Lelaki Itu hanya mencintai kehormatanku…

CENDANANEWS (Cerpen) – Aspri tak habis pikir. Otaknya yang cerdas tak bisa menganalisa fenomena ini. Apakah ini salahku? tanyanya dalam hati. Atau apakah karena faktor terlalu turut campurnya keluarga sehingga membuat suasana hidupnya terasa beda dari yang diinginkannya? Atau ada faktor lain diluar keduanya? desisnya dalam hati. Malam makin meninggi. Rembulan seolah enggan memberi sinarnya. Lolongan anjing liar terdengar jauh. Jauh…
Sebagai wanita, Aspri tergolong wanita yang biasa saja. Kecantikan wajahnya masih kalah klas dengan para pesinetron yang akrab dimata pemirsa di televisi. Kecerdasan otak dan keramah tamahannya yang membuat Aspri gampang bergaul dan cepat akrab dengan lingkungan sekitarnya. Rasa humornya pun tinggi. Seolah tiada hari tanpa bahagia. Itu yang membuat daya tariknya sebagai wanita.
Berbekal surat sakti keluarganya yang punya kedudukan tinggi di Kabupaten, Aspri akhirnya bisa bekerja di salah satu Kantor di kabupaten itu. Kendati hanya tamatan SMA, kecerdasan Aspri membuatnya cepat dipercaya kepala Kantornya. Tak pelak hubungannya dengan kepala Kantor yang berstatus duda pun mengornamen lalulintas pekerjaannya sebagai bawahan dan atasan.
Di Kantor tempat Aspri bekerja, isu dan konon kabarnya ada hubungan asmara antara kedua insan berbeda jenis ini bukan rahasia umum lagi. Cerita-cerita tentang hubungan jalinan asmara keduanya seolah-olah menjadi penghias kehidupan Kantor. Walaupun kicauan dari teman-teman kantornya terus bergema, namun aspri belum menganggap Kepala kantornya sebagai teman dekatnya. Hubungan mareka hanya sebatas antara bawahan dan atasan saja. Tak ada yang lain. Itu saja.
” Pak Kakan kan pimpinan kita. Saya sebagai bawahan wajib menghormatinya,” ungkap Aspri saat digoda teman sekantornya.
“Beliau itu duren lho, Aspri. Duda keren,” canda temannya. Dan Aspri hanya tertawa menanggapi guyonan di Kantornya.
Aspri tak menampik soa terpincutnya hati Pak Kakan kepada dirinya. Benih-benih cinta dari Pak Kakan sering didengarnya dari mulut lelaki yang menjadi pimpinan Kantornya saat mareka berbincang di Kantor. Dalam pertemuan di ruangan Pak Kakan beberapa kali pria itu menyatakan suara hatinya. Menyampaikan aspirasi hati dan jiwanya. Menyampaikan keinginannya untuk menyunting dirinya.
” Apakah saya boleh datang ke Dusunmu,” tanya Pak Kakan. Aspri hanya terdiam. ” Apakah kamu tidak bersedia saya lamar,” lanjut Kepala Kantornya. Diotaknya yang cerdas masih terekam dengan baik narasi dari keluarganya tentang perilaku pak Kakan.
” Kamu itu belum tahu siapa sebenarnya Pak Kakan itu, Aspri.” Kamu belum tahu siapa sebenarnya lelaki yang menjadi pimpinan Kantormu itu,” kata keluarganya.  Kami ini sudah puluhan tahun berkumpul dengan dia. Jadi paham betul tentang perilakunya,” sambung Tantenya  yang diiyakan Pamannya.
Tak ada jawaban pasti dari Aspri bukan berarti dirinya tak menyukai lelaki duda itu. Tapi hubungannya dengan seorang lelaki lain yang telah membuat derajat dan martabat hidupnya tereskalasi adalah penyebab dirinya enggan memberi jawaban pasti kepada Kepala Kantornya. Kendati hubungan keduanya tak diketahui publik, namun dari nada dering yang ada di handphonenya tergambarkan soal hubungan asmara itu. Lagu Jadikan Aku yang Kedua dari penyanyi Astrid adalah nada yang bisa para penelpon dengar saat menelpon dirinya.
Dimata Aspri lelaki yang kini membina hubungan gelap dengan dirinya adalah lelaki sejati. Bukan hanya mampu merebut kehormatanya sebagai wanita saja. Bukan hanya mampu membuatnya terkulai sebagai wanita. Dan  bukan hanya mampu menjadikan malam yang indah menjadi malam jahanam bagi dirinya semata, tapi kedermawanan dan kebaikan yang ditebarkan lelaki itu membuat dirinya tak perlu terlalu menjadi parasit di rumah Tantenya.
