Tunggakan Pelanggan PLN di Papua Capai Rp 51 miliar

PT. PLN Wilayah Papua dan Papua Barat
JAYAPURA – Tunggakan listrik pelanggan PLN per Mei tahun ini di Papua mencapai Rp 51 miliar lebih. Mayoritas penunggak tertinggi dari kalangan umum yang ada Kota Jayapura, Manokwari dan Merauke.
Manager Niaga Pelayanan Pelanggan PLN wilayah Papua dan Papua Barat, Yosephina Selfiana Kwano mengatakan, hingga bulan Mei tahun 2015 tunggakan pelanggan mencapai Rp 51.131.975.449,- untuk Papua dan Papua Barat.
Yosephina Selfiana Kwano
“Bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, ada sedikit penurunan dimana bulan April lalu tunggakan pelanggan kepada PLN sebesar Rp 52.036.930.624,” kata Selfiana di Kota Jayapura, Selasa (09/06/2015).
Dari data yang ada, dikatakannya, kode golongan umum atau masyarakat umum yang paling tinggi se-Papua dan Papua Barat. “Paling banyak di area Kota Jayapura, kedua di manokwari dan yang paling kecil di Kabupaten Merauke,” ujarnya.
Urutan kedua, lanjutnya, adalah instansi-instansi yang ada dibawah pemerintah daerah setempat. “Pemerintah daerah secara merata di setiap kabupaten kota. Sedangkan untuk TNI Polri, menunggak karena harus menunggu di bayar oleh pusat dari masing-masing institusinya,” katanya.
Selfiana menambahkan, pihaknya menargetkan bulan juni mendatang terhitung semester satu, tunggakan dapat turun sebesar Rp 30 miliar. “Karena itu adalah target yang diberikan dari pusat kepada kami wilayah Papua dan Papua Barat,” imbuhnya.
Selain itu, pihaknya juga terus menggalakkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya untuk membayar listrik tepat waktu, dan juga terus menggalakkan hidup hemat listrik.
“Hidup hemat listrik salah satu jalan agar pelanggan tidak banyak membayar listrik, dan kami sering juga bertatap muka secara langsung kepada pelanggan. Juga ada kendaraan keliling kami yang membantu tuk sosialisasi ini, kami juga umumkan di media dan lainnya,” ujarnya.
Sedangkan dampak yang terjadi dari tunggakan pelanggan kepada PLN, menurutnya, paling besar ke pendapatan PLN. Karena, pihaknya telah mengeluarkan biaya yang cukup besar tuk mengoperasikan mesin pembangkit listrik.
“Pendapatan yang didapat tidak seimbang dengan biaya pengeluaran. Dilihat dari biaya produksi tidak seimbang dengan Kwh yang dikeluarkan kepada pelangggan,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu pelanggan listrik PLN kalangan umum, Gerson mengaku dirinya selalu membayar listrik tepat waktu. Namun, ia mengoreksi pihak PLN, lantaran dirinya selalu mengeluh sering pemutusan aliran listrik disaat malam hari.
“Berapapun nilainya, saya akan bayar tepat waktu, walaupun ada sesekali terlambat sehari atau dua hari. Tetapi, PLN juga harus melayani kami dengan baik, dengan tidak memadam listrik disaat kami sangat membutuhkannya, seperti di malam hari sekitar pukul 07.00 wit hingga 23.00 wit,” kata Gerson.
——————————————————-
Selasa, 9 Juni 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Fotografer : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...