Wisma Tumapel, Satu Tempat Pemotretan Favorit di Kota Malang

MALANG – Kota Malang terkenal banyak memiliki bangunan-bangunan tua bersejarah peninggalan jaman pemerintahan Belanda, salah satunya adalah Wisma Tumapel. Sesuai namanya, bangunan tua ini berada di Jalan Tumapel Kota Malang yang lokasinya tidak jauh dari Balaikota.
Menurut salah satu penjaga Wisma Tumapel, bangunan tua ini pertama kali dibangun pada tahun 1902 oleh Belanda yang digunakan untuk kanselir. Kemudian sempat digunakan sebagai Hollandsch Inlandsche School (HIS), dan sebelum diambil alih oleh Jepang, bangunan ini juga pernah dijadikan sebagai Hotel oleh Belanda yang diberi nama Hotel Splendid.
“Setelah jaman Kemerdekaan, bangunan ini juga pernah digunakan oleh beberapa instansi seperti Palang Merah Indonesia (PMI) dan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Airlangga Surabaya, sebelum akhirnya dikelola oleh Universitas Negeri Malang (UM) sampai sekarang dengan nama Wisma Tumapel,” jelasnya.
Bangunannya yang kokoh dengan dinding yang tebal disertai Pintu dan jendela-jendela yang didominasi kaca dan kayu dengan ukurannya cukup tinggi serta lorong dan tangga-tangga yang berada di beberapa ruangan yang mencirikan bangunan tua khas Belanda, membuat tempat ini sangat cocok digunakan sebagai tempat pemotretan, khususnya para fotografer.
Disebutkan, setelah dibiarkan kosong sejak tahun 2009, bangunan tua ini memang sering dikunjungi oleh masyarakat umum baik dari dalam maupun luar Malang.
“Ada yang datang karena rasa penasaran, namun rata-rata yang datang kesini ingin mengabadikan foto mereka dengan berlatar belakang gedung tua ini, terutama para fotografer”, jelas penjaga wisma. 
Menurut pantauan CND, memang cukup banyak masyarakat terutama para remaja yang datang ke bangunan tua ini untuk berfoto, tak jarang mereka juga membawa pakaian dan properti khusus untuk di gunakan dalam pemotretan.
Meski sering dikunjungi dan sering dijadikan tempat pemotretan, namun sayang dibeberapa ruangan terlihat cat dinding yang mulai memudar bahkan sudah ditumbuhi lumut. Atap-atap yang sudah usang, kamar mandi yang sudah tidak dapat digunakan, dan beberapa kaca jendela yang dibiarkan pecah, ditambah banyaknya coretan-coretan pada dinding dari tangan jahil para pengunjung menandakan bahwa tempat ini memang sudah lama ditinggalkan para penghuninya dan jarang mendapatkan perawatan. Hal ini dibenarkan oleh penjaga wisma.
“Tidak ada dana khusus yang digunakan untuk perawatan bangunan ini, jelasnya.
Tidak semua ruangan di gedung tua ini dapat dimasuki para pengunjung, terdapat beberapa ruangan yang sengaja dikunci. Berdasarkan keterangan penjaga wisma, di ruangan-ruangan tersebut sengaja diberi gembok karena didalamnya terdapat aset-aset milik UM, sehingga orang yang tidak berkepentingan tidak dapat masuk kedalam ruangan tersebut.
——————————————————-
SENIN, 29 Juni 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...