Kisah Sukses Pengrajin Kayu yang Hasilkan Rp.30 Juta Perbulan

MALANG — Berawal dari banyaknya limbah kayu mebel disekitar rumahnya, Hery Budianto (57) memamfaatkannya untuk menjadikan sebuah lahan usaha. Di 1992, niatnya bersambut dengan diajak bekerjasama oleh salah satu pabrik furnitur untuk mengolah limbah kayu agar bisa menjadi sebuah produk yang menarik dan bisa dijual.
“Bentuk kerjasamanya yaitu dengan sistem bagi hasil. Saya yang membuat, tetapi bahan dan alatnya semua dari pabrik furnitur tersebut,” jelasnya kepada CND Rabu (29/7/2015).
Setelah produknya selesai, rupanya respon masyarakat terhadap hasil kerajinan kayunya masih kurang. 
“Ternyata untuk memasarkan hasil karyanya tidak semudah yang saya pikirkan,” ucapnya.
Dari kondisi tersebut, bapak 3 orang anak ini mulai rajin menambah pengalaman dengan mengikuti berbagai pameran yang ditujukan untuk memperkenalkan produknya sekaligus mempelajari kebutuhan dan minat masyarakat. 
Melalui pameran-pameran yang dia ikuti, akhirnya Hery mulai memahami apa yang diinginkan masyarakat dan mulai membuat perabotan rumah seperti nampan, tempat piring, tempat tisu, tempat pensil, meja lipat, tempat minuman dan produk lainnya.
Namun karena jumlah dan ukuran kayu yang terbatas sehingga dirinya hanya bisa membuat kerajinan dalam ukuran kecil dan modelnyapun tidak bervariasi. 
Akhirnya pada tahun 1993 Hery memutuskan untuk tidak lagi bekerjasama dengan pabrik furniture dan mencoba untuk memulai usaha kerajinan kayunya sendiri.
Karena sudah tidak lagi bekerjasama dengan pabrik furnitur, Hery kemudian menjadikan kayu Pinus dari daerah Batu sebagai bahan dasar untuk membuat kerajinan.
Rupanya keputusan dosen Arsitektur Universitas Merdeka ini untuk menggunakan kayu pinus sangat tepat. Tekstur dan warna terang alami dari kayu pinus membuat kerajinan kayu GS4WOODCRAFT berbeda dengan hasil pengrajin lainnya.
“Jarang pengrajin kayu yang menggunakan kayu Pinus sebagai bahan kerajinannya,” jelasnya.
Pada tahun 1994, Hery berinovasi untuk membuat motif buah Strawbery sebagai ciri khas semua produk buatannya. Lagi-lagi keputusan tepat diambil oleh Hery, dengan ciri khas motif strawbery mendapat respon yang bagus dari masyarakat, terutama dari anak-anak muda pecinta strawbery. 
Tidak hanya itu, keputusannya tersebut membuat produknya mulai di lirik oleh Pemerintah Kota Malang maupun Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur untuk di ikutkan pameran di luar kota.
Tahun 1995, Hery mengembangkan dua motif lainnya yaitu motif Bunga Matahari dan Bunga Tulip. Dengan dibantu 6 orang karyawan tetap dan 4 orang pekerja, produknya kini sudah di pasarkan di seluruh daerah di Indonesia, terutama Jakarta.
“Dulu pernah juga produk saya di ekspor ke luar negeri, namun ternyata saya tertipu, pembayarannya hanya di bayar tiga puluh persen dan akhirnya saya harus menjual mobil saya untuk membayar pekerja,” kisahnya. Namun baginya, kejadian tersebut hanya dijadikan sebagai pengalamannya saja.
Laki-laki kelahiran Klaten Jawa Tengah yang pernah mengenyam pendidikan S3 di Johor Malaysia ini mematok harga untuk produk-produknya dengan kisaran harga Rp. 10.000,- sampai dengan Rp. 500.000,- dengan omset perbulannya mencapai 30 juta Rupiah.
Hery yang juga menjabat sebagai ketua Asosiasi Pengrajin Kota Malang mengajak masyarakat dapat menjadikan kerajinan sebagai pekerjaan utama, karena prospek usaha kerajinan sangat bagus dan tidak akan pernah mati. Terbukti ketika terjadi krisis, usaha kerajinan tetap mampu bertahan.
Selain itu, Hery juga mengajak pengrajin untuk ikut dalam Asosiasi, melalui asosiasi ini para pengrajin bisa mendapatkan jaringan yang lebih luas untuk memasarkan produk kerajinan mereka, pungkasnya.(Agus Nurchaliq)


Lihat juga...