Berbagai Jenis Olahan Lidah Buaya dari Kota Batu

CENDANANEWS (Kota Batu)- Aloe vera atau biasa disebut lidah buaya merupakan salah satu tanaman berduri yang memiliki cukup banyak manfaat bagi kesehatan tubuh manusia seperti menurunkan kolesterol, hipertensi, sembelit, radang tenggorokan, diabetes hingga berfungsi juga sebagai pencegah kangker. 
Banyaknya manfaat lidah buaya tersebut, membuat salah satu warga Kota Batu tertarik untuk mencoba mengolah lidah buaya menjadi berbagai jenis makanan dan minuman sehat.
Mamik Sumarmi
Berawal dari beberapa tanaman lidah buaya yang sengaja di tanam orang tuanya di depan halaman rumah, Mamik Sumarmi (48) pada tahun 2009 mencoba untuk mengolah tanaman tersebut dalam bentuk lidah buaya instant. 
“Usaha untuk mebuat lidah buaya instant tidak langsung berhasil, butuh dua sampai tiga kali percobaan baru bisa menjadi lidah buaya instant seperti yang diinginkan,” jelas Mamik kepada CND di Batu, Senin (6/7/2015).
Setelah berhasil membuat lidah buaya dalam bentuk instant, kemudian banyak warga yang datang untuk minta di ajarkan cara membuatnya. Mamik yang tidak pelit dengan ilmu, mau mengajarkan warga sekitar rumahnya yang berada di Jalan Karate RT 04/RW 12 Kelurahan Ngaglik Kecamatan Batu. Rupanya keahlian Mamik dalam mengolah lidah buaya terdengar hingga ke Dinas Pertanian Kota Batu.
Dinas Pertanian yang mendengar keahlian Mamik tersebut memutuskan untuk memberikan bantuan bibit lidah buaya kepada Mamik Sumarmi namun dengan syarat Mamik harus membentuk kelompok tani. 
Dari situ, kemudian Mamik mencoba memberdayakan 15 orang warga sekitar untuk membentuk kelompok tani yang diberi nama Kelompok Wanita Tani “Sri Rejeki”.
Karena Mamik dan anggota kelompok taninya tidak ada yang memiliki lahan untuk menanam lidah buaya, akhirnya Dinas Pertanian tidak hanya memberikan 500 bibit lidah buaya saja namun juga memberikan bantuan polybag, tanah, dan pupuk agar tanaman lidah buaya dapat di tanam di polybag di rumah-rumah warga. Dengan adanya bantuan tersebut membuat Mamik termotivasi untuk terus berinovasi membuat produk-produk baru dari olahan lidah buaya.
Pada tahun 2010, Mamik mulai mencoba untuk mengolah lidah buaya menjadi sari, nata dan sirup lidah buaya yang kemudian dilanjutkan juga dengan mencoba membuat permen dan stick. 
Saat membuat permen lidah buaya, Mamik sering kali mengalami kegagalan dalam hasil akhirnya dengan membutuhkan waktu dan percobaan berkali-kali kurang lebih sampai sembilan bulan, baru Mamik bisa mendapatkan hasil permen lidah buaya seperti yang dia inginkan.
“Beruntung, setiap kali saya gagal membuat suatu olahan lidah buaya, suami saya terus mendorong saya untuk terus mencoba dan mencoba lagi hingga produk olahannya benar-benar jadi,” ceritanya.
Dari ke 15 orang kelompok taninya tersebut, Mamik membaginya menjadi beberapa kelompok untuk memproduksi olahan lidah buaya yang berbeda-beda. Setelah jadi, kelompok-kelompok tersebut kemudian menyerahkan hasil olahannya kepada Mamik untuk kemudian dipasarkan. 
Untuk pemasaran, selain dititip ke beberapa toko oleh-oleh yang ada di Jawa Timur, dirinya juga dibantu oleh Dinas Perdagangan Kota Batu yang memperkenalkan produknya kepada masyarakat.
Mamik menjual hasil olahan lidah buayanya dengan harga yang bervariasi, untuk permen lidah buaya kemasan 200 gram di jual dengan harga Rp. 12.500,-, lidah buaya instant 500 gram Rp. 30.000,-, stick lidah buaya Rp. 15.000,-, Nata lidah buaya satu dus isi 24 Rp. 20.000,- dan Sari lidah buaya Rp. 18.000,-.
Agar semua bagian lidah buaya terpakai semua dan tidak ada yang terbuang, Mamik juga telah mencoba memproduksi selai dari ampas lidah buaya dan teh dari kulit lidah buaya. Namun untuk teh lidah buaya, Mamik belum memproduksi dalam jumlah banyak.
Disebutkan, tidak semua jenis lidah buaya dapat dijadikan olahan. Mamik sendiri mengaku hanya menggunakan jenis lidah buaya Sinensis yang biasanya memiliki lebar 13 cm dan panjang 30 cm. Dirinya juga dalam membuat olahan tidak pernah menggunakan bahan pengawet dan pemanis buatan, dia hanya menggunakan gula asli, air dan lidah buaya organik. 
Jika persediaan tanaman lidah buaya di para anggota tidak mencukupi, biasanya Mamik membeli lidah buaya dari petani lidah buaya di Desa Tlekung.
“Lidah buaya yang digunakan bukan sembarang lidah buaya, selain jenis lidah buayanya, saya juga harus mengecek apakah lidah buaya yang ada di petani merupakan lidah buaya organik atau tidak. Karena lidah buaya yang saya olah merupakan lidah buaya organik,” tutupnya.
——————————————————-
SENIN, 06 Juli 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...