Suarakan #JanganDiam untuk Tekan Kriminalisasi Anak

DENPASAR – #jangandiam, begitulah salah satu simpati masyarakat di sosial media terhadap kasus pembunuhan bocah Angeline yang sudah menarik perhatian dunia internasional.
Berbagai komentar menarik dan kacangan muncul di media elektronik. Namun satu yang menjadi pengulangan membosankan untuk kasus kekerasan berujung kematian terhadap anak-anak adalah, kasus ini kerap terjadi.
Ada opini di media elektronik yang menyebutkan keadaan masyarakat sudah tidak sehat. Maksudnya adalah harusnya masyarakat berperan aktif melaporkan jika ada keanehan yang terjadi di lingkungan sekitarnya, khususnya terhadap dunia anak-anak.
Kita lupa, bahwa sebesar apapun peran masyarakat jika tidak didukung dengan penguatan undang-undang perlindungan anak maka kekerasan terhadap anak akan tetap terjadi di Indonesia. Kasus besar pasti blow-up, bagaimana kasus kecil atau sedang-sedang saja? Misalnya pemanfaatan anak-anak sebagai pengemis, pemukulan terhadap anak-anak oleh orangtua tak bertanggungjawab, dan pekerja seksual anak di bawah umur.
Hastag #jangandiam bukan hanya berlaku terhadap kasus Angeline. Cakupan hastag tersebut juga bukan semata untuk masyarakat agar berperan aktif, namun menjadi himbauan bagi lembaga pembuat undang-undang untuk serius dengan penguatan undang-undang perlindungan anak. Jangan sampai setiap ada kejadian baru kita gempar, lalu muncul beragam opini, setelah kasus selesai maka selesai juga semua opini dan kegemparan.
#jangandiam adalah untuk semua pihak di negara ini agar selalu bersuara demi penegakan hukum dalam bentuk undang-undang perlindungan anak yang lebih tajam.
Selamat Jalan Angeline
——————————————————-
Jumat, 12 Juni 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Fotografer : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...