Kemarau Panjang, Warga di Bakauheni Terpaksa Beli Air Bersih

Penjual air bersih [Foto: Henk Widi]
CENDANANEWS (Lampung) – Ratusan warga Dusun Siring Itik, Kenyayan Bawah Desa Bakauheni Lampung Selatan mulai mengalami kesulitan air bersih akibat kemarau dalam empat bulan terakhir. Untuk memenuhi kebutuhan, masyarakat terpaksa membeli dari penjual air bersih yang setiap hari berkeliling menggunakan kendaraan roda empat.
Sementara puluhan warga lainnya mengambil dari mata air yang lain yang dibangun dengan sistem bor dan secara swadaya dibuat kolam penampungan untuk keperluan bersama. 
Namun kendala terjadi disaat musim kemarau tiba sehingga debit air menjadi menurun. Terlebih mata air yang debitnya mengecil namun kebutuhan warga akan air tetap.
“Saya setiap tiga hari sekali membeli air bersih dari penjual air untuk keperluan memasak, sementara untuk mandi biasanya kami menimba meskipun jauh dari rumah,”ungkap Suwijo kepada Cendana News, Selasa (28/7/2015).
Kesulitan air bersih tersebut dirasakan warga semenjak sebelum bulan puasa hingga akhir bulan Juli ini. Suwijo mengaku membeli air dalam jumlah satu tower dengan kapasitas sekitar 1000 liter yang diangkut menggunakan mobil dipompa ke bak milik warga.
Air bersih dengan kapasitas 1000 liter tersebut dibeli dengan harga Rp.70 ribu per tower. Air yang dibeli oleh warga biasanya dipompa menggunakan mesin pompa ke rumah warga dan dialiri dengan menggunakan selang air. 
Penjual air bersih yang biasa mengantarkan air bersih ke rumah warga, Sukijo (40) mengungkapkan, setiap hari puluhan warga membeli darinya yang mengambi air bersih dari mata air di Dusun Way Baka.
“Kalau ada yang pesan biasanya langsung menelpon dan akan segera saya kirimkan dengan menggunakan mobil dari rumah di Way Baka,”ungkap Sukijo.
Sukijo mengungkapkan kebutuhan akan air bersih saat ini meningkat seiring dengan musim kemarau yang masih berlangsung. Sebagai penjual air yang sering dipanggil, ia mengakui kemarau menjadi faktor utama warga membeli air untuk keperluan sehari hari.
Harga sebesar Rp.70 ribu untuk air ukuran 1000 liter diakuinya untuk jarak dekat. Sementara untuk beberapa daerah di Bakauheni ia mematok harga di atas R.100ribu per 1000 liter karena menyesuaikan jarak dan biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk kendaraan pengangkut air.
Kesulitan air bersih juga dialami warga di Dusun Kepayang. Warga terpaksa menggunakan fasilitas kamar mandi umum yang dibangun disamping sumur bor milik salah seorang warga. Sumur bor yang dibuat tersebut diperkirakan mencapai kedalaman sekitar 100 meter, namun warga harus membayar iuran bulanan sekitar Rp20ribu.
“Kami kesulitan membuat sumur secara manual sedangkan untuk membuat sumur bor biayanya sangat mahal. Harapan kami pemerintah bisa menyediakan fasilitas air bersih yang bisa gratis bagi kami yang tinggal di perbukitan ini apalagi saat musim kemarau seperti ini,”ujarnya.
Hal sama dialami oleh Sutini, setiap hari ia harus mengajak anak anaknya untuk mengambil air dengan dirigen sekaligus mandi serta mencuci di tempat penampungan air sumur bor yang ada di pinggir jalan Desa Kelawi.
Untuk mendapatkan air bagi keperluan masak, mencuci serta keperluan lainnya Narsih menggunakan fasilitas air bersih milik salah seorang warga lainnya tersebut. Bahkan tak jarang Narsih mengajak anaknya mandi serta mencuci sebelum sore untuk menghindari antrian akibat warga lainnya juga menggunakan fasilitas umum tersebut.
Kontur perbukitan dan tanah padas menurut salah satu warga Solikin (45) menjadi faktor penyebab warga kesulitan mendapatka air bersih. Pembuatan sumur yang sulit serta kondisi musim kemarau yang berkepanjangan membuat warga mengalami kesulitan memperoleh air bersih dan tidak semua warga menjadi pelanggan tetap perusahaan daerah air minum di Bakauheni.(Henk Widi)

Lihat juga...