Wanita Ketigabelas

CERPEN – ” Toha. Kapan dirimu akan menikah nak,? Teman-teman sepermainanmu sudah pada memiliki anak. Lihat Bobi dan Saut. Mareka sudah punya anak. Ibu sudah lama merindukan ingin menimang cucu, nak. Apalagi usiamu sudah sangat pantas. Sudah 30 tahun. Pekerjaan mu sudah  mantap. Apa lagi yang engkau pikirkan dan risaukan nak? Kami sebagai orangtuamu sudah tua. Hanya cucu kebahagian bagi kami sekarang ini, nak. Itulah kebahagian kami yang hakiki saat usia seperti ini, nak. Menimang cucu.,” ungkap Ibunya.
” Sabar bu. Sabar. Saya sedang mencari. Tidak gampang mencari wanita pada zaman kini bu. Tidak gampang,” jawab Toha beralasan.
” Apa Ibu yang mencari jodoh buatmu? Anaknya Ibu Dedi cantik lho Toha. Orangnya santun. Berpendidikan pula,” ujar Ibunya lagi.
” Ha…ha…ha…,” Toha ngakak. ” Ibu,ibu. Kini bukan zaman Siti Nurbaya. Kini zamannya moderen. Zaman mesin,” ungkap Toha sembari tertawa sambil memeluk sang Ibu dengan penuh kasih sayang.
Toha bersiul. Tangannya terus menyisiri rambutnya yang hitam pekat. Sesekali melihat wajahnya dicermin. Wajah mirip rocker Ahmad Albar di masa-masa tahun 70-an saat rock menjadi musik primadona di tanah air. Dan Toha amat bersyukur kepada sang pencipta yang telah memberinya wajah yang flamboyan sebagai seorang lelaki.
Apalagi dengan dukungan pendidikan yang tinggi membuat postur Toha sebagai lelaki amat sempurna dan mapan sebagai kepala rumah tangga. Dan tak heran pula, begitu banyak wanita yang kasmaran dan berharap menjadi pendamping hidup Toha dalam menyusuri kehidupan yang makin ganas dan terjal. 
Namun hingga usianya berkepala tiga, Toha belum juga menambatkan hatinya pada seoorang wanita yang akan mendampingi hidupnya dalam berkehidupan.
Sebenarnya sudah lama Toha tertarik kepada Minah gadis yang tinggal di Dusun Rakesah. Namun Toha tidak bisa menemukan cara bertemu dan berkenalaan dengan wanita itu. 
Tapi siapa sangka, pengerjaan proyek sumur bor di Dusun Rakesah telah membuat keduanya bertemu dan berkenalaan. Pak Kadus Rakesah lah yang berjasa mempertemukan Toha dan Minah.
Sore itu Toha sedang berbincang dengan Pak Kadus soal penempatan lokasi sumur bor yang dibiayai oleh dana Bank Dunia untuk masyarakat Dusun Rakesah. Tanpa disangka Minah muncul dan datang. Minah dengan penuh kesantuan dan gaya bahasa yang halus mempertanyakan lokasi sumur bor yang berada di sekitar rumahnya.
” Maaf, bapak-bapak. Mengganggu sebentar. Saya cuma mau menanyakan, apakah lokasi sumur bor yang rencananya akan dibangun di dekat rumah kami sudah tepat sasaran dan tepat guna,” tanya Minah dengan santun.
” Oh, ya Toha. Ini Minah anak pak Renggo. Imam masjid kami disini,” ujar Pak Kadus memperkenalkan Toha kepada Minah. Keduanya pun bersalaman.
” Itu adalah lokasi yang sudah ditetapkan pihak Kabupaten. Tentunya dengan pertimbangan berbagai faktor. Dan saya yakin pihak Kabupaten telah mempertimbangan keberadaan lokasi sumur bor di dekat rumah Mbak dengan seksama untuk kepentingan masyarakat disini,” jelas Toha penuh wibawa.
” Saya berharap Pak Kadus dan Bapak mempertimbangkan kembali lokasi pembangunannya. Soalnya masih banyak lokasi yang belum tersentuh sumur bor. Lagi pula disekitar rumah saya warganya sudah memiliki sumur tersendiri. Dan alangkah baiknya kalau usul ini dipertimbangkan kembali sehingga tidak ada kemubaziran. Ada azaz manfaatnya” ujar Minah. Toha dan Pak Kadus pun terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan Minah.
