Uniknya Keberadaan Petruk Bagi Jasa Ekspedisi

Truk melewati Jalan Lintas Sumatera

LAMPUNG – Usaha ekspedisi lintas Pulau Jawa dan Sumatera merupakan usaha yang masih terus berjalan hingga sekarang. Perputaran barang barang komoditas yang didatangkan dari Pulau Sumatera diantaranya komoditas pertanian, perkebunan, konsumsi bagi masyarakat di Pulau Jawa dan sebaliknya dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatera.
Kendaraan kendaraan ekspedisi tersebut selama 24 jam hilir mudik di Jalan Lintas Sumatera dan menjadi sumber penghasilan tersendiri bagi para “Petruk” atau Pengurus Truk. Setiap truk yang melintas mendekati Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan sebagian besar menyeberang menggunakan kapal di Selat Sunda dengan jasa para Petruk tersebut.
Para Petruk tersebut dapat terlihat dari nama nama yang terpasang pada papan papan nama yang ada di tepi jalan kanan dan kiri Jalan Lintas Sumatera hingga mendekati Pelabuhan Bakauheni.
“Para pengurus truk sudah ada sejak lama dan memberikan kemudahan bagi para sopir dari pengawalan di sepanjang Jalan Lintas Sumatera hingga masuk ke Pelabuhan Bakauheni,”ungkap Ahmad (40) salah satu pengurus truk di Bakauheni Lampung Selatan saat dikonfirmasi media CND Sabtu (20/6/2015).
Identitas para pengurus truk tersebut pun bisa terlihat pada simbol simbol, cap yang terdapat di sisi dinding belakang mobil truk, samping bak truk. Bagi para pengurus truk, jasa jasa yang diberikan tersebut diantaranya “mengawal” truk truk tersebut hingga ke pelabuhan Bakauheni, membeli tiket di awal serta saat saat tertentu mencarikan solusi bagi para sopir dalam keadaan keadaan darurat.
“Keadaan darurat di sini misalnya sopir kehabisan uang jalan maka bisa cas bon ke pengurus sehingga bisa diklaim ke perusahaan pemilik truk dan nanti akan diganti saat sampai di tempat tujuan,”ungkap Ahmad.
Keadaan darurat lain diantaranya saat kendaraan truk mengalami kecelakaan atau insiden yang tak dikehendaki di jalan maka jasa atau peranan Petruk sangat diperlukan. Ahmad mengaku, meskipun peran atau keberadaan Petruk dianggap negatif namun secara positif peranan Petruk sangat diperlukan oleh para sopir.
“Selama ini pengurus kan memberi informasi terkait kapal mana yang akan dipergunakan untuk penyeberangan sehingga efesiensi waktu bisa dilakukan,”ujar Ahmad.
Sementera beberapa pengurus truk lain mengaku maraknya para pengurus truk tersebut secara tidak langsung telah memberi lapangan pekerjaan bagi sebagian orang. Sebab para sopir dan pengurus truk sama sama membutuhkan saat truk ekspedisi akan menyeberang menggunakan kapal.
Komunikasi yang canggih di zaman modern ini bahkan semakin memudahkan sehingga saat sopir truk belum mencapai Pelabuhan Bakauheni para sopir bisa memantau kondisi pelabuhan Bakauheni.
“Saya terbantu karena saya bisa menelpon pengurus apakah situasi pelabuha Bakauheni padat atau kah lancar sehingga kita bisa lebih memanage waktu,”ungkap salah satu sopir ekspedisi, Zainudin.
Cara cara tersebut yang menurut Zainudin agak aneh di kalangan awam merupakan hal biasa selama dirinya menjadi sopir. Pengawalan, bantuan bantuan jasa hingga ke Pelabuhan Bakauheni terlepas legalitas caranya membuat kelancaran truk ekspedisi lebih lancar.
Namun dalam situasi tertentu, celah celah oknum yang tak bertanggungajwab menjadi momen untuk memanfaatkan kesempatan. Salah seorang sopir, Andi (45) mengaku dalam situasi tertentu saat kepadatan antrian menuju kapal dan kondisi cuaca buruk sehingga antrian menjadi panjang maka muncul istilah “jalur tembak”.
Jalur tembak tersebut sempat marak namun seringkali ditindak oleh pihak pelabuhan karena merugikan para sopir dan pengurus truk. Kerugian disebabkan oknum petugas keamanan di pelabuhan terkadang memanfaatkan untuk memuluskan antrian bahkan memprioritaskan kendaraan tertentu untuk lebih dahulu masuk ke dalam kapal dengan memberi imbalan uang ratusan ribu rupiah.
“Pernah terjadi demikian namun kini sepertinya sudah tak ada lagi karena jumlah kapal serta jumlah dermaga semakin banyak sehingga kelancaran lebih baik,”ungkap Andi.
Andi sebagai salah satu sopir yang belasan tahun menjadi sopir ekspedisi mengaku keberadaan Petruk merupakan hal yang unik. Kebutuhan saling menguntungkan antara petruk dan sopir telah terjadi selama bertahun tahun dan secara langsung memperlancar distribusi barang.
“Wajarlah kita memberi uang jasa atas pelayanan yang kita peroleh diantaranya membelikan tiket sebelum masuk pelabuhan dan mengawal hingga ke dermaga,” ungkap Andi.
Jasa Petruk tetap masih diperlukan menurut para sopir dan keberadaan mereka masih tetap eksis meskipun tudingan serta cibiran miring kerap menerpa para Petruk tersebut. Para Petruk yang bekerjasama dengan bos bos pemilik kendaraan akan memperoleh uang jasa dari pemilik kendaraan selama proses ekspedisi berlangsung dan mereka memberikan kemudahan bagi para sopir dan juga pemilik kendaraan. 

——————————————————-
SABTU, 20 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...