Kelompok Tani Sidodadi Ubah 40 Hektar Lahan Kritis jadi Produktif

Ketua Kelompok Tani Sidodadi Bingat Sudiyanto [Foto: Muhammad Natsir]
KULON PROGO — Kelompok Tani Sidodadi, Desa Sidomulyo Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo DIY mengubah 40 hektare lahan kritis menjadi lahan produktif. Dari 40 hektar tersebut, 25 hektare lahan kering  jadi kawasan hutan rakyat dan 15 hektare sawah dikelola oleh 42 orang.
“Kami menanami hutan rakyat ini dengan tanaman tegakan seperti pohon jati, sengon laut, mahoni, empon-empon, tanaman buah dan palawija,” kata Ketua Kelompok Tani Sidodadi Bingat Sudiyanto saat memberikan penjelasan pada penilai dari Kementerian Kehutanan di Kulon Progo, Rabu (29/7/2015). 
Bingat Sudiyanto menambahkan, tanaman kering sudah laku dijual. Kemudian, tanaman jangka pendek seperti sayur-sayuran, umbi-umbian, dan Empon-empon sudah ada pihak yang membelinya, sehingga menjadi sumber penghasilan jangka pendek. 
Selain itu, manfaat lain dengan adanya pengembangan hutan rakyat yakni mampu menahan erosi, tanah longsor saat musim penghujan. dan mengantisipasi kekeringan saat musim kemarau. 
       
“Hutan rakyat ini mampu mempertahankan debit sumber mata air. Selain itu, sudah tidak ada lagi tanah longsor dan hasilnya juga memuaskan, kayu besar-besar sudah laku dijual,” kata Bingat Sudiyanto.
Selain itu, dengan adanya berbagai usaha atas pemberdayaan petani oleh pendampingan Penyuluh Kehutanan. Para anggota kelompok tani dapat merasakan peningkatan taraf hidup yang lebih baik secara ekonomi. 
Sehingga secara tidak langsung ada dua keuntungan yaitu, terjaganya alam dan naiknya kualitas hidup anggota kelompok tani Sidodadi ini.  
Penyuluh kehutanan dari KP4K Kulon Progo, Beja mengatakan, dengan pengembangan hutan rakyat ini masyarakat memperoleh manfaat lingkungan menjadi sejuk dan sumber mata air terjaga. Dari hutan tersebut terdapat tiga sumber mata air yang tetap terjaga. 
Disebutkan, sumber mata air Bogahan pada musim penghujan bisa mengairi lahan sawah seluas 15 hektare. Untuk mata air Ngeboran dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga 48 kepala keluarga, sedangkan mata air Intungan dimanfaatkan 17 KK.
“Kemarau seperti ini debit air tetap, hanya sedikit berkurang,” kata Beja.(Mohammad Natsir).


Lihat juga...