Festival Layang-layang, Wujud Rasa Syukur Rakyat Bali

CENDANANEWS (Denpasar) – Tak terasa dua hari sejak tanggal 4 juli sampai dengan 5 juli 2015 festival layang-layang sudah dilaksanakan dengan sukses. Para kontestan pulang ke desa atau banjarnya masing-masing setelah melakukan bersih-bersih di Pantai Padang Galak Sanur.
Rombongan kontestan yang berasal dari denpasar dan sekitarnya melakukan pawai terakhir dengan rasa syukur karena telah melakukan prosesi menaikkan layang-layang dengan baik. Tercatat sepuluh rombongan terakhir yang meninggalkan Pantai Padang galak pada tanggal 5 juli 2015.
Gede Subita seorang anggota rombongan kontestan asal Banjar Kesiman meluapkan rasa lega dan syukur yang teramat dalam. 
“Syukur kepada Tuhan kami berhasil dalam menaikkan layang-layang milik kami. Tidak ada insiden apapun dari pihak kami selama festival. Bukan kemenangan yang kami cari, akan tetapi yang terutama adalah memanjatkan syukur kami,” jelas Gede kepada CND.
Layang-layang berukuran raksasa diangkut menggunakan truk-truk sewaan kemudian berjalan pelan dipinggir jalan agar tidak mengganggu arus lalu lintas serta tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di jalan raya.
Senada dengan itu, berbekal layang-layang yang menelan biaya pembuatan sebesar dua puluh lima juta rupiah para pemuda Desa Buduk Mengwitani mencoba mengudarakan hasil karyanya sebagai persembahan bagi Dewa Rare Angon.
Wayan Pemimpin Rombongan Desa Buduk, Mengwitani mengatakan, biaya yang mereka keluarkan untuk sebuah layang-layang tidak dapat dibandingkan dengan rasa syukur dan harapan akan berkah dari Rare Angon kepada mereka semua.
“Secara keagamaan Hindu, layang-layang bukan sebuah permainan, tapi merupakan bagian integral dari upacara pengucapan syukur kami kepada Tuhan,” ujar Wayan kepada CND di Padang Galak, Sanur.
Hal senada juga dikatakan oleh Made, penanggungjawab rombongan sekaligus pelinggih adat di desa Buduk, Mengwitani. Ia bahkan tidak memikirkan apakah nantinya akan menang atau tidak dalam festival layang-layang, karena tujuan utamanya bersama rombongan adalah hanya mengirim rasa syukur kepada Tuhan.
“Semoga Dewa Rare Angon melimpahkan berkah dan kebahagiaan bagi kami semua di Mengwitani,” sambung Made singkat.

——————————————————-
SENIN, 06 Juli 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Fotografer : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...