Aparat Keamanan Kawal Ketat Tradisi Pukul Sapu Mamala dan Morela

CENDANANEWS (Ambon) – Ritual Pukul Sapu di Desa Mamala dan Morela, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku Jumat (24/7/2015) digelar tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Pasalnya, kegiatan yang dilakukan tepat tanggal 7 Syawal ini, dijaga ekstra ketat oleh ratusan aparat gabungan dari TNI dan Polri, Jum’at (24/7/2015) sore.
Pengawalan ketat aparat keamanan dimaksudkan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi menyusul sebelum Minggu 19 Juli 2015 kedua desa itu terlibat bentrokan hingga menewaskan salah satu anggota Briomb Polda  Maluku.
Selain dijaga ketat para anggota TNI dan Polri, tradisi pukul sapu kedua desa adat yang sering menjadi perhatian wisatawan asing maupun warga di pulau Ambon itu terlihat sepi pengunjung. Kondisi ini berbeda jauh jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Tampak dari jumlah kendaraan beserta pengunjung yang hadir menyaksikan secara langsung agenda tahunan tersebut. Biasanya, saat kegiatan itu berlangsung, kedua negeri yang berada di sebelah utara Ibukota Provinsi Maluku (Kota Ambon) dipadati pengunjung.
Bahkan, sampai-sampai tidak ada ruang untuk tempat parkir kendaraan roda empat maupun roda dua. Selain itu ritual kali ini, juga tidak nampak para wisatawan dari negara lain yang mengabadikan moment budaya Nasional yang dilakukan sekali dalam setahun itu.
Bukan saja para wisatawan yang tidak terlihat para pejabat teras dari instansi pemerintahan kabupaten maupun provinsi tidak nampak sama sekali, seperti Bupati atau Wakil Bupati, Gubernur atau Wakil Gubernur, Kapolda Maluku maupun Pangdam XVI Pattimura.
Kendati tidak ada para pejabat pemerintah yang menyaksikan ritual kedua Negeri adat yang berjarak sekitar 36 kilometer dari pusat Kota Ambon itu, namun prosesi yang dilaksanakan usai Shalat Ashar sekitar pukul 16.00 WIT (14.00 WIB), tetap berjalan aman dan lancar.
Sebelum masuk ke acara puncak (pukul sapu), didahuli dengan berbagai kegiatan dipentaskan seperti atraksi tarian bambu gila, tarian-tarian adat, serta pementasan drama kolosal yang menceritakan tentang asal muasal hingga tradisi ini masih tetap dilestarikan dan dipertahankan kedua Negeri penghasil minyak mujarab itu.
Terlihat belasan sampai puluhan pemuda berdiri saling berhadapan sambil memengang ikatan sapu lidi dari batang damar. Mereka diberitakan tanda dengan bunyi peluit yang ditiupkan oleh seseorang sebagai wasit untuk memandu dua kelompok yang akan bermain.
Bunyi seruling wasit sebagai tanda kepada kedua peserta saling memukul hingga sekujur tubuh para peserta bersimbah darah akibat luka sayatan sapu lidi.
Para peserta meyakini luka-luka yang dialami dapat disembuhkan setelah tubuh mereka yang terluka itu diberikan minyak yang terbuat dari kelapa yang dimasak.
Tradisi itu bertahan hingga kini di Negeri Morela dan Mamala, para pemuda dan lelaki dewasa ikut dalam tarian pukul sapu itu.
Mereka meyakini ikut pukul sapu merupakan kebanggaan dan ujian kejantanan sebagai seorang laki-laki. Pukul Sapu di Negeri Mamala merupakan tradisi yang dilakukan sebagai pembuktian keampuhan minyak khasnya yang terbuat dari buah kelapa yang dimasak.
Setelah itu, minyak tersebut lalu dibacakan do’a oleh Imam Mesjid Negeri tersebut yang berasal dari marga Mony. Konon, minyak tersebut dapat menyembuhkan luka-luka yang diderita akibat sayatan sapu-sapu lidi yang ditebas dibagian tubuh para peserta tarian tersebut.
Bahkan minyak yang telah di do’akan tu, diyakini dapat digunakan sebagai perekat atau penyambung tulang manusia akibat luka patah. Minyak itu juga diyakini warga bisa dipakai sebagai perekat kayu mesjid atau rumah jaman dahulu yang tidak memakai paku yang terbuat dari besi seperti saat ini (dahulu disebut sebagai “peng” yang terbuat dari kayu).
Sedangkan untuk Negeri Morela sendiri, ritual pukul sapu yang kerap dilakukan tiap tahun, sebagai sebuah ritual untuk mengenang perjuangan Kapitan Tulukabessy dalam mengusir dan melawan penjajah Portugis dan Belanda.
Budaya yang telah bertahan ratusan tahun ini berakar pada perjuangan Kapitan Telukabessy yang memimpin perjuangan rakyat Maluku melawan VOC tahun 1636-1646. Setelah dikalahkan, Kapitan Telukabessy dihukum mati. Pasukannya kemudian membubarkan diri dengan acara pukul sapu.
——————————————————-
JUMAT, 24 Juli 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Fotografer : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...