Debu dari Rutinitas Truk Pengangkut Tanah di Lampung Dikeluhkan Warga

LAMPUNG — Debu yang diakibatkan puluhan truk berukuran besar pengangkut galian tanah penimbun titik nol Jalan Tol Sumatera dikeluhkan oleh warga di sekitar Desa Bakauheni Lampung Selatan Provinsi Lampung.
Salah seorang warga, Herman (40) mengungkapkan, meski penyiraman sudah dilakukan pada waktu tertentu namun musim kemarau yang panjang mengakibatkan debu masih beterbangan di jalan raya.
“Warga di sini dan pengendara kendaraan roda dua berharap diberikan masker untuk mengantisipasi debu beterbangan di jalan yang mengakibatkan sakit di mata dan pernapasan,”ungkap Herman kepada Cendana News, Jumat (31/7/2015).
Tidak hanya pengendara, debu juga merembes hingga kaca kaca cendela, lantai lantai serta pakaian yang dijemur. Disebutkan, pihak kontraktor yang mengerjakan proyek jalan tersebut harus memperhatikan juga lingkungan sekitar, karena Jalinsum jalan umum yang banyak dilintasi masyarakat.
“Perlu diperhatikan juga. Kalau bisa disiramlah. Agar debu-debunya tidak menimbulkan polusi udara. Tak peduli siapa yang punya proyek yang jelas faktanya ini mengganggu warga, baik dari segi kesehatan juga segi keamanan pengguna jalan,”ungkapnya.
Hal yang sama juga dikeluhkan salah seorang warga lain yang tinggal di Desa Siring Itik, Yessi (34). Dia mengaku setiap hari mengantarkan anaknya ke salah satu Sekolah Dasar di Bakauheni dengan kendaraan roda dua, dia mengeluhkan debu yang ditimbulkan akibat lalu lalang truk proyek.
“Setiap hari kami selalu berangkat dan pulang sekolah berpapasan dengan kendaraan truk tersebut dan debunya sangat mengganggu sehingga harus mengenakan masker karena mengganggu pernafasan dan kesehatan mata,”ungkapnya.
Dampaknya selain mengganggu kebersihan pemukiman, warga juga mengeluhkan dampak debu berakibat bagi pernapasan dan kesehatan. Beberapa warga bahkan mengeluhkan terganggunya saluran pernapasan dan didiagnosa menderita ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) saat memeriksakan kesehatan di Puskesmas.
Ia meminta agar pihak pengguna truk melintas pelan-pelan di Jalinsum atau pihak kontraktor melakukan pembersihan tanah yang menempel di jalan supaya tidak menimbulkan debu yang berterbangan serta batu batu kecil yang berserakan di jalan raya. 
Sementara itu humas PT. PP kontraktor yang bertugas melakukan penimbunan lokasi jalan tol, Yusuf SK mengungkapkan, akan segera menindaklanjuti permintaan warga terkait kebutuhan akan masker. 
“Kami akan secepatnya membagikan masker bagi warga sekitar yang tinggal di lokasi yang dilintasi kendaraan sehingga tidak terpapar debu,”ujar Yusuf saat dikonfirmasi.
Dia bahkan berjanji secepatnya, siang ini akan segera membagikan masker bagi pengendara kendaraan roda dua yang melintas.
“Tekhnisnya akan dibagikan bagi warga yang melintas khususnya pengguna kendaraan roda dua warga Bakauheni serta di pemukiman warga yang dilintasi kendaraan truk pengangkut tanah tersebut,”ungkap Yusuf.
Dari pantauan ada sekitar tiga lokasi penggalian yang saat ini digunakan oleh pihak kontraktor pengerjaan jalan tol untuk penimbunan, yakni Way Baka, Siring Itik, Sumampir. Rata rata dalam sehari puluhan bahkan ratusan truk bermuatan tanah melintas dan mengakibatkan debu beterbangan akibat truk pengangkut tidak ditutupi terpal.
Hingga saat ini pengerjaan rencana Jalan Tol Sumatera (JTS) masih terfokus di lahan milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (PT ASDP) Bakauheni. Kesepakatan pembebasan lahan yang belum final mengakibatkan pembangunan tol masih belum mengalami progress yang cukup berarti dan hanya terfokus pada penimbunan di lahan milik PT ASDP yang merupakan titik nol jlan tol tersebut.

JUMAT, 31 Juli 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...