Tangkap Ikan Dengan Arumbai ala Nelayan Negeri Siri Sori Islam

Para Nelayan asal Desa Negeri Siri Sori Islam Kecamatan Saparua Yang menangkap Ikan dengan Arumbai
CENDANANEWS (Ambon) – Negeri Siri Sori Islam diwilayah Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, memiliki jumlah penduduk sekitar 5000 jiwa. Sebagian besar warganya adalah petani musiman dan nelayan. Sisanya PNS.
Khusus untuk nelayan asal Negeri Siri Sori Islam, mereka hanya menggunakan peralatan seadanya guna menangkap ikan. Peralatan manual itu berupa perahu dengan mesin tempel (dialeg Siri Sori Islam Arubaido disebut Arumbai/Katintin).
Jaring yang digunakan untuk menangkap ikan juga bukan menggunakan katrol, seperti alat penangkapan ikan yang digunakan nelayan modern saat ini, tapi jaringnya ditarik menggunakan tangan (manual) para nelayan itu sendiri.
Di bawah terik matahari terlihat beberapa arumbai berlabuh/parkir di perairan Saparua yang tidak jauh dari negeri/desa Siri Sori Islam. Arumbai-arumbai itu parkir sambil menunggu moment munculnya ikan di permukaan, kemudian dijala. Kadang dapat (berhasil), sebaliknya juga tidak alias meleset.
Semangat untuk melaut di bawah terik matahari dihujani keringat, sudah menjadi makanan keseharian para nelayan asal Negeri Siri Sori Islam ini.
Betapa tidak, pekerjaan guna mengais rejeki itu tetap mereka lakoninya, karena hanya ini satu-satunya pekerjaan untuk kelangsungan hidup mereka. Bahkan kadang ikan hasil tangkapan mereka pun, dijual dengan harga seadanya atau murah.
Salah satu nelayan asal Negeri Siri Sori Islam, Buang Saimima yang sempat ditemui CENDANANEWS di Negeri/Desa Siri Sori Islam Minggu sore (31/5/2015) usai melaut mengatakan, selama ini mereka jarang menerima bantuan dari pemerintah baik dari kabupaten Maluku Tengah maupun Pemerintah Provinsi Maluku.
Padahal, warga di tempat lain sering menerima bantuan dari pemerintah berupa peralatan tangkap ikan yang sudah moderen.
“Katong (Kami) jarang dapat bantuan dari pemerintah. Bodi (arumbai/katintin) yang kami pakai ini milik orang negeri Siri Sori Islam sendiri,” terangnya.
Menurut Buang, jika datang keadaan cuaca laut  memburuk atau musim gelombang serta angin, dia bersama para nelayan terpaksa melaut.
“Kalau ikan naik, katong tetap berusaha menangkap ikannya. Biar sesekali gelombang tinggi dan cuaca buruk, tapi apa boleh buat, ini katong pung kerja (ini kerjaan kami). Jadi tetap melaut saja,” kisah ayah dua anak ini.
Mengais rejeki di bawah terik panas matahari bahkan hujan dan badai sekalipun, mereka tetap menjalani pekerjaan ini. Bagi buang dan para nelayan lain asal Negeri Siri Sori Islam memaknai, pekerjaan yang mereka lakukan karena untuk melangsungkan hidup mereka. Sehingga mereka tidak seharusnya pasrah dengan keadaan cuaca.
Selain hasil tangkapan ikan untuk kebutuhan makan, sebagiannya bisa dijual meski dengan harga seadanya, karena sisa uang hasil ikan itu disimpan untuk membiayai kebutuhan sekolah anak-anak mereka.
“Ya sukur kalau dapat bisa untuk makan dan uang sisanya bisa kami gunakan untuk membiayai kebutuhan anak untuk sekolah atau kuliah. Kalau tidak dapat ikan, ya tentu itu belum rahmat,” ungkapnya.
Hal senada juga dikatakan oleh Asnawir Saimima salah satu pemilik Arumbai yang juga nelayan asal negeri Siri Sori islam.
Dia mengakui, selama ini mereka tetap melakoni pekerjaan menangkap ikan dengan arumbai, karena hal itu sudah sejak dulu ditekuni para orang tua mereka.
“Kalau cuaca laut sangat buruk ya katong tar bisa (Kami tidak bisa) melaut. Kalau gelombang tidak terlalu besar dan ada ikan, ya kadang-kadang katong (kami) tetap pakai arumbai untuk berusaha menangkap ikannya,” ujar Asnawir dengan dialeg kental Maluku.

——————————————————-
Senin, 1 Juni 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Fotografer : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...