Masjid Bingkudu, Peninggalan Sejarah Perang Paderi

Masjid Bingkudu [Foto: Muslim Abdul Rahmad]
AGAM/Sumbar –– Sebuah masjid dengan arsitektur khas Minangkabau di Jorong Bingkudu, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam menjadi saksi bisu dari perang Paderi yang terjadi pada tahun 1803 hingga 1838 Masehi. 
Masjid Bingkudu merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia yang didirikan oleh kaum Padri di tengah kecamuk perang di Sumatera Barat.
Masjid yang terletak pada ketinggian sekitar 1000 meter dpl, dibangun abad ke-18 Masehi. Lokasi yang berada di daerah bersuhu dingin dan ditambah letaknya yang tersembunyi diantara bukit dan pepohonan, menambah keeksotisan masjid ini.
Menurut pengurus, Ustad Arnova Dinata, Masjid didirikan tahun 1813. Namun, sebagian orang menganggap masjid ini lebih tua dari itu.
Bentuk bangunan dari Masjid ini berupa panggung dengan tinggi kolong 1,5 Meter, sedangkan tinggi bangunan sampai puncak mencapai 35 Meter. Atap bangunan berbentuk tatanan atap bertingkat tiga yang dahulunya berbahan ijuk, namun karena kesulitan bahan diganti dengan yang lebih efisien. Sementara itu, pintu masuknya berada di sebelah timur.
Konstruksi bahan bangunan ini, sepenuhnya terbuat dari kayu. Ruang utamanya berbentuk persegi dengan ukuran 21 x 21 meter, tiang utama terletak di tengah ruangan dengan diameter mencapai 40 cm. Ada pula lima buah tiang penyangga pada bagian mihrab masjid ini.
Selain masih digunakan sebagai tempat ibadah, saat ini Masjid Bingkudu juga sudah ditetapkan sebagai salah satu situs cagar budaya. Untuk menjaga keaslian maka sudah beberapa kali diadakan pemugaran. Masjid ini memiliki sistem Pasak, yang berarti pola bangunan tidak menggunakan paku pada setiap sambungan kayu, serupa dengan pola bangunan Rumah Gadang.
Selain penampakan dari luarnya yang mengesankan, interior di dalam Masjid ini pun tergolong menawan. Ruang utamanya dihiasi dengan Lampu gantung kuno yang berfungsi sebagai penerang sekaligus aksesoris. Selain itu, pada bagian depan ruang utama juga terdapat sebuah Mimbar tua yang tertulis tahun pembuatannya yaitu 1316 Hijriah (1906 Masehi) yang konon merupakan hadiah dari ratu Belanda. Mimbar ini, berbentuk huruf L yang dilengkapi dengan tangga naik dan tangga turun terpisah.
Di Masjid ini pun ada sebuah Bedug kuno yang berfungsi sebagai penanda masuknya waktu Shalat. Seperti umumnya Bedug yang terdapat di Sumatera Barat, Bedug atau Tabuah ini terbuat dari pohon kelapa yang berpenutup kulit sapi.
Untuk menuju bangunan bersejarah ini, memerlukan waktu sekitar 20-30 menit dari Bukittinggi dengan jarak sekitar 15 Km. Dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum maupun pribadi.
Di dekat Masjid ini, juga dijumpai sebuah bangunan kecil. Masyarakat menyebutnya Surau Bulek (bulat) yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya akad nikah.
Keberadaan Masjid Bingkudu yang terpisah dari pemukiman warga memang menambah daya tarik tersendiri, sehingga banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah. Masjid ini memang unik, hening dan sakral. Kita tentunya sebagai generasi penerus, hendaknya menjaga keaslian dari Masjid ini.(Muslim Abdul Rahmad)

Saat masih beratapkan ijuk

Surau Bulek

Mimbar


Lihat juga...