Kebaikan hati dan jiwa yang ditebarkan lelaki itu telah mengangkat kehidupannya sehingga bisa untuk hidup mandiri tanpa mengharapkan uluran tangan dari keluarganya. Apalagi dirinya masih mempunyai adik yang masih kecil-kecil. Sementara ayahnya hanya seorang pegawai rendahan yang tinggal jauh diseberang.
” Kamu harus jadi wanita mandiri. Jangan tergantung kepada keluargamu. Tunjukan bahwa kamu bisa dan mampu hidup secara mandiri,” ujar lelaki itu saat mareka usai menuntaskan hasrat sahwat sebagai manusia dewasa. 
Dan dimata Aspri hanya lelaki itu yang berani mengutarakan niat baiknya kepada keluarganya di Dusun. Sementara Pak Kakan hanya berwacana saja bak para wakil rakyat tanpa bukti kongret. Itu yang membuat Aspri makin kagum kepada lelaki yang telah membuatnya mengenal cinta dan tampil sebagai wanita dewasa. Padahal Aspri paham  betul resiko terjal yang akan mareka hadapi sangat berliku dan sarat perjuangan atas hubungan asmara hitam mareka sebagai anak manusia yang saling mencintai.
Hidup yang diangankan Aspri bersama lelaki itu hanya impian. Kebahagian yang sedang dirasakan dan dinikmatinya bersama lelaki itu pupus dihantam waktu. Cita-cita untuk bahagia dan membahagiakan hanya mimpi disiang bolong. Kekacauan hidup terjadi saat dirinya didatangi seorang wanita setengah baya  berkulit putih. Dirinya pun luluhlantak. Malu besar. Martabatnya sebagai wanita terhempas. Narasi santun dari wanita itu membuatnya harus menguburkan impiannya hidup bersama lelaki yang telah membuatnya kehilangan harga diri sebagai wanita. Asa yang telah digantungkannya ke langit biru kini harus menjelma menjadi derita. Lara yang tak terampuni.
” Sebagai wanita kita harus bermartabat. jauhi ayah dari anak-anak saya. Masih banyak lelaki di dunia ini,” ucap wanita itu. Aspri pun terkulai. Dunia seakan mau runtuh. Gelora hidupnya memudar. Tak ada lagi gejolak yang menyala-nyala dalam jiwanya untuk menantang hidup yang makin keras ini. Aspri hanya terdiam membisu.
Setali tiga uang dengan lelaki perusak martabat dirinya dan kehidupan masa depannya, Pak Kakan pun kini enggan menoleh dengan dirinya. Lelaki duda itu kini berusaha menjauh. Menjauh. Lelaki itu kini menjaga jarak dengan Aspri. Kewibawaannya sebagai pimpinan Kantor ditunjukannya dihadapan Aspri. Hubungan kerja sebagai bawahan dan atasan pun di kantor pun menjadi hambar. Tak ada lagi sapa dan teguran yang membahagiakan. Semuanya menjadi hampa. Hampa.
” Maaf, ya Mbak. Pak Kakan tidak mau lagi Mbak berhubungan dengannya. Mbak kan tahu sendiri kondisi pribadi Mbak yang sebenarnya,” ungkap teman sekantornya seolah menyampaikan pesan tersembunyi Pak Kakan.
” Apa karena aku tidak terhormat lagi sebagai wanita? Apa karena aku sudah kehilangan martabat ku sebagai seorang wanita,” desak Aspri kepada teman sekantornya.
‘ Iya, Mbak,” jawab teman sekantornya sambil berlalu. Aspri hanya menelan ludah pahit. 
Hidup memang harus dihadapi, sepahit apapun yang telah terjadi. Dan hidup harus dilakoni. Nasehat orangtua dan desakan keluarga besarnya membuat Aspri bersedia menerima lamaran dari seorang lelaki muda untuk menjadi suaminya. Soal apa yang akan terjadi nantinya harus dihadapinya sebagai sebuah konsekwensi dari perjalanan hidupnya. Dan Aspri tak akan menyesali atas apa yang telah terjadi.
Tak menyesali. Dan Aspri siap menghadapi lakon hidup berikutnya dengan episode-episode lain yang akan dialaminya selama tubuhnya masih bernyawa. Catatan hitam yang telah menorehkan tinta merah dalam buku perjalanan hidupnya sebagai manusia di bumi ini adalah bekal hidupnya untuk menghadapi masa mendatang yang main ganas.
Malam makin melarut. Kerlap kerlip bintang dilangit makin bercahaya dan sangat indah. Kunang-kunang terus menari. Tariannya tebarkan warna-warni. Aspri pun terlelap dalam mimpinya menyongsong masa depan. Ya, masa depan untuk anak-anaknya.
——————————————————-
MINGGU, 12 Juli 2015
Jurnalis       : Rusmin Toboali
Fotografer : Rusmin Toboali
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...