Permintaan Meningkat, 1 Kuintal Tape Singkong Habis Terjual Sehari

CENDANANEWS (Lampung) – Bulan Suci Ramadhan menjadi berkat tersendiri bagi Joni Alamsyah (40) yang sehari hari menekuni usaha pembuatan tape singkong. Makanan tradisional yang dibuat dengan cara fermentasi berbahan singkong ini menjadi makanan bagi kalangan masyarakat untuk dimakan langsung atau untuk diolah menjadi bahan makanan lain. Joni mengaku setiap hari berkeliling lebih dari tiga kecamatan untuk menjajakan tape singkong yang dibuat bersama sang isterinya.
Joni yang tinggal di Desa Sukabakti Kecamatan Palas ini mengaku sudah membuat tape singkong dan berjualan singkong sejak tujuh tahun lalu, turun temurun dari sang ayah yang juga memiliki usaha sejenis. Bahan baku singkong yang masih mudah diperoleh membuat usahanya masih tetap bertahan hingga sekarang.
“Awalnya saya malas buat jualan keliling bahkan ketika orantua saya jualan saya malah ngojek, tapi lama kelamaan kebutuhan hidup membuat saya berpikir untuk ikut usaha jualan tape,”ungkap Joni saat ditemui media CND di Jalan Lintas Sumatera Desa Hatta, Sabtu (4/7/2015).
Belajar dari sang ayah cara membuat tape akhirnya ia dan isterinya mulai mandiri dan membuat tape tersebut dari awal hingga proses penjualan. Dalam sekali proses pembuatan Joni yang dibantu sang isteri Rasmi(39) rata rata menghabiskan bahan sekitar 100 kilogram singkong.
“Bahan baku singkong saya beli dari petani yang menanam singkong terutama jenis singkong roti yang lebih empuk dan pulen untuk pembuatan tape,”ungkapnya.
Singkong yang dibeli dari petani dibeli seharga Rp2.500,- perkilogram lalu dioleh dengan cara dibersihkan, direbus hingga matang, didinginkan dan kemudian diberi beberapa gram ragi untuk proses fermentasi.
Proses fermentasi dari bahan singkong rebus hingga menjadi tape yang siap dijual memakan waktu sekitar 2 hari. Bahan pembuatan yang masih bisa diperoleh dari sekitar rumahnya diantaranya daun singkong sebagai pembungkus membuat proses pembuatan tape lebih mudah.
Setelah singkong yang difermentasi menjadi tape, umumnya pembeli akan datang atau sudah memesan jauh hari. Joni mengungkapkan pemesan biasanya pemilik usaha pembuatan minuman es campur, penjual gorengan serta yang lebih istimewa saat bulan suci Ramadhan pembuat minuman berbuka puasa semakin benyak memesan kepada Joni.
“Hari biasa sudah banyak yang pesan namun pada bulan puasa ini justru semakin banyak yang pesan terutama pembuat minuman es campur,”terang laki laki yang memiliki tiga orang anak ini.
Meskipun permintaan naik namun ia mengaku tak menaikkan harga tape singkong buatannya karena ia menuturkan para pembeli biasanya membeli sebagai bahan baku pembuatan minuman. Para pembeli tersebut biasanya membeli dengan harga sekitar Rp2.500,- hingga Rp3.000,- perbungkusnya.
“Sekalian bagi bagi rejeki mas karena mereka kan beli tape untuk dijual lagi sebagai bahan untuk gorengan atau dipakai untuk minuman es campur,”ungkapnya.
Selain dibeli oleh para pemilik warung gorengan, minuman es campur, Joni dan istrinya menjajakan tape singkong tersebit ke beberapa wilayah dengan menggunakan kendaraan roda dua. Dua buah rombong (keranjang bambu) yang ada di kanan dan kiri dibawanya lengkap dengan daun pisang serta plastik untuk wadahnya bagi para pembeli.
Dalam 1 kuintal tape singkong yang dijualnya, sebagian dibeli oleh pemilik warung dan sisanya dijual dengan cara berkeliling ke kampung kampung. Joni mengaku dengan modal sekitar Rp150.000,- dia mendapatkan pemasukan sekitar Rp300.000,- dari tape singkong yang dijualnya.
Dari pantauan CND beberapa orang membeli tape singkong miliknya dengan harga Rp5.000,- perbungkus yang akan dipergunakan untuk menu membuat minuman berbuka puasa.
Bulan Ramadhan ini diakui Joni membawa berkah tersendiri baginya karena dalam sehari, 1 kuintal tape yang dijualnya selalu habis. Demikian juga dengan yang dijual oleh sang isteri. Permintaan yang semakin meningkat menjadikan usaha pembuatan tape singkong yang ditekuninyan berbuah manis semanis rasa tape buatannya.
“Sekalian untuk menambah penghasilan untuk persiapan lebaran mas karena kalau orang kecil seperti saya mah ga dapat THR, ya harus usaha untuk persiapan lebaran,”ungkapnya.
Joni mengaku selain menjual kepada warga, ia mengaku mendapat banyak permintaan dari warung warung yang ada di pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan yang menyediakan minuman berbuka puasa selama bulan ramadhan.
Jarak yang jauh ratusan kilometer dari tempat tinggal tak menghalanginya untuk mengais rejeki dari usaha pembuatan tape singkongnya. Ia mengaku pada hari biasa penjualan tape singkongnya tak selalu habis dan harus dibawa pulang ke rumah, namun kini selalu habis terjual.

——————————————————-
SABTU, 03 Juli 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...