorang pedagang pisang di pasar padang sambian kelod.
Menurut para pedagang, pemasok pisang Bali biasa dari Klungkung, Singaraja, dan Karangasem. Namun kemunculan mereka benar-benar tidak menentu. Kadang dua bulan sekali, bahkan pernah empat bulan sekali. Harapan mereka petani pisang Bali bisa eksis secara berkesinambungan. 
“Padahal Biu Mas itu bisa panen setiap 15 hari,” ujar Kompyang rekan Nanda sesama pedagang Pisang.
Sepertinya petani pisang lokal di Bali memiliki permasalahan yang butuh lebih dari sekedar perhatian dari pemerintah berikut pihak-pihak terkait. Bali memiliki buah pisang dengan ciri khas tersendiri, namun belum bisa menjadi raja di pulau sendiri. Semoga ke depannya ada solusi yang lebih baik.

——————————————————-
Senin, 1 Juni 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Fotografer : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...