Belasan Pelajar Asal Belanda Belajar Gamelan di Kulon Progo

KULON PROGO — 18 pelajar Dominicus College in Nijmegen Belanda yang sedang menghabiskan waktu sepekan di Wild Rescue Center (WRC) Yogyakarta, menyempatkan diri berkunjung ke Sanggar Karawitan Lestari Budaya di Dusun Cumethuk RT 22 RW 11 Kedungsari, Pengasih, Kulonprogo.
Kedatangan pelajar Belanda tersebut disambut dengan berbagai makanan tradisional dan minuman air kelapa muda yang langsung diambil dari pohonnya. Tidak hanya itu, warga setempat juga unjuk kebolehan dengan gamelan.
Tidak sekadar menjadi penonton, para pelajar ini ikut terlibat memainkan musik gamelan. Bagi sebagian pelajar, ini merupakan kesempatan kali pertama memainkan alat musik gamelan. Namun tidak sedikit pula yang setidaknya pernah mendengar alat musik tersebut.
Meski awalnya tampak begitu kikuk memegang pemukul gamelan, namun setelah mendapat arahan dari pelaku seni gamelan, akhirnya mereka menyelesaikan satu aransemen berupa angka-angka tangga nada pelog.
Salah seorang siswa Dominicus college in Nijmegen, Banken mengaku sangat penasaran dengan musik tradisional gamelan. Remaja yang biasa bermain drum atau alat musik perkusi ini merasakan sensasi berbeda ketika memukul perangkat gamelan yang diantaranya Saron, Bonang, Kenong, atau menabuh Kendhang. 
Banken mengatakan, Dia bersama teman-temannya di Belanda sering bermain drum atau alat musik modern lainnya. Namun, pengalaman bermain gamelan adalah hal luar biasa dan menyenangkan. Apalagi sebelumnya, Banken tidak pernah mengetahui langsung perangkat gamelan. 
Dia pun menyebut kunjungan ke Indonesia sangat berbeda kondisinya dari negara-negara Eropa. Selain dapat belajar budaya dan musik tradisional, sambutan masyarakat Indonesia terutama di lingkungan dusun itu cukup ramah.
Guru di Dominicus College in Nijmegen, Nicole Hamers menganggap bermain gamelan menjadi pengalaman pertama bagi para pelajarnya. Selain ikut berlatih main gamelan, para pelajar sekolahnya juga dapat belajar budaya setempat.
Sementara itu, Pendamping dari WRC Yogyakarta, Rosalia Setiawati mengatakan, 18 pelajar Belanda tersebut datang ke Yogyakarta dan menghabiskan waktu sepekan di WRC.
Ketika pagi mereka menjadi relawan WRC dan membantu proses rehabilitasi satwa, lepas siang mereka belajar budaya Indonesia, termasuk salah satunya di sanggar tersebut.
“Kegiatan pagi termasuk ikut membersihkan kandang dan bertani. Kalau siang seperti sekarang ini main gamelan dan mengajar English di komunitas pemuda di sini. Selain itu juga berwisata sekitar Yogyakarta,” kata Rosalia Setiawati.

JUMAT, 31 Juli 2015
Jurnalis       : Mohammad Natsir
Foto            : Mohammad Natsir
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...