Jelang Idul Fitri, Penukaran Uang di Papua Capai Rp 20 miliar lebih

Suasana Buka Puasa Jurnalis di Kota Jayapura bersama Pejabat Bank Indonesia
CENDANANEWS (Jayapura) – Sejak hari pertama bulan Ramadhan hingga kini, menjelang H-4 Idul Fitri, antusias penukaran uang di Papua melonjak tinggi dengan jumlah total Rp 23,18 miliar. Pecahan Rp 20 ribu kebawah yang paling banyak ditukar.
Joko Supratikno
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provini Papua, Joko Supratikto kepada sejumlah wartawan usai berbuka puasa bersama di kantor Bank Indonesia mengaku, pelayanan penukaran uang kepada masyarakat oleh kantor perwakilan Bank Indonesia melalui kas keliling telah mencapai Rp 14,66 miliar. Selain itu, pihaknya juga melayani penukaran uang kepada kalangan perbankan yang telah mencapai Rp 8,53 miliar.
“Jadi totalnya mencapai Rp 23,18 miliar,” kata Joko, Senin (13/07/2015).
Menurutnya, kantor perwakilan Bank Indonesia provinsi Papua juga melayani bayaran kepada bank-bank di Jayapura juga ke kas titipan di Sorong, Timika, Biak dan Merauke. Jumlah bayaran hari pertama puasa sampai dengan hari ini mencapai Rp 1,48 triliun.
“Dengan demikian, jumlah penukaran dan bayaran telah mencapai Rp 1,51 triliun. Jumlah ini naik 170 persen dari tahun 2014 yang hanya mencapai Rp 558,76 miliar. Tingginya jumlah penukaran dan bayaran mengindikasikan bahwa perputaran uang di Provinsi Papua semakin tinggi,” ujarnya.
Naiknya penukaran dan bayaran tinggi, lanjutnya, stok uang tunai di kantor perwakilan Bank Indonesia provinsi Papua dan Kas titipan masih terjaga aman.
“Stok uang tunai kami saat ini sebesar Rp 1,22 triliun yang terdiri dari berbagai pecahan. Sedangkan stok uang tunai di Kas Titipan sebasar Rp 423,92 miliar,” imbuhnya.
Dikesempatan itu pula, menurut Joko, Bank Indonesia telah menerbitkan Peraturan Bank Indonesia dengan nomor 17/3/PBI/2015 tertanggal 31 Maret 2015, tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah NKRI, guna mendukung tercapainya kestabilan nilai tukar rupiah.
“Yang paling harus dikontrol adalah wilayah perbatasan, seperti di daerah ini, RI-PNG. Karena sudah pasti disana dua mata uang pasti ada, Kina dan Rupiah. Nah, pelanggaran atas peraturan ini dapat dikenakan denda berupa teguran tertulis, denda 1 persen dari nominal transaksi atau larangan untuk ikut dalam lalu lintas pembayaaran,” tuturnya.
——————————————————-
SELASA, 14 Juli 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Fotografer : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...