Permainan Tradisional Mulai Memudar Ditengah Menjamurnya Gadget

Penjual pesawat mainan, Supiin [Foto: Charolin Pebrianti]
SURABAYA — Menjamurnya permainan moderen atau gadged elektronik mulai menggeser permainan tradisional. Hal tersebut juga berdampak negatif terhadap pengrajin dan pedagang mainan tradisional.
Salah satunya yang mengalami dampaknya, yakni penjual pesawat mainan, Supiin (63 tahun). Warga Tandes Surabaya mengungkapkan penjualannya sedikit turun dari tahun ke tahun.
“Penghasilan saya paling banyak Rp.15 ribu, kalau sepi ya cuma Rp.8 ribu,” ujarnya saat ditemui Cendana News, Kamis (30/7).
Tiap hari pada jam lima pagi, Ia membuka lapaknya di Taman Sulawesi untuk menerima mainan pesawat yang dititipkan kepadanya. Mainan tersebut hingga jam sebelas siang. Mainan yang ia jual berasal dari pengrajin dari Demak.
“Mainan ini saya jual Rp.7.500. Kalau modalnya Rp.6.000 ribu. Jadi per pesawat yang laku saya cuma untung Rp.1.500,”sebutnya.
Per hari ia mampu menjual 10 mainan di Taman Sulawesi tanpa ada hari libur. Ia mengaku melakukan pekerjaan ini karena hanya ini yang bisa ia lakukan. Demi menyambung hidup di hari tua.
“Saya punya istri dan anak-anak yang harus diberi makan. Jadi ya harus bekerja,” Ungkapnya.
Istri dan dua orang anak laki-lakinya bekerja juga dengan berjualan pesawat terbang mainan ini. Hanya saja tempatnya berbeda-beda. Istrinya di Tandes, anak-anaknya di Al Falah dan pak Supiin sendiri di Taman Sulawesi.
Nuril Diah (28 tahun) salah seorang pembeli mengaku senang dengan adanya mainan pesawat ini. Ia bisa mengenalkan permainan tradisional ke putrinya.
“Biasanya kan mainan gadget terus, biar bisa diselingi dengan mainan tradisional,”katanya.(Charolin Pebrianti)

Lihat juga...