Kasuari Belum Mampu Beradaptasi di Kebun Binatang Bukittinggi

Burung Kasuari di Kebun Binatang Bukittinggi
CENDANANEWS (Bukittingi/Sumbar) – Akhir Mei kemarin, Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi kedatangan dua jenis satwa penghuni baru. Yakni sepasang Zebra dan dua ekor Burung Kasuari.
Sepasang Zebra itu sudah tampak stabil selama proses pemulihan dan tak ada kendala yang berarti. Namun tidak demikian dengan Kasuari. Kendati sudah hampir satu bulan sejak didatangkan. Kedua ekor kasuari itu belum bisa digabung dalam satu kandang.
“Ternyata kedua Kasuari ini asalnya berbeda kebun binatang, yang satu dari Blitar dan satunya lagi dari Jatim Park,” ujar Kepala TMSBK, Ikbal, Sabtu  (5/7/2015).
Menurut Ikbal, Kasuari ini didapat dari kebun binatang Blitar melalui rekomendasi dari Jatim Park. Akibat ditutupnya perizinan dari kebun binatang Blitar, Jatim Park kecipratan banyak koleksi binatang, salah satunya sepasang Kasuari. Selama proses pemindahan di Jatim Park, salah satu Kasuari itu mati.
Saat diserahkan pada kebun binatang Bukittinggi, pihak Jatim Park mengganti Kasuari yang mati tadi dengan koleksi mereka. Jadinya, kedua Kasuari itu sulit digabung karena tak saling mengenal sejak dini. Bahkan jenis kelaminnya saja tak diketahui.
“Tetap memaksa satwa ini digabung, bisa berbahaya karena besar resiko salah satu satwa akan mati jika mereka berkelahi, walau saat ini kondisi kesehatannya amat baik,” lanjut Ikbal.
Kasuari merupakan satwa endemik asal Indonesia bagian timur dan Australia. Dengan tubuhnya yang mencapai tinggi 170 cm, dan dilengkapi dengan kecepatan lari mengagumkan plus kaki yang besar, Kasuari dianggap sebagai burung paling buas di Bumi. Terjangan kakinya dapat membuat pria dewasa meregang nyawa. Akibat berbahayanya binatang ini, pihak TMSBK memberikan pembatas yang tinggi antara pengunjung dan hewan eksotis ini.
Saat ini kedua Kasuari itu masih dipisah oleh manajemen TMSBK, Ikbal juga mengaku bahwa proses ini akan memakan waktu lama. “Dalam kondisi dewasa seperti ini, sulit menggabungkan keduanya. Bisa saja selamanya tak bisa disatukan,” pungkas Ikbal.
——————————————————-
MINGGU, 05 Juli 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Fotografer : istimewa?
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...