Esok malamnya Toha berniat berkunjung ke rumah Minah untuk membicarakan soal relokasi pembangunan sumur bor ke tempat lain sebagimana yang disaran Pak Kadus. Hanya dalam tempo 15 menit, Toha sudah tiba di depan rumah Minah. 
Dan Toha amat tertegun ketika mendengar suara indah seorang perempuan yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-quran dengan sangat fasih dan menggetar hati yang mendengarnya. Hati Toha pun tergetar. Baru kali ini pria lulusan Universitas ternama Ibukota ini kalau berkunjung ke rumah wanita disuguhi dengan lantunan ayat-ayat suci yang indah dan menggetarkan hati. Ada kerinduan yang luarbiasa dari Toha. Ada rasa lain di hati Toha yang tak bisa diungkapkan pria berwajah flamboyan ini.
Minah bukanlah gadis yang cantik jelita yang selama ini pernah dikenal Toha sebagai pria dewasa. Wanita ini berbeda dengan Agnes, Bella, Cyntia, Dona, Eva, Fani, Geni, Harum, Iin, Jazzy, Kirey, dan Lola yang pernah mengisi ruang hati terkasih Toha. 
Tampilan fisiknya biasa saja. Yang membuat Minah berbeda dengan duabelas wanita lainnya itu adalah Minah cerdas, peduli lingkungan dan memiliki perhatian terhadap anak-anak Dusun Rakesah. 
Minah dengan senang hati mengajarkan ngaji bagi anak-anak Dusun pada malam hari di rumahnya yang sederhana dan ditumbuhi berbagai bunga dan tanaman-tanaman tradisional yang sudah amat jarang dilihat dan hampir punah.
Disela-sela waktunya membantu Bapak dan Ibunya di rumah. Minah selalu menyempatkan diri untuk mengabdikan pengetahuannya sebagai lulusan Madrasah. Memberi pengetahuannya bagi ibu-ibu di Dusun Rakesah dan dusun-dusun sekitar Rakesah tanpa bayaran sepeser pun. 
Dan bukanlah suatu yang aneh kalau  kemudian Toha mengetahui sebuah fakta bahwa Minah adalah qoriah terbaik tingkat Kabupaten. Suaranya amat indah dan merdu saat mengaji. Lantunan ayat-ayat suci Al-quran yang dilantunkannya menyayat hati dan membuat orang yang mendengarnya bergidik. Ingin tobat dari aksi purba. 
Dan Toha telah merasakannya. Telah menikmati keindahan suara Minah saat mengaji yang membuatnya membatalkan masuk kerumah Minah dan ngacir dengan sepeda motornya bak orang maling yang ketahuan penduduk.
Setiap hari Minah dengan sepedanya usai Ashar menmpuh perjalanan ke dusun-dusun sekitar untuk memberi pengetahuan dan membagi ilmu kepada ibu-ibu pengajian. Rutinitas tanpa henti ini dijalani Minah dengan senang hati dan bahagia. 
Tak ada raut kesedihan dan kelelahan di wajahnya yang biasa-biasa saja. Cuma dari rona wajahnya tersimpan wajah bersih yang mencerminkan dan mengindentifikasi bersihnya hati seorang wanita yang kini amat jarang dan langka ditemui di kehidupan dunia yang makin tua ini dimana manusia menjadikan materi, pangkat, dan kehormatan diri sebagai panglima kendati untuk mencapainya mareka terkadang harus melacurkan diri demi mendapatkan predikat itu dan mengahalakan segala cara. Tak terkecuali dengan aksi  memfitnah dan mempraktekkan cara-cara purba.
Petang itu, dari kaca jendela basecamp proyek sumur bor, Toha melihat Minah pulang dengan sepedanya. Hati Toha gelisah dan ingin memanggil. Namun kerongkongan dan mulutnya seolah-olah tersumbat. Dan dalam sekian menit, Minah menghilang dari pandangan mata mudanya sebagai lelaki. Toha pun keluar basecamp. Namun bayangan Minah telah menghilang. Entah kemana. Yang didapatinya justru jalan dusun yang sunyi dan senyap. Para penghuninya sibuk dengan urusan masing-masing. 
