LBH Pers Desak POM Proses Hukum Penganiayaan Wartawan

CENDANANEWS (Padang) – Kekerasan terhadap wartawan kembali berulang, dan lagi-lagi dilakukan oleh institusi militer. Tindakan penganiayaan ini dialami oleh Yoga Syahputra Simorangkir, wartawan sebuah televisi swasta.
Ia mengalami pemukulan pada bagian perut dan pahanya ditendang oleh seorang oknum perwira TNI AU. 
Kejadian ini berawal ketika Yoga Syahputra Simorangkir dan beberapa wartawan lainnya mengambil gambar pesawat Hercules yang terbakar dan porak porandanya beberapa gedung pada peristiwa jatuhnya pesawat Hercules C-130 nomor A-1310 di Jl Djamin Ginting, Padang Bulan, Selasa (30/6/2015).
Direktur LBH Pers Padang, Rony Saputra kepada CND menyebutkan, kronologi kejadian bermula saat pengambilan gambar yang dilakukan diluar batas police line, dan salah seorang oknum Perwira TNI AU berinisial MA melarang mengambil gambar. Namun karena diluar police line wartawan tidak menghiraukan larangan, lalu Yoga yang sedang meliput bertanya “Kami kan meliput di luar police line, kenapa Bapak  larang kami?”. 
“Mendengar pertanyaan Yoga tersebut, MA marah dan menendang perut dan paha Yoga, hingga terjadi cek-cok mulut antara awak media dengan MA,” ujar Rony Saputra di Padang, Sabtu (4/7/2015).
Menurut Rony Tindakan MA, tidak dapat ditolelir, karena Yoga Syahputra dan awak media lainnya melakukan peliputan kejadian dan proses peliputanpun dilakukan pada batas aman, yaitu diluar police line. 
Sehingga tidak ada alasan untuk melakukan pelarangan liputan. Selain itu tindakan menendang wartawan jelas merupakan tindak pidana yang harus diproses melalui jalur hukum, apalagi tindakan tersebut dilakukan oleh seorang perwira TNI AU, tentu ini adalah tindakan yang cukup memalukan institusi.
“Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi manusia, terhadap pers tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran, bahkan pemerintah melalui UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers memberikan hak untuk mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi,”katanya. 
Sesuai dengan Pasal 18 ayat (1) UU Pers, bahwa “setiap perbuatan melawan hukum dan dengan sengaja melakukan perbuatan yang berakibat menghambat atau menghalang-halangi pelaksanaan ketentuan pekerjaan jurnalistik dipidana dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500 Juta”. 
“Selain itu, tindakan MA menendang perut dan paha Yoga, juga dapat dikategorikan sebagai tindakan penganiayaan, sebagaimana diatur dalam Pasal 351 KUHP,” jelas Rony.
Sebagaimana diketahui, peristiwa yang serupa juga pernah terjadi di Pekan baru, Didik Herwanto (Fotografer) yang mengambil gambar Pesawat Tempur Hawk 200 yang jatuh dipukul dan dianiaya oleh  oknum perwira TNI AU.
Rony mengingatkan, tindakan emosional dan sewenang-wenang sebagaimana diperlihatkan oleh MA terhadap wartawan yang melakukan tugas-tugas jurnalistik tidak dapat dibiarkan, dan harus diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Untuk itu,LBH Pers Padang mendesak POM AU untuk menggunakan UU Pers dalam penyidikannya.
Pihaknya mendesak POM AU melakukan pemeriksaan dengan segera dan tanpa memberikan hak istimewa terhadap MA yang diduga telah melakukan tindak pidana pengusiran dan penganiayaan terhadap Yoga Syahputa; 
1. Mendesak POM AU untuk tidak saja menggunakan Pasal 351 KUHP untuk menjerat perbuatan MA, tetapi juga menggunakan Pasal 18 ayat (1) UU Pers, sebagai lex specialis atas kasus-kasus pers; 
2. Mendesak Panglima TNI untuk melakukan melakukan pengawasan terhadap proses hukum terkait dengan tindakan sewenang-wenang yang diduga dilakukan oleh MA; 
3. Proses hukum atas kasus pengusiran dan tindakan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh MA harus dilakukan secara terbuka.
——————————————————-
SABTU, 03 Juli 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad?
Fotografer : Muslim Abdul Rahmad?
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...