40 Tahun Berjualan Mukena, Hanya Untung di Bulan Ramadhan

CENDANANEWS (Padang) – 11 bulan lamanya Yeni (30) bersabar dalam berjualan. Karena pesan mendiang neneknya, memang begitu adat berjualan mukena. Hanya pada Ramadhan saja lakunya. 
Yeni merupakan keturunan ke tiga yang menjalankan toko mukena dan baju muslim “Mande Kanduang Berjaya”. Toko yang terdapat d bawah Padang Theater tersebut telah mengalami 39 kali kemalingan. Namun tetap melayani pelanggannya selama 40 tahun lebih.
Yeni
“Nenek berpesan, kalau bulan Ramadhan datang pembeli adalah raja dan tamu utama. Pantang lepas ke kedai orang lain,” ujar Yeni saat cendananews mampir di toko berukuran 2×3 meter tersebut.
Bersaing dengan sesama penjual mukena dan baju koko lainnya bukan soal. Namun yang menjadi masalahnya adalah penjuaan di luar bulan Ramadhan yang sering tidak mampu menutupi ongkos. Bahkan ia mengaku, jual beli di luar bulan Ramadhan selama sebelas bulan hanya mampu membayar iyuran kebersihan saja.
“Jika diluar Ramadhan, hanya 2-3 helai saja yang terjual. Itupun sudah susah dan hanya dibeli mereka yang akan menikah saja,” kisah Yeni.
Maka dibulan penuh berkah ini, yeni dan pedagang mukena lainnya memanen kesabaran mereka selama sebelas bulan yang lampau. Menurut Yeni, jika H-15, ia bahkan mengajak kemenakan atau saudaranya untuk membantu melayani pelanggan.
“Saat jelang lebaran ini, saya tidak mampu sendiri. Minimal mengajak dua anggota keluarga untuk membantu. Untuk penjualan sendiri, minimal 2 kodi jelang siang sudah habis,” lanjutnya.
Yeni menjelaskan, mukena yang paling banyak terjual adalah mukena untuk anak-anak. Hal tersebut kemungkinan karena banyak anak-anak yang meminta mukena baru untuk mengikuti agenda pemko (Pemerintah Kota) Padang, yaitu Pesantren Ramadhan.
Harga yang ditawarkanpun beragam, Untuk mukena jenis parasut, ia menjual dengan harga Rp35 ribu hingga Rp60 ribu. Sedangkan untuk mukenah handmade dan sulaman asli minangkabau ia mematok harga minimum Rp 1.200.000 permukena-nya. Itupun tergantung kualitas bahan dan jenis sulamannya.
Namun sayangnya selama 40 tahun berjualan, hanya tahun ini daya beli masyarakat melemah. Yeni menceritakan kisah orang tuanya, dan neneknya yang panen rezeki setiap Ramadhan. Bahkan Yeni yang sudah belasan tahun berdagang mengeluh di tahun ini.
“Semenjak pemerintahan yang baru ini, daya beli masyarakat lemah. Orang-orang lebih banyak mempertimbangkan kebutuhan pokok dari mukena. Karena mukena ini kan bukan kebutuhan pokok, sedangkan harga-harag kebutuhan pokok melambung tinggi. Kami yang berjualan mukena tentu jadi pilihan yang kesekian dari masyarakat,” jelas Yeni, Senin (6/7/2015).
Ia tidak menuding pemerintah, namun hanya kecewa saja dengan perubahan ekonomi yang drastis jual belinya tidak serupa tahun-tahun sebelumnya.
“Meski tidak merugi dan tetap banyak pembeli. Namun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” pungkas Yeni.
Lain halnya dengan pedagang mukena lainnya Ikhlas (36) Menurutnya, hal tersebut kemungkinan karena kondisi perekonomian masyarakat yang semakin sulit, menyebabkan pembelian mukena pada bulan Ramadhan turun dari tahun sebelumnya.
Ikhlas mengatakan penjualan mukena di bulan Ramadhan meningkat dari hari biasa, meskipun tidak terlalu besar.
“Pada bulan Ramadhan memang selalu terjadi peningkatan jumlah pembeli mukena setiap tahunnya,” katanya.
Ia menjelaskan, kebanyakan masyarakat ingin memakai mukena yang baru untuk melaksakan shalat tarawih yang hanya datang satu kali dalam setahun.

——————————————————-
SENIN, 06 Juli 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Fotografer : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...