Puluhan Tahun Keluarga Ini Tekuni Otak Otak Berbahan Ikan Laut

Otak-otak yang siap di pack
LAMPUNG – Adonan tepung, ikan parang yang sudah diberi bumbu dengan cita rasa khas kuliner laut sedang dibungkus menggunakan daun pisang kepok. Adalah Agustina Tantinawati (59) yang dengan ramah menerima CND melihat proses pengolahan makanan tradisional yang dikenal dengan otak otak.
Dibantu oleh anak anaknya, isteri dari Ambrosius Bejo Sugianto (67) itu mengaku sudah puluhan tahun menekuni usaha pembuatan kuliner berbahan dasar ikan tersebut. Usaha turun temurun dari keluarga tersebut diakui oleh Agustina yang lebih dikenal dengan nama “Bu Bejo” dari nama sang suami, hingga kini masih laris dan dikenal masyarakat.
“Setiap hari jika ada pesanan sejak malam saya sudah menyiapkan bahan bahan, mengolahnya lalu memprosesnya menjadi otak otak pesanan para pembeli,”ujar Agustina sambil membungkus adonan bahan otak otak ke dalam daun pisang kepok, Selasa(16/6/2015).
Pembuatan otak otak berdasarkan pesanan tersebut menurut Augustina merupakan filosofi dari sang ibu yang mengajarinya untuk tak menjadi orang ambisius. Ia mengaku sepanjang ada pesanan maka ia akan melayani pesanan pembuatan otak otak, selain itu juga melayani pembuatan bakso ikan rebus maupun bakso goreng.
“Pemesan biasanya dari instansi pemerintah, swasta atau keluarga yang sedang memiliki acara dan membutuhkan menu yang beda dari kue kue yang sudah umum,”ungkapnya.
Makanan tradisional yang dibuatnya dikenal dengan otak otak ikan dengan bahan baku ikan Parang yang dipasoknya dari wilayah perairan Kecamatan Ketapang Lampung Selatan. Untuk ikan parang yang sudah dihaluskan tanpa duri biasanya Agustina memesan sebanyak Rp1juta hingga Rp2juta sebagai bahan utama pembuatan otak otak ikan.
Menurut perempuan kelahiran Kalianda, 10 Oktober 1965, itu, otak-otak Kalianda dibuat secara turun-temurun. Cara memasaknya, daging ikan ditiriskan atau dihaluskan, kemudian diberi bumbu. Sementara itu, tepung sagu yang telah dicampur dengan santan diulek sedikit-sedikit sampai licin.
Lalu, aduk rata dan tuang santan sedikit-sedikit sambil diuleni sampai licin dan dapat dipulung. Kemudian, bungkus adonan dengan daun pisang. Setelah itu, gulung dan tusuk dengan batang lidi.
Proses selanjutnya adonan yang dibungkus tersebut lantas dikukus di perapian sampai tampak matang. Untuk pembuatan saus, cabai merah dihaluskan. Sausnya terbuat dari kacang tanah, garam, dan gula pasir. Semua bahan tersebut diaduk sampai rata. Setelah itu, beri cuka dengan air panas bersama bumbu tersebut. 
“Bahan daging ikan Parang tersebut nantinya akan diadon dengan tepung serta bumbu bumbu yang menambah cita rasa otak otak buatan kami,”ungkap Agustina.
Sementara Agustina dan sang anak membungkus otak otak tersebut, sang suami, Bejo terlihat memanggang otak otak yang dibungkus dalam daun pisang tersebut. Bungkus daun pisang berlapis membuat bagian luar terlihat terbakar namun lapisan dalam adonan menjadi matang karena dipanggang.
Bejo mengungkapkan selain menggunakan kipas angin listrik, disaat tertentu proses pemanggangan menggunakan kipas manual sehingga pematangan dari bara api dari batok kelapa lebih cepat.
“Kalau pesanan sedang banyak kita terpaksa mengejar waktu dan bahkan saya menggunakan kipas angin listrik untuk memanggang puluhan bungkus otak otak secara bersamaan,”ungkap Bejo.
Perbedaan otak otak buatan Agustina dan Bejo diakui dapat dilihat dari bahan pembuatan yang justru menggunakan jenis ikan parang bukan ikan tenggiri atau ikan jenis lain. Selain harganya relatif lebih murah, pembuatan otak otak ikan parag tersebut juga disukai konsumen karen harganya lebih murah.
“Saya membuat resep khusus otak-otak memakai daging ikan parang atau bida laut, bukan tengiri. Jadi, harga jualnya pun lebih murah, berkisar Rp 1.500–Rp 2.000 per biji,’’ kata Agustina.
Dalam seminggu Agustina mengaku permintaan bisa banyak sebaliknya bisa sedikit tergantung kondisi. Bahkan ia mengaku meski saat ini menjelang bulan Ramadhan namun ia mengaku tak menjual otak otak dengans sistem dititipkan ke penjual lain. Ia lebih memilih melayani pemesanan karena dengan sistem tersebut usahanya masih akan tetap berjalan.
“Sistem pesanan dilakukan dengan konsumen membayar terlebih dahulu kemudian akan diambil pada saat pelaksanaan acara sehingga modal bisa terus bergulir,”ungkap Agustina.
Usaha tersebut menurut Agustina sudah mendapat izin dari Dinas Kesehatan Lampung Selatan yang terlihat dari sertifikat izin usaha sehingga konsumen tak perlu kuatir akan kualitas otak otak buatannya.
Sebagai usaha rumahan, Agustina mengaku tak pernah bergantung dari modal pinjaman baik dari bank maupun dari pemerintah. Sebagai wiraswastawan ia mengaku terus memproduksi otak otak dengan modal mandiri dan akan terus berjalan atas kepercayaan konsumen yang terus memesan otak otak buatannya.
“Rejeki sudah ada yang mengatur selama kita mau berusaha dan saya percaya jika kualitas otak otak ini bagus maka masih banyak yang memesan,”ungkapnya.
Hari ini Agustina mengaku selain otak otak yang dipesan mencapai sekitar 500 bungkus, ia juga telah menyelesaikan pesanan bakso ikan sebanyak 1000 butir untuk kegiatan salah satu instansi di Kalianda.

——————————————————-
Rabu, 17 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...