Kekeringan, Petani Relakan Tanamannya Jadi Pakan Ternak

LAMPUNG — Kekeringan yang melanda sejak beberapa bulan terakhir menyebabkan lahan pertanian di beberapa wilayah Lampung Selatan kekurangan air. Ditambah kondisi pengairan yang tidak memadai dan pompanisasi yang mahal memaksa petani harus merelakan tanaman mereka mati tidak terurus atau dijadikan pakan ternak.
Seperti halnya yang terjadi di wilayah Kecamatan Penengahan, Kecamatan Sragi, Kecamatan Ketapang dan sekitarnya. Akibat kurangnya pengairan puluhan hektar lahan sawah dan sayuran dibiarkan mati kekeringan. Umumnya lahan yang kekurangan air merupakan lahan tadah hujan.
Salah satu petani penanam padi di Penengahan, Rohmanto mengungkapkan, kebutuhan petani akan air selama musim kemarau tidak dapat dipenuhi dengan saluran irigasi kecil yang mulai kering. Meski sebagian lagi menggunakan saluran air dari sungai kecil dengan cara dipompa, namun tidak banyak membantu pertumbuhan tanaman dan beberapa diantaranya justru puso.
Disebutkan, kemarau panjang membuat puluhan hektare tanaman padi terancam gagal panen. Sudah hampir lima bulan lahan pertanian di sejumlah desa tidak terairi. Agar tidak semakin merugi para petani terpaksa memanen lebih dini meski masa panen masih satu bulan lagi.
“Petani terpaksa memanen lebih awal tanaman padinya yang puso,”sebut Rohmanto kepada Cendana News di Lampung, Kamis (30/7/2015).
Disebutkan, upaya petani memompa air dengan mesin diesel juga tidak banyak membantu. Apalagi setiap mengairi sawah membutuhkan biaya besar, seperti menyewa diesel dan membeli 10 liter bensin. 
“Tak kurang dari Rp.500 ribu dikeluarkan untuk mengairi sawah para petani yang kekeringan tersebut,”ungkap Rohmanto.
Ia mengaku membiarkan tanaman padi miliknya mati dan bahkan dipotong oleh pemiliknya dan para pemilik ternak untuk digunakan sebagai pakan ternak akibat tidak kuat mengeluarkan biaya untuk operasional mesin pompa. Rohmanto termasuk salah satu petani yang tidak bisa melihat tanaman padinya tumbuh. 
Petani lain, Sarijo (34) bahkan membiarkan bibit padi miliknya tidak ditanam. Kekeringan membuat lahan sawah seluas 2 hektar miliknya dibiarkan tak ditanami meskipun sudah diolah dengan cara dibajak. Bibit padi yang biasanya umur 25 hari sudah ditanam dibiarkannya meninggi di persemaian hingga umur 40 hari. 
“Sebetulnya sudah dibajak, tapi karena tak ada air saat musim tanam akhirnya tidak jadi, daripada nantinya tidak sempurna pertumbuhannya,”ungkap Sarijo.
Petani lain yang beruntung masih bisa panen pun mengakui hasil panennya menurun. Solikin, petani lain, mengaku hasil panen menurun drastis hingga 50 persen akibat kekeringan. Jika panen sebelumnya bisa menghasilkan 8 hingga 10 ton per hektare, kini hanya 4 sampai 5 ton per hektar. Akibatnya para petani merugi hingga puluhan jutaan rupiah. 

KAMIS, 30 Juli 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...