Arus Balik Membawa Kaum Urban yang Ingin Bekerja di Sektor Informal


LAMPUNG — Bagi sebagian orang arus balik menjadi momen untuk mengadu nasib di kota besar sehingga tak terelakkan warga dari pedesaan berangkat ke kota besar. Perpindahan warga ke kota besar khususnya yang berasal dari Pulau Sumatera sLah satunya dari Provinsi Lampung  dan provinsi lain di Sumatera selalu terjadi saat arus balik lebaran. Urbanisasi tersebut sebagian disebabkan faktor pengaruh dari beberapa keluarga, saudara maupun kawan yang sudah bekerja di wilayah Banten, Jakarta, Tangerang, Bandung dan kota besar lainnya di Pulau Jawa.
Salah satu daya pikat kota besar terlihat dari banyaknya pemuda, warga di Pulau Sumatera yang pulang membawa kendaraan bagus, mobil bagus serta gadget bagus lainnya. Saat mudik kepemilikan barang barang tersebut seolah menjadi status sosial dan menjadi semacam keberhasilan saat bekerja di Pulau Jawa. 
Secara tak langsung kepemilikan barang barang serta keberhasilan yang terlihat tersebut membuat beberapa pemuda berniat ikut bekerja di Pulau Jawa dan menjadi kaum urban. Urbanisasi yang tak terhindarkan tersebut terlihat dari banyaknya pemudik yang membawa serta kerabatnya untuk bekerja di sektor informal yang lebh mudah dan tanpa terlalu memerlukan pendidikan tinggi.
Sektor informal yang menarik warga di Sumatera untuk melakukan urbanisasi ke Pulau Jawa diantaranya faktor tak diperlukannya ijazah tinggi, skill yang bisa dilatih serta kedekatan dengan sang pembawa tenaga kerja.
“Saya mengajak keponakan saya untuk bekerja di pabrik pembuatan meubel, awalnya saya dulu juga diajak terus saya mengajak keponakan saya,”ungkap Sarmin (34) warga Lampung Timur kepada media CND Minggu (26/7/2015).
Sarmin yang mengajak serta keponakannya yang baru lulus Sekolah Menengah bernama Usman mengaku mencarikan pekerjaan keponakannya untuk membantu ekonomi keluarga. Sulitnya mendapat pekerjaan di Pulau Sumatera menjadi faktor banyaknya warga yang memilih hijrah ke Pulau Jawa untuk bekerja.
“Daripada menjadi pengangguran dan bahkan justru merepotkan orangtua saya ajak untuk bekerja sekaligus membantu ekonomi keluarga,”ungkap Sarmin.
Secara tersirat momen mudik setiap tahun menjadi momen perpindahan warga dari desa menuju kota terutama dari beberapa daerah di Sumatera ke beberapa daerah di Pulau Jawa. Bermodalkan pendidikan seadanya para pemudik membawa kerabat serta keluarga untuk mengadu nasib di Jakarta serta kota lainnya.
Kepala Cabang PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (PT ASDP) Bakauheni Tommy L Kaunang mengungkapkan melihat data yang ada di angkutan arus mudik terlihat lebih banyak orang yang kembali ke Pulau Jawa dibandingkan saat mudik ke Pulau Sumatera.
Data produksi di lintas Merak – Bakauheni hingga H+7 hari ini, sejumlah 664.374 orang penumpang telah kembali (103%), kendaraan roda dua sebesar 62.204 unit (95%), kendaraan roda empat sebesar 67.813 unit (105%) dan kendaraan roda empat campuran sebesar 75.697 unit (102%) telah kembali ke Pulau Jawa.
“Tidak serta merta yang kembali melakukan urbanisasi namun besaran pemudik yang kembali ke Jawa dari Sumatera juga bisa menjadi indikator adanya urbanisasi yang berasal dari Sumatera ke Jawa”ungkap Tommy.
Keberhasilan para pekerja yang bekerja di sektor informal yang ditunjukkan dengan semakin banyaknya kendaraan pribadi, kendaraan roda dua saat kembali ke kampung halamnnya pun menjadi faktor daya tarik pemuda pemuda atau lulusan sekolah menengah untuk ikut bekerja di Pulau Jawa.
Musim kemarau bahkan yang disebut sebagai musim paceklik membuat kebutuhan ekonomi semakin meningkat bagi warga di Pulau Sumatera menjadikan warga memilih berurbanisasi.
Dari pantauan Cendananews.com tak hanya berangkat menggunakan kendaraan roda dua para kaum urban tersebut pun menjadi penumpang pejalan kaki. Status sosial menjadi salah satu faktor banyak pemuda memilih hijrah ke Pulau Jawa. (Henk Widi)
Lihat juga...