Kawasan PKL Kendari, Layak Dijadikan Contoh Modernisasi Pasar Tradisional

Salah satu pintu samping

CENDANANEWS (Kendari)Banyak berita menyedihkan tentang Pasar Tradisional di beberapa kota di luar Provinsi Sulawesi Tenggara, mulai dari bahan makanan mengandung formalin, beras plastik hingga kebakaran pasar. Seolah pasar tradisional adalah pusat permasalahan. 
Pasar tradisional adalah pusat transaksi dari, oleh dan untuk rakyat yang memang merupakan kebutuhan vital bagi seluruh masyarakat Indonesia di provinsi manapun. Di kota kecil, di luar Ibukota, keberadaan pasar modern tidak lantas menjadikan pasar tradisional menjadi pilihan kedua, demikian juga yang terjadi di Kendari.
Sebagai ibukota provinsi, Kendari adalah kota yang kehidupan pasar tradisionalnya sangat dinamis, jam operasinya pun relatif panjang. Mencari ikan segar, sayur segar dan bahkan ayam potong segar sangat mudah di Kendari karena  sebagian pasar tradisional masih aktif menjual sampai pukul 21.00 WIT, salah satunya adalah Kawasan Pedagang Kaki Lima yang berada di Puwatu. 
Ketika memasuki gedung berwarna biru ini, pengunjung akan melihat “hamparan” pedagang, mulai pedagang sayuran, sembako, perabotan rumah tangga hingga pakaian. Tak adanya tembok pembatas pada masing-masing kios menjadikan ruangan berkesan luas. 
Walaupun tanpa sekat pembatas, tetapi masing-masing kios tertata rapi dan bersih. Tidak ada bau menyengat sayur atau telur busuk. Kebersihan yang terjaga membuat penjual sekaligus pembeli merasa nyaman.
“Yang saya paling suka dari PKL ini lantainya bersih, walaupun hujan deras tidak becek dan tidak ada sampah berserakan di dalam gedung, jadi tidak malas belanja ke pasar” Ujar Ibu Asminah, salah satu pembeli yang tinggal di Ponggolaka. 
Selain rapi dan bersih, Kawasan PKL Kendari juga sejuk walau tanpa pendingin ruangan dan jendela, karena atap gedung dirancang dengan ketinggian yang proporsional dan empat “jendela besar” yang masing-masing memiliki fungsi khusus, ada yang khusus untuk akses mengangkut barang dagangan, ada yang memang sebagai pintu masuk dan keluar bagi pembeli, sehingga tidak akan ditemukan pengangkut barang berdesak-desakan dengan pembeli di pasar ini.
“Walaupun di luar panas terik, tapi di dalam tetap sejuk karena atapnya tinggi dan pintunya lebar. Bisa mengantuk kalau menunggu dagangan siang hari, tak terasa puasanya” jelas Amirullah, pedagang telur ayam kampung. 
Cendana News melanjutkan ke bagian luar gedung. Seolah ingin tetap mempertahankan gaya kaki lima, pedagang makanan jadi dan buah dibiarkan dengan kios-kios kayu sederhana. Tepat di seberang bagian ini, ada tempat khusus untuk menjual ikan dan ayam potong. 
Posisi tempat penjualan ikan dan ayam potong dibuat lebih tinggi dari tempat penjualan buah dan makanan jadi, tetapi tetap dilengkapi dengan saluran pembuangan yang sangat lebar sehingga tidak akan ada sedikit pun kotoran yang akan mengganggu ke tempat lain. Tempat penjualan ikan dan ayam potong pun sangat bersih dan rapi. Seolah pedagang ikan sudah saling bersepakat, barisan ini jualan ikan bolu, barisan lainnya jualan ikan cakalang, barisan lainnya jual udang dan di pintu keluar berjajar pedagang ikan kering. 
Pedagang ayam
“Saya sudah berjualan ayam di beberapa pasar, di sini saya paling senang karena tempatnya bersih dan ada petugas yang rajin mengurus sampah seperti bulu ayam dan sisa-sisa kotoran jadinya gak banyak lalat” terang pedagang ayam asal kota Jember ini. 
Yang tak kalah penting dari pasar tradisional adalah tersedianya tempat parkir yang luas. Sadar bahwa salah satu dampak yang sering ditimbulkan oleh pasar tradisional adalah kemacetan, perancang Kawasan PKL Kendari menyediakan lahan parkir yang sangat luas sehingga truk pengangkut dagangan tidak mengalami kesulitan memarkirkan kendaraannya dan tidak mengganggu kelancaran jalan ketika harus menurunkan barang dagangan.
“Enak bu kalau di sini, karena parkirnya tenang, nurunkan barang juga tenang, tidak diklakson-klakson orang karena macet, kalau tukang angkut lagi kerja, saya bisa ngobrol-ngobrol di pos sambil istirahat” jelas Pak Moko, sopir asal Jawa yang merantau ke Kendari karena program transmigrasi di era Soeharto.
Ide pembangunan Kawasan PKL Kendari ini memang sangat cerdas, karena bangunan dirancang tidak rumit, semua tempat yang disediakan bagi pedagang juga ditata dengan sangat baik, membuktikan bahwa perancang Kawasan PKL ini melakukan analisa terlebih dahulu, ini dibuktikan dalam hal mengantisipasi sampah, aliran air ketika hujan tiba dan kemacetan.
Tak ada bau, becek dan macet di Kawasan PKL Kendari. Sangat layak jika terobosan hebat yang dilakukan Pemkot Kendari ini menjadi pilot project bagi daerah lain dalam mengelola pedagang kaki lima dan pasar tradisional. 
Pintu utama
Penjual makanan jadi

Tempat penjualan ikan dan daging
Lahan parkir

Tempat penjualan sayur
———————————————————–
Rabu, 1 Juli 2015
Penulis : Sari Puspita Ayu
Foto : Sari Puspita Ayu
———————————————————–
Lihat juga...