Tambah Penghasilan dengan Membudidayakan Ayam Petelor

LAMPUNG – Kebutuhan hidup yang semakin tinggi membuat orang semakin kreatif dalam berusaha terutama usaha yang bisa dilakukan di sekitar rumah. Demikian juga yang dilakukan oleh Yanto (34) warga Desa Gandri Kecamatan Penengahan Lampung Selatan Provinsi Lampung. Ia mengaku melihat potensi ternak ayam petelur yang belum ada di desanya sebagai kesempatan untuk memulai usaha tersebut.
Ia mengaku awalnya melihat lihat pola peternakan ayam petelur di salah satu daerah di Jawa Barat, kemudian mencoba bertanya terkait modal dan juga tata cara pemeliharaan ayam petelur tersebut.
“Saya kan memiliki saudara yang melakukan ternak ayam petelur sehingga saya akhirnya bisa sedikit sedikit belajar dan memulai usaha ini,”ungkap Yanto menceritakan kisah awal memulai usaha ternak ayam petelur kepada CND, Senin (29/6/2015).
Ia mengungkapkan untuk modal awal beternak ayam tersebut ia menyiapkan modal sekitar 9 juta karena beberapa hal yang bisa dibuat sendiri. Pada umumnya ia kerjakan secara otodidak terutama pembuatan kandang serta bahan bahan yang diambil dari kebunnya.
“Kalau semua dikerjakan dengan bantuan orang lain harus membayar maka saya kerjakan sendiri dan bahkan bahan dari bekas kayu gergajian tak terpakai serta bambu dari kebun,”ujar Yanto.
Untuk kandang ayam, ia telah menyiapkan  kandang dari kayu, dengan kisaran biaya pembuatan perkandang bisa mencapai Rp 500ribu. Sementara untuk indukan ia mengaku membeli indukan ayam petelur dengan harga induk ayam petelur sekitar 20 ribu sampai 25 ribu.
“Sebagai awal saya membeli 100 ayam untuk pemula. Sementara untuk makanan sangat murah, harga makanan ayam adalah 2 ribu sampai 3 ribu per kilonya dan sebagaian saya buat sendiri,”ungkapnya.
Untuk perawatan, dibantu sang istri Sumini, ia mengaku hanya perlu memberi makan dan minum setiap hari. Selain itu ia mengaku selalu benar benar memperhatikan kebersihan dari kandang ayam. Karena jika ayam sakit atau stres, maka ayam akan jarang betelur.
“Kebersihan dan ketengan ayam dari gangguan sangat perlu sehingga saya selalu memperhatikan hal tersebut,”ujarnya.
Ia mengaku keuntungan dari beternak ayam petelur diantaranya selain dapat memanen telur, ia  juga bisa menjual daging ayam potong. Masa produktif ayam petelur adalah 2 sampai 3 tahun. Setelah itu ayam petelur bisa dipotong dan dijual sebagai daging ayam.
Saat ini menurut Yanto,  harga telur perkilo adalah Rp.15ribu sampai Rp.17ribu. Setiap kilo bisa mendapatkan 14 sampai 16 butir telur, jadi setiap harga telur berkisar seribu rupiah.
“Jika bisa memanen 100 ayam petelur setiap hari sekitar 90 telur, saya bisa mendapatkan 90 ribu rupiah setiap hari atau 2.7 juta rupiah setiap bulan,”ujar Yanto.
Ia berharap modal awalnya tersebut bisa kembali karena setelah dikalkulasi setelah selama sekitar setahun memelihara ayam petelur ia sudah bisa membeli bibit baru lagi dan sedang membuat kandang baru.
“Saya sedang mengembangkan ayam petelur dengan bibit yang saya buat sendiri dengan metode inkubator,”terangnya.
Hasil telur dari ternak miliknya pun sebagain dimanfaatkan untuk dijual di warung warung serta sebagain digunakan sendiri. Meskipun tidak memiliki peternakan besar namun ia memgaku bangga bisa mencukupi kebutuhan gizi keluarganya dari beternak ayam petelur tersebut.
——————————————————-
SENIN, 29 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...