Tradisi Balimau di Sumbar Telah Banyak Melenceng dari Kaidah

Mandi Disungai sebelum puasa
PADANG – Sebelum memasuki bulan Ramadhan, umat Islam menyucikan dirinya dari segala dosa dengan mengunjungi serta meminta maaf pada karib kerabat, sanak family dan orang disekitarnya. 
Di Kawasan Sumatera Barat yang tersebar Kebudayaan Minangkabau dari ujung utara Riau hingga Jambi ada tradisi menyambut Bulan Ramadhan dengan melakukan tradisi “Balimau” (membersihkan diri).
Dari informasi yang dikumpulkan CND di Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang tradisi ini juga ditemukan di Pangkalan Koto Baru, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat (Sumbar), tradisi ini pertama kali dirayakan pada tahun 1800 M, lebih 200 tahun bertahan, dengan nama potang balimau.
Setiap daerah memiliki cara yang unik dalam melakukan tradisi Balimau, namun memiliki satu kesamaan. Sama-sama dilakukan jelang bulan Ramadhan masuk dan puncak ritualnya selalu di lakukan di sore hari.
Namun ternyata tradisi ini mulai salah kaprah, dimana tradisi adat Balimau, sebuah kata yang tersirat (kiasan) dengan artian membersihkan diri. Membersihkan ini dari dari penyakit hati seperti dendam, benci, iri dan dengki dengan saling mengunjungi dan saling meminta maaf, serta mandi ditempat mandi sendiri tanpa bercampur dengan orang lain, apalagi bukan muhrim. Namun Balimau sekarang membersihkan diri dengan mandi di tempat pemandian Umum.
Menyikapi hal tersebut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang, Duski Samad menyinggung esensi dari balimau yang sudah salah kaprah dan ia berpendapat bahwa masyarakat yang masih melakukan tradisi tersebut cukup bebal. Karena MUI sudah mengeluarkan fatwa dan surat edaran setiap tahunnya.
“Masyarakat hari ini sudah cerdas, sudah teralu sering tradisi ini diimbau agar tidak dilakukan.  Kalau untuk fatwanya sudah jelas, itu bid’ah dan haram apalagi bercampur antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Karena tidak ada ajaran Islam yang menyambut ramadhan  seperti  ini, masyarakat cerdas tidak akan melakukan itu,” ujar Duski pada cendananews, Senin (15/6/2015) pagi.
Yang dimaksud bid’ah dan haramnya adalah tradisi yang sudah jauh dari esensinya. Menurut Duski esensi dari balimau itu adalah mensucikan diri lahir dan batin, saling memaafkan dan menjalin silaturrahmi yang sempat putus karena bebrbagai hal.
“Kalau Balimau yang dimaksud masyarakat dengan mengunjungi karib kerabat dan saling memaafkan, serta menjalin kembali tai silaturrahmi yang putus, itu malah lebih baik dan Islam sangat menganjurkannya. Kalau mandi dengan kembang dan hura-hura itu malah akan merusak keimanan. Karena Allah tidak akan mengampuni dosa hanya dengan mandi kembang dan ritual lainnya,” jelas Duski.
Namun ia juga menjelaskan, untuk merubah sebuah tradisi dan kebudayaan memang butuh waktu yang lama. Karena itu menyangkut mental dan pengetahuan masyarakat, sehingga sudah seharusnya bagi masyarakat yang mengetahui serta memiliki ilmu untuk saling mengingatkan.
“Masyarakat yang cerdas tdak akan melakukan itu, dan di sinilah landang dakwah itu, mari saling mengingatkan agar kita sama-sama tidak terjatuh dalam kubangan taghut,” pungkasnya.
Ade (25), salah seorang pelaku tradisi balimau dari daerah Payakumbuh mengaku sudah tidak melakukan itu lagi semenjak tiga tahun belakangan. Sebelumnya, ia dan keluarga besar selalu melakukan ritual balimau.
“Kami sekeluarga dahulunya selalu melakukan ritual ini, namun semenjak kuliah dan keluarga semua sudah menempuh jenjang pendidikan, kami sekeluarga sepakat untuk menghentikan tradisi balimau dengan cara mandi-mandi dengan berbagai kembang itu. Kami menggantinya dengan mengunjungi sanak famili, saudara, kerabat dan teman-teman untuk meminta maaf dan menjalin tali silaturrahmi,” ujar Ade pada CND, Senin (15/6/2015) pagi.
Berbeda dengan Ade, Nilam (35) seorang ibu rumah tangga di Kota Padang. Menyatakan bahwa tradisi ini sudah ia lakukan turun temurun. Sehingga tidak afdhol rasanya jika tidak melakukan tradisi ini saat memasuki bulan ramdhan. Menurutnya ini bukan soal agama, tauhid, pahala dan dosa. Namun lebih kepada menghormati adat para leluhur.
Nilam sudah membeli berbagai kebutuhan untuk melakukan tradisi balimau, baik itu kembang-kembang yag telah di potong sedmikian rupa lalu air bunga mawar dan lain-lain. Dari pantauan, beberapa masyarakat tetap akan melakukan tradisi balimau ini. Bahkan beberapa objek wisata pemandian telah disiapkan.
——————————————————-
Senin, 15 Juni 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Fotografer : BNPB?
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...