PW Tirossa Angkat Kearifan Lokal Leluhur dalam PKB ke 37

PW Tirossa sedang memainkan musik dari Sasando
DENPASAR – Satu lagi Pawai Budaya yang sempat mencuri perhatian penonton di acara Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-37 Tahun 2015 adalah Perhimpunan Warga Tirossa (Timor-Rote-Sabu-Semau-Alor) atau dikenal dengan PW Tirossa di Bali.
Dengan semangat menjaga keseimbangan antara manusia dengan manusia serta antara manusia dengan alam, Perhimpunan Warga Tirossa NTT-Bali mencoba mengangkat sebuah konsep membumi khas wilayah Tirossa berupa alat musik sasando dan tarian Likurai.
Tari Likurai itu sendiri adalah tarian sambutan dari Kerajaan tradisional di NTT saat para prajurit dan pahlawannya pulang dari medan tempur dengan membawa kepala dari pihak yang kalah untuk diserahkan kepada Raja mereka.
“Sekarang ini tari Likurai adalah tarian penyambutan bagi para tamu agung, tamu kenegaraan, dan tamu-tamu budaya yang datang berkunjung ke wilayah NTT,” jelas Simon Nahak, pemimpin rombongan Perhimpunan Warga Tirossa kepada CND di Denpasar, Minggu (14/6/2015).
Dengan kekuatan 70 orang seniman tari dan alat musik tradisional, Perhimpunan Warga Tirossa mencoba mengangkat kearifan lokal dari daerah asal mereka agar dapat dinikmati oleh seluruh pengunjung Pawai Budaya PKB XXXVII.
“Bagi kami, Bali adalah sebuah pulau yang sangat luar biasa. Namun dalam Pawai ini kami membawa pesan tersirat bahwa sejauh apapun kita merantau, jangan sampai lupa akan budaya dan tanah leluhur,” sambung Simon Nahak.
Begitulah seharusnya tatanan kehidupan kita di tanah rantau. Dimana Bumi dipijak, disitu langit dijunjung, kita menghargai budaya ditempat kita tinggal namun jangan sampai melupakan asal-usul kita sebenarnya.

——————————————————-
Minggu, 14 Juni 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Fotografer : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...