Agus Salim Si Petani Tebu: Sekolahkan Anak Dengan Mengolah Tebu Jadi Gula Merah

CENDANANEWS (Agama/Sumbar) – Dari wajahnya, siapa sangka pria ini sudah berumur 50 tahunan. Bangun dan mandi di pukul 04.00 pagi serta selera humor yang tinggi, jadi kunci agar awet muda kisahnya. Agus Salim (50), Warga Nagari Bukik Batabuah, Kecamatan Canduang Kabupaten Agam ini hanyalah seorang petani tebu.
Meski memiliki kegemaran yang sama,  dengan tokoh pejuang dan Menteri Luar Negeri pertama Indonesia yakni The Old Man Agus Salim. Yakni sama-sama menyukai rokok kretek, dan orang Minang. Sayangnya Agus Salim, petani tebu tidak secemerlang tokoh inspirator itu.
Namun, jangan salah. Agus Salim atau yang akrab di sapa Mak Guih ini, meski hanya berkutat dengan tebu, kerbau, kayu, dan air rebusan tebu atau yang biasa disebut tangguli. Telah meluluskan anak-anaknya menjadi Sarjana. Enam orang anaknya mampu ia sekolahkan dengan pengolahan tebu menjadi gula merah dengan cara yang sanagt tradisional.
“Lebih aman, Praktis dan tidak tergantung pada pemerintah,” ujar Agus Salim pada CND di tempat kerjanya di Jorong Batang Silasiah, Nagari Bukik Batabuah Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Minggu (5/7/2015).
Ia tidak mampu serta tidak mau membeli mesin yang lebih modern dalam mengolah tebu menjadi gula merah. Mesin penggiling dan pemeras tebu, enggan ia gunakan. Ia masih memilih menggunakan tenaga kerbau sebagai pemutar penggilingnya. Selain irit dan tidak memerlukan bahan bakar minyak (BBM) yang harganya selangit. Kerbau juga multi fungsi, ampas tebu yang telah di perah bisa dijadikan sebagai makanannya.
Mak Guih sudah puluhan tahun melakoni pekerjaan ini. Satu dari enam orang anaknya telah diwisuda tahun lalu di universitas negeri ternama di Kota Padang, dua orang lagi tengah berada di semester akhir pada universitas yang pertama kali ada di Sumatera. Tiga orang anak lainnya tengah sekolah, satu di MAN (Madrasah Aliyah Negeri) unggulan di Kota Bukittingi, satu lagi SMP dan anak yang terakhir masih di bangku SD.
“Dulu saya pegawai kontrak di PDAM, namun sudah diputus kontrak puluhan tahun yang lalu. Tidak ada pilihan lain, selain sesuai dengan tenaga dan kemampuan. Ini juga melestarikan tradisi, sebab dengan masuknya teknologi banyak yang beralih menggunakan mesin,” jelasnya.
Untuk membuat gula merah secara tradisional ini, ia membutuhkan waktu selama lima hari dalam seminggu dengan jumlah produksi 30 kilo gula merah yang telah jadi dalam sehari. Ia tidak bekerja sendri, tiga anak lelakinya turut membantu sepulang sekolah.
“Meski bulan Ramadhan, tetap saja kami bekerja seperti biasa. Tidak ada alasan, bekerja juga ibadah,” lanjutnya.
Tempat bekerja yang biasa di sebut masyarakat dengan Pondok Kilangan, sedangkan proses pembuatan gula merah di sebut “Mangilang Tabu”. Pondok kilangan Mak Guih in jauh dari pemukiman warga, berada tepat di tengah kebun-kebun tebu warga lainnya. Sehingga untuk menuju pondok kilangannya butuh waktu 30 menit hingga 45 menit berjalan kaki dari jalan desa yang masih berupa tembok itu.
Selama mangilang, Mak Guih harus membawa serta anjing peliharaannya. Karena setelah kebun tebu yang berada di lereng-lereng bukit itu. Hanya hutan dan rimba raya serta puncak gunung Marapi. Maka tak salah banyak babi dan hewan buas lainnya berkeliaran.
Bersambung


——————————————————-
MINGGU, 05 Juli 2015
Jurnalis       : Muslim abdul rahmad?
Fotografer : Muslim abdul rahmad?
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...