Kesadaran Masyarakat Terhadap Kasus KDRT di Papua Masih Rendah

Pelatihan Pendamping Anak Penyintas Kekerasan
CENDANANEWS (Jayapura) – Kesadaran Masyarakat terhadap Korban kekerasan pada perempuan dan anak masih sangat rendah di Papua. Seperti di Jayapura, dari 515 kejadian di 2014, hanya 20 kasusnya yang dilanjutkan ke pihak kepolisian.
Fasilitator plus consuler dari Sobat Peduli Jakarta , Bunga K. Kobong, mengatakan, Pihaknya mendapatkan informasi saat berkunjung ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura, terdapat 515 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Yang ditindaklanjuti melapor ke polisi, ternyata sedikit sekali. Menurut rumah sakit, kurang lebih 20-an yang melapor dan ditindak lanjuti polisi, padahal yang dibuat visumnya sebanyak 515 kasus. Artinya kesadaran masyarakat untuk mencari keadilan, itu belum cukup baik,” bebernya saat Pelatihan Pendamping Anak Penyintas Kekerasan beberapa waktu lalu.
Sehingga, pihaknya berikan apresiasi kepada masyarakat yang melapor kejadian tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dan juga, menurutnya pelapor yang juga saksi korban harus dilindungi.
“Saya mendengar langsung dari saksi korban yang harus kehilangan jari tangannya dari pelaku kekerasan yang telah ditangkap, saat pelaku kabur dari penjara, dan mencari pelapor atau saksi korban tuk lakukan tindakan keji itu,” imbuhnya.
Menurutnya, perlindungan saksi korban atau pelapor di Papua harus diperjuangkan Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK). 
“Pembunuhan hak anak masih berjalan panjang sekali, dan semakin meningkat,” katanya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Sub Bidang (Kasubid) Penanganan Kekerasan terhadap Anak dan Masalah Sosial Anak Provinsi Papua, Levina Kalansina Sawaki menyebutkan, peningkatan kejahatan khususnya seksual lebih tinggi.
“Sebagian besar pelaku-pelaku kekerasan ini terjadi dari orang-orang terdekat korban, Semua kabupaten yang ada di Papua ini, kejahatan seksualnya lebih tinggi kepada anak-anak,” kata Levina.
Menurutnya, rumah aman yang diperuntukkan kepada korban kekerasan perempuan dan anak telah dipersiapkan pemprov Papua dan sangat penting. Namun, hingga kini pihaknya belum meresmikan Rumah Aman tersebut lantaran ada halangan lainnya.
Sementara itu, Pusat Jaringan Pelayanan Perempuan dan Anak (Pujaprema), Corryette Hursepunny  mengaku selama ini pihaknya bekerjasama dengan Polri dan Pemberdayaan Perempuan dan dan Anak, termasuk dengan Adat sendiri.
“Di Kabupaten Jayapura saya lihat masih banyak yang ditangani oleh kami, ada kasus yang telah masuk ke meja hijau dan sebagian kasus masih ada di Polres Jayapura,” kata Corry.
Menurutnya, pemicu korban kekerasan rata-rata dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), seperti anak-anak yang suka melawan orang tuanya, membuat kemarahan kedua orang tua anak-anak tersebut, yang berujung pemukulan terhadap anak. 
“Anak-anak jadi sasaran kemarahan orang tua, walaupun hal sepele. Seperti tidak dengar kata orang tua,” ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan Area Manager Cluster Jayapura dan Merauke, Wahana Visi Indonesia (WVI), Radika Puito. Disebutkan, untuk menekan angka kekerasan,  pihaknya melatih para pendamping anak penyintas kekerasan dari NTT, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Dimana, kali ini yang pendamping yang dilatih mewakili dari Kabupaten Jayapura, Merauke, Keerom dan Kota Jayapura.
“Kami dari WVI juga bekerjasama dengan yayasan Sobat Peduli serta lembaga-lembaga yang lain. Untuk memperkuat, bagaimana cara yang tepat mendampingi anak yang menjadi korban kekerasan,” kata Radika.
Isu yang ada saat ini, lanjutnya, tidak ada tenaga psikolog yang cukup banyak untuk anak pada tingkat bawah, di Papua ini hanya satu psikolog anak saja. 
“Masalah ini seperti antri panjang,  kasus-kasus kekerasan terhadap anak di Papua, sudah kami laporkan ke tingkat Nasional,” ujarnya.
Menurutnya, di kota-kota besar masih banyak sekali kasus-kasus kekerasan terhadap anak. Sehingga, kepedulian terhadap anak harus dilakukan secara bersama-sama. 
“Sedangkan jangkauan pelayanan kami belum terjangkau hingga kabupaten-kabupaten lainnya yang ada di Papua, masih lima kabupaten kota saja,” ujarnya.
——————————————————-
SENIN, 06 Juli 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Fotografer : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...