Yang dilihatnya adalah jalanan Dusun yang tak beraspal. kadang berdebu di musim kemarau. Kadang becek saat musim penghujan menghampiri Dusun ini. Rasa sesal pun menyelimuti relung hati Toha. Kenapa tadi dirinya tidak keluar dan sekedar menyapa dengan salam assalamualaikum.
Dan kini ada kebiasaan baru Toha menjelang Ashar yakni duduk diteras basecamp proyek sumurbor. Pandangan matanya tertuju ke jalanan. Melihat sesuatu. Dan merasakan sesuatu yang hadir dalam nuraninya sebagai lelaki dewasa. Ada kenikmatan tersendiri yang tak bisa terungkapkan dengan kata-kata dan puisi para pujangga. Sesuatu yang amat nyaman. membahagiakan hatinya. 
Kerinduan Toha untuk bertemu dan berbicara empat mata dengan Minah selalu batal dan gagal. Pertemuan pertama dan pembicaraan pertama dengan Minah adalah ketika membicarakan lokasi sumur bor ke tempat lain. Itu pun ada Pak Kadus. Toha terus menyimpan kerinduan ingin berbicara dengan Minah. Ingin menyampaikan kerinduan hatinya yang sedang dilanda kasmaran kepada Minah. Toha ingin menyampaikan suara hatinya kepada Minah biar didengar dan ditanggapi sebagaimana kerinduan rakyat yang ingin suaranya didengar dan direspon wakilnya di DPRD dan pemimpin daerah.
Kerinduan Toha untuk mengajak Minah sekedar jalan-jalan ke tepi pantai sembari melihat mentari yang mulai menidurkan diri dikaki langit bak keinginan punguk merindukan bulan. Keinginan Toha mengajak Minah menikmati lezat dan nikmatnya masakan di restoran di Ibukota Kabupaten hanya mimpi di hari siang bolong. Kerinduan Toha untuk memperkenalkan Minah kepada rekan sejawat dan kolega bak janji-janji besar yang dilontarkan calon pemimpin saat kampanye pemilukada yang tak pernah terealisir.. 
Bahkan kerinduannya untuk memperkenalkan Minah kepada kedua orangtuanya bak mimpi dan impian tidur disiang hari  Keinginannya untuk memperkenalkan Minah kepada sahabat dan rekan sejawatnya bak punguk rindukan bulan. Entah kapan. Dan entah kapan kerinduan untuk bersama Minah akan terealisir dan terwujud. Entah kapan.
” Bung, Minah itu bukan wanita biasa,” ujar Bobi.
” Sangat benar apa yang diucapkan Bobi itu. Minah adalah representasi dari Kartini Indonesia masa kini. Bersahaja namun berkarakter. Sederhana namun bermartabat sebagai wanita,” sambung Saut. 
Toha cuma terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan kedua teman karibnya itu. Dalam hati Toha membenarkan ucapan kedua teman sejatinya. Minah memang bukan wanita biasa. 
Dan entah berapa belas kali atau mungkin puluhan kali keinginan Toha untuk datang ke rumah Minah selalu terganjal dan gagal. Kendati telah memarkirkan kendaraan roda duanya di depan pekarangan rumah Minah, namun langkah kakinya terasa berat dan berat. Tapi Toha merasakan kenikmatan yang tak terperikan  ketika lantuanan ayat-ayat suci yang berkumandang dari dalam rumah yang digemakan  Minah dengan nada-nada yang indah dan amat fasih menyentuh kalbu nurani hatinya. Melapangkan hatinya. menjernihkan jiwa raganya.
Dan itulah kebahagian yang luarbiasa yang dinikmatinya walaupun tak bisa bertemu dan berbincang dengan Minah. Kebahagian yang tak bisa Toha nikmati dan dapatkan ketika dirinya bertandang ke rumah wanita-wanita lainnya yang pernah mengisi hatinya. Dan kebahagian itu adalah kebahagian hakiki Toha. Ada kedamaian dalam hatinya. Ada keindahan hidup yang nikmat dan nyaman. Ada cahaya kehidupan yang diperolehnya. Ada kesejukan dalam relung hatinya. Dan itulah kebahagian hakiki Toha.(*)
Toboali, Bangka Selatan
——————————————————-
Minggu, 7 Juni 2015
Penulis       : Rusmin Toboali
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...