Terobosan Baru dengan Teknologi Reproduksi Berbantu

dr. Relly Yanuari Primariawan SpO
SURABAYA – Semakin majunya teknologi diiringi dengan terobosan baru seperti dalam hal reproduksi. Salah satunya Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) yang telah dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soetomo Surabaya.
TRB ini terdiri dari bayi tabung dan inseminasi buatan. Tingkat keberhasilan kehamilan bayi tabung 47-48% sedangkan inseminasi sekitar 20-25%. Setiap teknologi reproduksi berbantu (TRB) mempunyai resiko terjadinya kehamilan kembar. Terjadi kehamilan kembar kemungkinan sebesar 30-35%. 
“Kita picu sel telur banyak, sehingga prosentase kemungkinan bayi kembar tinggi.” Jelas dr. Relly Yanuari Primariawan SpO kepada awak media, Sabtu (20/6) di Graha Amerta.
Syarat yang harus terpenuhi yaitu sperma harus berkualitas bagus. Kualitas bagus dilihat dari kuantitasnya yaitu berkonsentrasi diatas 10 juta permililiter. Dari 10 juta permililiter tersebut dipreparasi untuk mendapatkan sperma yang benar-benar berkualitas sekurang-kurangnya satu juta permililiter.
Selain itu, kondisi saluran tuba seorang wanita tidak boleh ada kebuntuan. Kemudia usia juga berpengaruh,  usia semakin muda maka keberhasilan semakin tinggi, diatas 35 tahun kemungkinan berhasilnya rendah. Selanjutnya bagaimana kondisi rahim dan yang terakhir ada tidaknya gangguan dari sel telurnya.
Inseminasi sendiri dinilai lebih kuat dibandingkan dengan bayi tabung dimana masa kehamilan bisa sampai 9 bulan asalkan tidak kembar .
Sedangkan untuk resiko yang dihadapi sang ibu yaitu kehamilannya lebih dari satu, resiko lainnya terjadinya Ovarium Hyper Stimulation Syndrom (OHSS). Hal ini terjadi karena pemberian obat-obatan penyubur yang reaksinya atau respon ibunya berlebihan daripada yang diharapkan, misalnya kita berharap 3-4 telur berkembang menjadi 15-20 telur. Resikonya lainnya sang ibu mengalami gangguan sirkulasi darah, pernafasan susah/sesak, dan kekurangan cairan di rongga paru-paru.
Sedangkan resiko terhadap janin inseminasi yaitu janin kembar banyak, resikonya terjadi kelahiran prematur, sehingga perawatan bayi yang prematur lebih lama.
Menurut dr. Relly biaya perawatan bayi prematur lebih tinggi dibandingkan bayi tabung karena membutuhkan perawatan lebih intensif dan lama sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Untuk biaya perawatan bayi prematur kira-kira sekitar puluhan sampai ratusan juta.” Jelasnya. 
Dengan proses TRB ini dengan segala resikonya maka diperlukan control ekstra untuk stimulasi mulai sel telur hingga perkembangan hormonal ibunya maka diperlukan observasi secara terus menerus untuk melihat perkembangan bayi dan juga sang ibu.
——————————————————-
SABTU, 20 Juni 2015
Jurnalis       : Charolin Pebrianti
Fotografer : Charolin Pebrianti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...