Wisata Sejarah Arca Joko Dolog Surabaya

Arca Joko Dolog Surabaya

SURABAYA – Kota Pahlawan selain dikenal sebagai kota metropolitan kedua setelah Jakarta ternyata menyimpan banyak situs peninggalan masa lampau. Salah satunya Arca Joko Dolog yang berada dibelakang taman Apsari Surabaya.
Tempat wisata sejarah ini banyak dikunjungi oleh masyarakat yang ingin berziarah maupun masyarakat yang ingin melihat lebih dekat Arca Joko Dolog ini.
Menurut Juru Kunci, Sugianto (59 tahun) tempat ini sering didatangi oleh para pejabat untuk melakukan ritual tertentu. Termasuk pada saat bulan Suro banyak masyarakat yang datang untuk berziarah.
“Banyak masyarakat datang kesini untuk istilahnya berziarah menghormati para leluhurnya” Jelasnya.
Arca Joko Dolog merupakan simbol perwujudan Prabu Kertanegara Raja Singhasari. Di komplek situs peninggalan sejarah ini selain arca utama yaitu Arca Joko Dolog sendiri, terdapat pula arca-arca yang lebih kecil disepanjang jalan masuk. Serta sebuah tempayan air sebagai tempat air suci yang terletak di bagian sebelah kiri gapura. Yang menarik disekeliling alas duduk Arca Joko Dolog terdapat tulisan berbahasa Sansekerta yang dikenal sebagai prasasti Wurare. Disebut Wurare karena dituliskan disebuah tempat yang bernama Wurare.
Tulisan ini berupa sajak serta memakai huruf Jawa Kuno dan ditulis oleh Mpu Bharadhah. Isi prasasti ini yaitu mengenai persoalan pembagian kerajaan Jawa menjadi Jenggala dan Panjalu, yang dilakukan oleh Arrya Bharad (Mpu Bharadah) akibat terjadinya perebutan kekuasaan diantara putra mahkota. 
Namun pada masa pemerintahan Raja Jayacriwisnuwardhana dan permaisurinya, Crijayawardhani kedua daerah tersebut dipersatukan kembali. Selain itu, didalam prasasti ini tertulis tentang Pentahbisan raja sebagai Jina dengan gelae Cri Jnanjaciwabraja.
Prabu Kertanegara merupakan orang yang bijaksana dan berpengetahuan sangat baik di bidang hukum, selain itu ia merupakan raja yang pandai dalam dharma dan sastra.
Pengelolaan tempat pariwisata ini oleh Dinas Pariwisata Surabaya, namun perawatan maupun pemugarannya dilakukan atas inisiatif masyarakat sendiri.

——————————————————-
Selasa, 16 Juni 2015
Jurnalis       : Charolin Pebrianti
Fotografer : Charolin Pebrianti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...