Bambu Masih Dimanfaatkan Warga untuk Penyangga Kebutuhan Air

LAMPUNG — Kemarau panjang yang berdampak kekeringan di beberapa wilayah telah mengakibatkan masyarakat kesulitan air bersih dan untuk pengairan lahan pertanian. Namun bagi sebagian warga masyarakat di Desa Way Kalam Kecamatan Penengahan, kebutuhan akan air bersih tidak sulit dikarenakan sumber mata air yang masih terjaga.
Ketersediaan pasokan air tersebut, menurut salah satu warga yang dituakan di daerah tersebut Abah Mukmin (67) tidak lepas dari faktor masyarakat yang masih menjaga kawasan hutan Gunung Rajabasa. Tanaman-tanaman berukuran besar dan tanaman bambu menjadi penyangga kawasan hutan dan juga penyimpan cadangan air yang masih bisa didapatkan warga saat musim kemarau.
“Beberapa ratus rumpun bambu berbagai jenis, tanaman kayu keras dan pohon pohon lainnya menjaga pasokan air bersih sehingga bisa menyimpan cadangan air,”ungkap Abah Mukmin.
Rumpun bambu yang banyak tumbuh di lereng gunung tersebut selain menahan longsor juga memiliki potensi menyimpan air yang sehingga warga bisa membuat “belik” atau “ceruk” yang digunakan warga menampung air.
Belik atau kolam kecil tersebut selanjutnya dibuat semacam kolam. Sehingga meskipun di daerah lain kesulitan air, warga tetap bisa stabil mendapatkan pasokan air dari belik tersebut.
Pemanfaatan tanaman bambu tersebut sudah dirasakan selama bertahun-tahun. Sekitar tahun 1990-an, kala itu banyak pohon dan rumpun bambu terbakar, namun justru pertumbuhannya makin cepat dan bisa menahan air yang bisa dimanfaatkan warga.
Selain berfungsi sebagai penampung air, rumpun bambu yang ditanam warga pun bernilai ekonomi tinggi, dimana untuk memenuhi permintaan untuk bangunan dan furniture rumah tangga yang kian banyak.
“Banyak bambu yang dibeli untuk bahan pembuatan perabot rumah tangga serta untuk bahan bangunan saat akan melakukan pengecoran, jadi bambu manfaatnya lebih bisa maksimal,”ungkapnya.
Melihat potensi itu banyak warga pemilik kebun di lereng gunung sengaja menanam bambu dengan cara berderet. Oleh warga bambu ditanam  berderet menyerupai   teras pada lereng dan membentuk sabuk gunung sehingga akar bambu akan saling terkait dan mengikat antar rumpun dan bisa menahan longsor serta menjadi penyimpan air pada musim kemarau.
Kemarau akan Berlangsung Panjang di Lampung
Musim kemarau panjang mengakibatkan beberapa ratus lahan pertanian kering dan beberapa petani gagal panen karena puso. Selain itu dampaknya dirasakan warga dengan sulit mendapatkan air dan harus membeli air untuk keperluan air bersih sehari hari.
Kemarau panjang berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan berlangsung hingga bulan November tahun 2015 ini.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Lampung, Sugiono kepada Cendana News menjelaskan, dari pengamatan yang dilakukan, di Lampung terdapat 7 wilayah Kabupaten Kota yang akan mengalami musim kemarau lebih panjang dari wilayah lain, yakni Kabupaten Lampung Timur, Tulang Bawang, Mesuji, Lampung Utara, Pringsewu, Way Kanan dan Kota Metro.
BMKG Provinsi Lampung sendiri memperkirakan puncak musim kemarau di Provinsi Lampung akan berlangsung hingga akhir Oktober mendatang.
Sementara pada awal November nanti Provinsi Lampung akan mengalami msuim pancaroba peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
“Kami prediksi puncak musim kemarau di Lampung sampai bulan Oktober, dan ada 7 wilayah yang harus diwaspadai karena berpotensi mengalami musim kemarau lebih panjang dari wilayah lain,”jelas Sugiono.

JUMAT, 31 Juli 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...