Dua Pria yang Sukses dengan Menggeluti Usaha Sandal

CENDANANEWS (Malang) – Kegigihan dan keuletan serta memiliki sifat pantang menyerah membuat dua pria ini berhasil meraih sukses dalam pembuatan sandal gunung. Berikut kisah mereka
Supriadi Sempat Bangkrut
Supriadi patut di acungi jempol, setelah sempat mengalami kebangkrutan dan vakum selama lima tahun karena uang hasil usaha sandal klompennya di bawa kabur orang, kini Supriadi kembali mendapatkan kesuksesannya dengan berbisnis sandal gunung.
Supriadi (36) terlahir dari keluarga pengrajin sandal, sejak kecil dirinya sudah tidak asing lagi dengan usaha sandal yang memang sudah menjadi pekerjaan orang tuanya. Supriadi memulai kerajinan sandalnya dengan membuat sandal klompen pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2005. Pada tahun 2005 Supriadi mengaku sempat memutuskan untuk menghentikan usahanya karena uang hasil usahanya dibawa lari orang.
Setelah berhenti selama lima tahun, pada tahun 2010 akhirnya Supriadi memulai usahanya kembali. Namun kini dia tidak lagi memproduksi sandal klompen, dia memulai usahanya dengan memproduksi sandal gunung dengan merek “Safiero”.
Dirumahnya yang berada di Jalan Candirawan Dusun Ngujung Desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang, Supriadi dengan dibantu 19 orang karyawannya melakukan semua proses pembuatan sandal gunung Safiero mulai awal sampai dengan siap kirim. Dalam sehari, Supriadi dapat memproduksi 25 kodi sandal gunung dengan berbagai ukuran.
Sandal gunung Safiero dibanderol mulai harga Rp. 20.000,- sampai dengan Rp. 45.000,- per pasangnya tergantung ukuran dengan minimal pembelian lima pasang sandal. Sandal gunung produksinya ini sudah di pasarkan di daerah Jawa Tengah, Lumajang dan Blitar, jelasnya. Selain sandal gunung, dirinya juga menjual sandal japit atau sandal spons dengan harga mulai dari Rp. 6.000,- hingga Rp. 15.000,- per pasang, tutupnya.
Mashuri berangkat dari seorang buruh
Berangkat dari buruh pembuatan sandal klompen selama satu tahun, Mashuri kini justru sukses menjadi juragan sandal klompen dengan puluhan pekerja. Sandal klompen merupakan sandal yang terbuat dari kayu dengan bentuk, model dan motif aksesoris yang bervariatif.
Mashuri (62) sebelum menjadi pengrajin sandal klompen, pernah juga menggeluti usaha pembuatan sandal spon semasa dirinya masih berada di Sidoarjo. Namun usaha sandal klompennya tidak bertahan lama dan mengalami kebangkrutan karena sistem giro blok. Pada tahun 1990, Mashuri akhirnya memutuskan untuk pindah ke Malang. Dari situ kemudian dirinya menjadi buruh pabrik sandal klompen.
“Selama satu tahun saya menjadi buruh pabrik sandal klompen untuk mencari pengalaman dan mempelajari semua proses pembuatan sandal klompen, sebelum akhirnya keluar”, tuturnya.
Pada tahun 1992, mulailah dirinya memproduksi sendiri Sandal Klompen “Capri” dan berhasil menciptakan lapangan kerja bagi 30 orang lebih pekerjanya dengan sistem borongan. Mashuri mengaku, sandal klompen produksinya tersebut terbuat dari kayu Mahoni yang dia dapat dari Perhutani, akunya.
Untuk proses pembuatannya sendiri, kayu mahoni mula-mula di belah dengan ukuran tertentu kemudian dibentuk menjadi klompen. Selanjutnya, klompen yang telah terbentuk kemudian di haluskan dan di cat menggunakan compresor, setelah itu baru dipasang tali, urai Mashuri.
Semua proses tersebut di lakukan dirumah Mashuri yang berada di Jalan Candirawan Dusun Ngujung Desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Dalam satu minggu Mashuri dapat menghasilkan paling sedikit 40 kodi sandal klompen.
Sandal klompen Capri miliknya ini sudah dipasarkan ke Surabaya, Lombok, Makasar dan juga Padang. Bahkan walau hanya berjalan satu tahun, pada tahun 1999 produksi sandal klompennya pernah di pasarkan di Jepang, akunya. Untuk harganya bervariasi berdasarkan ukuran. Harga sandal klompen untuk anak-anak berkisar Rp. 13.000-15.000,-, sedangkan harga sandal klompen untuk dewasa berkisar antara Rp. 20.000,- sampai dengan Rp. 35.000,- per pasang.
Menurut Mashuri, dulu pengrajin sandal klompen di desanya ini cukup banyak, hampir semua warganya berprofesi sebagai pengrajin sandal klompen. Namun seiring dengan berjalannya waktu, setiap tahunnya pengrajin sandal klompen di desa ini terus berkurang hingga sekarang hanya tersisa saya dan juga satu orang tetangga saya yang masih tetap menjadi pengrajin sandal klompen, jelasnya. 
Karena kendala modal yang dibutuhkan untuk membuat sandal klompen ini cukup besar, sehingga kebanyakan dari mereka kini beralih menjadi pengrajin sandal spons. Mashuri kemudian mengibaratkan, jika untuk membuat sandal klompen dibutuhkan modal empat puluh juta Rupiah namun untuk membuat sandal spon hanya memutuhkan modal sepuluh juta Rupiah sehingga tidak heran para pengrajin sandal klompen sekarang beralih menjadi pengrajin sandal gunung.

——————————————————-
KAMIS, 02 Juli 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...