Warga Keluhkan Kendaraan Proyek Pembawa Tanah Akibatkan Debu

Pengerukan tanah yang digunakan untuk landasan jalan tol
LAMPUNG – Warga di Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan mengeluhkan kendaraan bermuatan tanah merah yang melintas di wilayah mereka. Keluhan warga tersebut cukup beralasan sebab dari pagi hingga sore sekitar puluhan kendaraan bak terbuka berukuran besar melintas membawa material tanah dari lokasi pengerukan.
Truk truk bermuatan tanah merah tersebut tak jarang membawa batu batu berukuran genggaman tangan orang dewasa yang jatuh di Jalan Lintas Sumatera yang dinilai mengganggu pengendara.
“Batu batu yang berada di jalan memang tak besar tapi bagi pengendara kendaraan bermotor roda dua sangat membahayakan, belum lagi debu tanah yang beterbangan menggangu pernafasan pengguna jalan yang melintas,” ujar Sobri (40), salah seorang warga di dusun Siring Itik kepada Cendananews.com Kamis(11/6/2015).
Tumpahan tanah tersebut menghasilkan debu saat panas di sepanjang jalan dari lokasi pengerukan hingga lokasi penimbunan di Bakauheni. Kondisi berdebu dirasakan oleh warga saat panas, sementara saat musim hujan tanah merah yang tercecer di jalan membahayakan pengendara karena jalanan menjadi licin.
“Kalau hujan turun tanah merah menjadi licin sehingga membahayakan bagi pengendara motor karena licin bagi ban,” ujar Sobri.
Berdasarkan salah satu penanggungjawab proyek yang tak mau disebut namanya, sejumlah truk proyek tersebut melintas di Jalan Lintas Sumatera membawa material tanah merah untuk pemadatan rencana jalan tol Sumatera di titik nol Bakauheni. Namun sisa sisa jejak ban mobil membawa tanah akibatkan jalan rigid yang terbuat dari semen berlumpur dan berdebu serta licin saat hujan turun.
Ia menuturkan dalam dua pekan sebanyak 348 kendaraan truk telah mengangkut tanah merah untuk dipergunakan sebagai tanah timbunan. Kendaraan lalu lalang tersebut menurut warga telah meresahakan termasuk angkutan yang dibawanya.
“Warga berharap ada penyiraman saat musim panas sebab dipastikan akan masih berlangsung proses pengangkutan material tersebut dan mengganggu pernafasan warga,” ujar warga lain Teguh  yang mengaku harus mengenakan masker saat melintas.
Salah satu warga yang melintas di Jalinsum Burhanudin (34) menuturkan ketika melintasi jalan ia terpaksa pelan-pelan.
“Truk proyek yang melintas menimbulkan debu. Kita terpaksa pelan-pelan melintas disini,” ungkap Siska yang menggunakan kendaraan roda dua.
Dikatakan, seharusnya, pihak kontraktor yang mengerjakan proyek jalan tersebut harus memperhatikan juga lingkungan sekitar, karena Jalinsum jalan umum yang banyak dilintasi masyarakat.
“Perlu diperhatikan juga. Kalau bisa disiramlah. Agar debu-debunya tidak menimbulkan polusi udara. Tak peduli siapa yang punya proyek yang jelas faktanya ini mengganggu warga baik dari segi kesehatan juga segi keamanan pengguna jalan,,”ungkapnya.
Salah seorang warga Desa Siring Itik lainnya Yunni (34) mengaku ia yang setiap hari mengantarkan anaknya yang bersekolah di salah satu Sekolah Dasar di Bakauheni dan membawa kendaraan roda dua, mengeluhkan debu yang ditimbulkan akibat lalu lalang truk proyek.
“Setiap hari kami selalu berangkat dan pulang sekolah berpapasan dengan kendaraan truk tersebut dan debunya sangat mengganggu sehingga harus mengenakan masker karena mengganggu pernafasan dan kesehatan mata,”ungkapnya.
Ia meminta agar pihak pengguna truk melintas pelan-pelan di Jalinsum atau pihak kontraktor melakukan pembersihan tanah yang menempel di jalan supaya tidak menimbulkan debu yang berterbangan serta batu batu kecil yang berserakan di jalan raya. 
——————————————————-
Jumat, 12 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...