Elim, Tukang Sapu Tua di Masjid YAMP yang Rindu Sosok Soeharto

Elim petugas kebersihan saat membersihkan halaman masjid YAMP Miftahul Jannah dari sampah dedaunan yang beguguran pepohonan yang terdapat di halaman masjid
CENDANANEWS (Lombok) – Meski kondisi pada sebagian bangunan masjid Yayasan Amalbhakti Muslim Pancasila (YAMP) Miftahul Jannah, Leneng Praya, nampak terlihat sudah lapuk dan tua, karena dimakan usia, tapi dari sisi kebersihan masjid, terutama bagian halaman luar masjid yang demikian luas setiap harinya selalu terjaga.
Dibalik kebersihan masjid, ternyata tidak terlepas dari wanita paruh baya yang seharinya secara ikhlas dan sukarela membersihkan halaman masjid dari sampah dedaunan pepohonan yang berguguran di halaman masjid YAMP Miftahul Jannah, Leneng Praya, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) NTB.
Elim (70) tahun, ibu empat orang anak asal Kelurahan Leneng selatan, setiap hari terutama menjelang siang, saat shalat zuhur tiba selalu datang membersihkan halaman masjid dari sampah, aktivitas tersebut dilakoni Elim semenjak masjid YAMP Miftahul Jannah berdiri tahun 1996.
“Sudah sejak dulu diminta ma bapak-bapak tentara yang dulunya jadi marbot di sini setiap hari membersihkan masjid terutama bagian halaman dari sampah, jadi memang saya tau bagaimana masjid ini dibangun pada zaman pak Soeharto” kata Elim di Praya Lombok Tengah, Kamis (2/7/2015).
Elim juga mengaku kalau membersihkan halaman masjid murni dilakukan secara sukarela dan tidak sampai dibayar, meski memang setiap bulan ada diberikan uang kebersihan dua ratus sampai tiga ratus ribu, termasuk juga kalau puasa seperti sekarang, dikasih zakat fitrah.
Pak Soeharto di Mata Elim
Dimata Elim, sosok pak Soeharto merupakan sosok pemimpin paling berkesan dan tetap dikenang sampai sekarang, karena selalu dekat dengan masyarakat kecil dan rajin turun melihat secara lansung bagaimana kondisi masyarakat.
“Pak Soeharto, beliau orang merakyat dan rajin turun ke bawah dan tidak suka membeda-bedakan masyarakat kecil maupun besar, semua diperhatikan dan yang paling saya ingat dari bapak itu, untuk masalah pangan masyarakat tidak pernah susah seperti sekarang,” kenangnya.
Dulu sebelum orde baru di NTB terutama di Lombok kita pernah kelaparan sampai harus makan umbi-umbian dan bagian bawah pohon pisang itu, karena tidak ada beras, karena panen padi selalu gagal.
Sewaktu pak Soeharto jadi presiden, selain diberikan beras kita juga diajari bercocok tanam dan setelah itu, masyarakat di NTB memang tidak pernah kesulitan masalah pangan. Pada zamannya pak Soeharto jadi Presiden, termasuk dari sisi kemanan juga terjamin.
“Tidak seperti sekarang, keamanan kurang terjamin, di mana-mana ada maling, perampokan, petani masyarakat terkadang juga seringkali kesulitan mendapatkan beras, pas dapat beras raskin yang diberikan pemerintah, malah sudah berkutu dan bau, pokoknya susah sekarang ini,”katanya.
Kini diusianya sudah tua renta, dengan pengelihatan yang sudah mulai tidak normal, Elim masih tetap ikhlas dan secara sukarela mengabdikan hidupnya membersihkan masjid YAMP Miftahul Jannah, Leneng Praya.
——————————————————-
KAMIS, 02 Juli 2015
Jurnalis       : Turmuzi
Fotografer : Turmuzi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...