Mengintip Suka Duka Sang Nahkoda KMP di Selat Sunda

CENDANANEWS (Lampung) – Rudy Joseph (65) terlihat memeriksa beberapa panel di anjungan Kapal Motor Penumpang (KMP) Windu Karsa Pratama saat sandar di dermaga 1 Pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan. Tombol tombol komunikasi serta alat alat elektronik lainnya diperiksanya. Sebagai seorang nahkoda, Rudy selalu siap siaga memantau aktifitas mualim 1 dan tugas tugas beberapa crew kapal roll on roll off saat melakukan bongkar muat penumpang baik pejalan kaki maupun kendaraan.
Dibantu sang mualim Saprudin, laki laki asal Maluku ini selalu siaga untuk memastikan keselamatan kapal, mulai dari sebelum buang sauh hingga lepas tali. Aktifitas di anjungan kapal tersebut menjadi kegiatan sehari hari yang dilakukan oleh dirinya sebagai nahkoda mengangkut ratusan bahkan ribuan penumpang pejalan kaki dan kendaraan yang diangkut selama arus angkutan lebaran.
Rudy mengaku sudah sekitar 31 tahun menjadi nahkoda kapal di Selat Sunda pada KMP Windu Karsa Pratama. Sebelum menjadi nahkoda kapal ferry, dirinya pernah beberapa puluh tahun menjadi nahkoda kapal tanker lintasan luar negeri.
“Saya awalnya nahkoda kapal tanker, namun sejak saya berkeluarga, keluarga meminta saya menjadi nahkoda, agar lebih dekat dengan keluarga,”ujar Rudy Yoseph saat ditemui di ruang kemudi KMP Windu Karsa Pratama pada arus balik lebaran tahun 2015, Kamis (23/7/2015).
Keputusan untuk memilih menjadi nahkoda kapal penumpang tersebut rupanya disertai konsekuensi yang baginya tak pernah terbayangkan. Sebelumnya ia mengaku masih bisa berkumpul bersama keluarga namun semenjak menjadi nahkoda kapal roro ia harus merelakan waktu untuk terus menerus berada di kapal guna melayani arus mudik dan arus balik.
“Saya kerjakan tugas ini dengan kesadaran untuk melayani ribuan orang yang ingin merayakan lebaran baik di Pulau Jawa serta Pulau Sumatera,”ujar Rudy.
Sebagai pemimpin serta pemegang utama tangungjawab di kapal, ia mengaku membawahi sekitar 50 orang crew kapal mulai dari cleaning service hingga mualim. Selain itu keselamatan kapal selama arus mudik dan arus balik ribuan penumpang kapal berada di pundaknya. 
“Presentase arus mudik dan balik meningkat pesat, sehingga keselamatan kapal menjadi harus lebih ditingkatkan karena trafik di Selat Sunda semakin meningkat,”ujarnya.
Ruby mengaku, sebagai seorang nahkoda ia bahagia bisa menjadi pelayan bagi ribuan pemudik saat arus mudik lebaran yang menjadi agenda tahunan. Kapal ferry yang dinahkodainya memiliki kapasitas sekitar 100 unit kendaraan campuran serta sekitar 600 penumpang baik pejalan kaki maupun kendaraan.
Padatnya arus kendaraan di lintasan Selat Sunda dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni Lampung pada arus lebaran ini menurut Rudy merupakan sebuah beban sekaligus tanggungjawab yang tinggi. Keselamatan pemudik merupakan sebuah tugas baginya dengan nyawa sebagai taruhan nyawanya.
Tanggungjawab keselamatan itulah yang membuatnya harus selalu berkoordinasi dengan pihak Station Trafic Center (STC) Pelabuhan Merak dan Bakauheni, pihak Syahbandar, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Komunikasi melalui chanel 16 dengan pihak pihak terkait tersebut menjadi faktor utama keselamatan kapal terutama saat kondisi cuaca sedang tidak bagus di perairan Selat Sunda.
“Kondisi cuaca selama arus mudik dan arus balik tahun ini kondisinya aman terutama angin serta gelombang sehingga aman bagi pelayaran,”ujar Rudy.
Keputusan pada saat terjadi kejadian kejadian di kapal pun menjadi keputusan yang sangat menentukan tanggungjawab tinggi. Saat saat bersandar di dermaga merupakan saat menentukan untuk keselamatan pelayaran sehingga nahkoda pun tetap harus menigkatkan kehati hatian.
Ia berharap meskipun dirinya tidak bisa merayakan lebaran bersama keluarganya namun ia bahagia bisa mengantarkan ribuan orang untuk merayakan lebaran, liburan bersama keluarga.
——————————————————-
KAMIS, 23 Juli 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...