Musim Kemarau, Petani Manfaatkan Air Gunung untuk Pengairan

Buah Cabai
CENDANANEWS (Kota Batu) – Sudah jarangnya hujan yang turun di beberapa daerah termasuk di Kota Batu menandakan musim kemarau di Indonesia telah tiba. Salah satu dampak dari datangnya musim kemarau adalah terjadinya kekeringan dimana-mana dan petani merupakan salah satu yang paling merasakan dampaknya.
Abah Bakron misalnya, petani cabe besar ini mengaku dirinya kini harus setiap hari menyiram tanaman cabenya agar tidak layu. Dengan menggunakan beberapa kincir atau yang biasa disebut sprinkler, para pekerjanya ini menyiram tanaman dari satu tempat ke tempat yang lain.
Menurutnya, dia dan kebanyakan petani di Desa Ganjaran Kecamatan Bumiaji Kota Batu memanfaatkan sumber air dari Gunung Biru untuk mengairi tanaman budidaya. Karena lokasi gunung yang cukup jauh, Abah Bakron harus rela menghabiskan dana sebesar Tujuh ratus juta Rupiah untuk menyalurkan air dari Gunung Biru ke lahannya dengan menggunakan pipa.
Airnya sendiri sendiri harus di tampung dalam kolam penampungan air yang sengaja dia buat di sekitar lahannya yang mencapai 12 hektar, karena air yang keluar dari gunung tidak tentu kadang banyak kadang sedikit. 
“Namun begitu air yang dia peroleh terkadang juga dia pakai bersama temannya sesama petani,” jelasnya.
Walaupun terkendala dalam ketersediaan air, Namun Abah Bakron bersyukur karena kwalitas dan jumlah hasil panen cabenya justru lebih baik dibandingkan pada musim penghujan. 
“Pada musim penghujan hama yang menyerang lebih banyak sehingga mau tidak mau harus sering di semprot obat kalau tidak ingin tanamannya habis di makan hama,” katanya di kota Batu, Minggu (05/07/2015). 
Di musim kemarau hamanya tidak terlalu banyak sehingga hasil panennya kelihatan mulus-mulus dan harganya lebih bagus.
Abah Bakron mengaku menjual hasil panennya ke tengkulak, terakhir dia menjual cabe besarnya dengan harga Rp. 17.000,- per kilonya. Biasanya nanti menjelang Hari raya, harga cabenya bisa naik. 
“Pengalaman tahun lalu saya bisa menjual hasil panen sampai Rp. 60.000,- per kilonya,” jelasnya.
Dulu biasanya setiap empat hari sekali dia bisa panen sampai empat ton, namun sekarang menurun menjadi sekitar dua ton sekali panen karena bibit yang dia tanam kwalitasnya jelek.

——————————————————-
MINGGU, 05 Juli 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...