Kemarau Panjang, Kabupaten Kulon Progo Terancam Kekeringan

KULON PROGO — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebutkan, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) diprediksi musim kemarau panjang akan terjadi hingga November mendatang dan akan mengakibatkan bencana kekeringan di beberapa daerah di pulau Jawa, salah satunya di Kulon Progo.
Disebutkan, puncak kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus. Meski demikian, pihak BMKG belum menetapkan status siaga darurat kekeringan.
“Kami sampai saat ini belum menyatakkan siaga darurat kekeringan, karena belum ada surat resmi dari BMKG yang menyatakan situasi kekeringan,” kata Kepala BPBD Untung Waluyo di Wates, Senin (27/07/15).
Meski demikian, pihaknya sudah melakukan koordinasi lintas instasi untuk mempersiapkan armada mobil tangki air, sebagai alat droping air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan. 
Pada saat lebaran kemarin, pihak Pemkab telah melakukan droping air bersih di sejumlah kecamatan meliputi Kokap, Girimulyo, Nanggulan dan Sentolo, tetapi hanya untuk memenuhi kebutuhan tempat-tempat ibadah, bukan untuk masyarakat.
“Saat ini baru 10 titik yang telah mengajukan permintaan droping air bersih, kira-kira pada bulan Agustus hingga September permintaan akan banyak,” jelas Untung Waluyo.
Saat ini, lima unit armada siap dioperasionalkan, antara lain 2 unit dari PDAM Tirta Binangun, dan satu unit dari PMI, Dinas Sosial serta BPBD Kulon Progo.
Disamping itu, pihaknya juga meminta enam kecamatan untuk memantau area rawan kekeringan di masing-masing wilayah, yang meliputi Kalibawang, Samigaluh, Kokap, Girimulyo, Nanggulan, serta sebagian Sentolo. 
“Hal itu untuk memudahkan pihaknya melakukan droping air bersih,”sebutnya.
Pada tahun 2014 kemarin ada sekitar 118 titik kekeringan, kemungkinan jumlahnya bisa bertambah pada kemarau tahun ini akibat cuaca yang semakin panas.
“Saat ini belum sampai puncak musim kemarau sudah begini panasnya, kira-kira tiga bulan ke depan akan bertambah panas,”ujarnya.
Salah seorang penduduk dusun Clapar 1,Hargorejo Kokap, Sugiyem mengatakan, untuk mengambil air dirinya bersama warga lainnya harus berjalan lebih kurang satu Kilo Meter.
“Mengambil air sampai 1km ke sumber. Namun bila sampai kemarau panjang ‘kulo mboten ngertos ajeng pripun,” kata Sugiyem menyebutkan saya tidak tahu harus bagaimana.(Mohamad Natsir)


Lihat juga...