Dampak Menjamurnya Rumah Kos Harian Bagi Hotel Melati di Kendari


KENDARI — Pesatnya pertumbuhan rumah kos yang merata di seluruh wilayah di kota Kendari merupakan dampak dari pertumbuhan jumlah penduduk khususnya pendatang ke ibukota provinsi Sulawesi Tenggara ini. (Baca berita sebelumnya : Rumah Kos Tersebar Merata di Seluruh Wilayah Kota Kendari
Menjamurnya rumah kos di Kendari, terutama kos dengan sistem pembayaran sewa harian memiliki dampak signifikan bagi perkembangan bisnis hotel kelas melati. Hal ini dibenarkan oleh pemilik sekaligus pengelola Wisma Zahriah, sebuah hotel melati yang berada di Jati Raya Kendari, atau lebih dikenal dengan nama Lorong Jati. Lokasi wisma ini dikepung oleh rumah kos yang sebagian besar menerapkan sistem sewa harian.
“Jumlah kos-kosan di lorong jati semakin banyak, dan di sini wisma ada beberapa, tapi akhirnya sepi karena banyak kos-kosan yang menyewakan kamar bayar harian dengan harga lebih murah” jelas lelaki Sunda yang sudah 8 tahun menetap di Kendari.
Harga murah yang ditawarkan pengelola kos-kosan merupakan salah satu penyebab semakin sepinya hotel melati, karena menurutnyam, keuntungan lain yang didapat oleh penyewa adalah, kalau tinggal di kos-kosan lebih bebas. “Di Wisma Zahria, menerapkan sistem setiap penyewa kamar harus menunjukkan Buku Nikah, sedangkan di kos-kosan kalau sewa harian tidak perlu itu, sudah langsung diterima dan bisa menginap”
Selain masalah kebebasan, lelaki yang hanya berkenan disebutkan dengan nama Aak ini mengatakan, kalau di kos-kosan bebas bawa teman berapa saja, dan bahkan bisa menginap tetapi kalau di hotel ada batas jumlah penghuni setiap kamarnya, dan apabila menambah jumlah penghuni otomatis harus dikenai biaya ekstra bed. 
Ketika Cendana News menanyakan perihal harga yang ditawarkan wisma yang dikelolanya, Aak menjelaskan telah ada kenaikan harga dari 150,000/hari menjadi 165,000/hari. Kenaikan harga dikarenakan biaya operasional yang juga mengalami peningkatan. 
Ditinjau dari lokasi, Wisma Zahriah berada di posisi strategis, dan juga tempatnya nyaman. Selain itu, wisma ini juga membuka usaha warnet berisikan 10 unit komputer dan juga travel agent. “Warnetnya sepi, tidak sesuai antara pendapatan dengan pengeluaran apalagi kalau listrik mulai sering padam, harus ada biaya tambahan beli BBM untuk jenset, kalau travel agent ya berjalan perlahan melayani penjualan tiket pesawat dan rent car (penyewaan mobil)”
Menurut Aak, pendapatan dari Travel Agent cukup menolong untuk kebutuhan operasional karena kalau mengandalkan tingkat hunian kamar yang disewakan sudah semakin sulit “Bisa dilihat kan, tidak ada tamu, hanya satu dua, banyak yang beralih ke kos-kosan harian, karena bayar 75,000/100,000 per hari, sudah bisa menginap di kamar ber-AC” 
Dengan keadaan yang demikian, Cendana News menyampaikan pasti tetap ada nilai lebih dari hotel/wisma dibandingkan rumah kos harian. Menanggapi hal ini, Ia menyampaikan “sebenarnya nilai lebihnya banyak, lebih aman, lebih teratur karena dengan didata KTP-nya, jika ada apa-apa dengan mereka di jalan, cepat teridentifikasi dan mudah mencari keluarganya” 
Di luar masalah terdatanya identitas penyewa kamar, Aak menegaskan nilai lebih yang sangat penting dengan sangat antusias “Wisma pasti punya jenset, jadi kalau pemadaman listrik, kamar tetap terang, tetap bisa nonton tv dan AC tetap berfungsi, sedangkan kos-kosan, sangat sedikit yang menyediakan jenset” 
Sebelum mengakhiri perbincangan dengan Cendana News, Aak menyampaikan, apa yang dialami Wisma Zahriah  juga dialami oleh pemilik hotel melati lainnya, Aak mengetahui tentang hal ini karena secara rutin para pemilik hotel melati melakukan acara untuk saling berdiskusi dan salah satunya membahas mengenai masalah yang dihadapi termasuk mendiskusikan kenaikan harga sewa. 
“Hotel ini milik adik kandung saya, dia selalu ada pertemuan dengan pemilik hotel melati lainnya dan hampir semuanya mengeluhkan hal yang sama, saingan utama kita bukan hotel berbintang tetapi kos-kosan harian”
Keadaan ini semoga tidak semakin memburuk kedepannya karena pertumbuhan rumah kos sangat pesat, jika semua rumah kos menyediakan fasilitas yang sama dengan hotel melati sementara harga sewa hariannya lebih murah, semakin suram nasib hotel melati. (Rabu, 29 Juli 2015. Gani Khair)
Lihat juga...